KAPITALISME ANAK DALAM SINETRON
Oleh : Hariqo Wibawa Satria *
Menyikapi banyaknya sinetron yang menjadikan anak maupun remaja sebagai pemain, tentu banyak sisi positif maupun negatifnya, tergantung dan bagaimana sang produser menggunakan
nya. Jika mereka menggunakan analisis perusahaan, pastilah sangat menguntungkan, karena honor anak pemain sinetron bisa ditekan lebih murah ketimbang pemain yang sudah berkeluarga. Walaupun pada kenyataanya anak-anak atau remaja yang menjadi pemain sinetron sudah banyak yang menggunakan manager pribadi.
Memunculkan wajah baru yang belum teruji kualitas aktingnya secara ekonomis juga sangat menguntungkan. Sebab pemain lama yang sudah terkenal tentu bayarannya lebih mahal. Bagi anak yang menjadi pemain sinetron tentu tidak terlalu memusingkan persoalan honor, karena bagi mereka bisa mucul di televisi saja akan melahirkan efek domino yang sungguh menggiurkan seperti populer atau bisa jadi batu loncatan untuk profesi yang lain. Singkatnya yang penting dikenal masyarakat dulu.
Produser lebih mementingkan keuntungan sedangkan anak pemain sinetron juga butuh pengalaman akting, popularitas, dll. Maka ketika dua kutub kepentingan yang saling menguntungkan satu dengan yang lain ini bertemu, bisa dipastikan tidak akan ada konflik didalamnya. Jikalau ada, sangatlah mudah menanggulanginya. Akan sangat jarang seorang anak menolak tawaran main sinetron karena ide cerita tidak realitis, terutama bagi pemula. Bagi mereka materi yang paling berharga bukanlah uang akan tetapi popularitas itu sendiri.
Kapitalisme dalam bentuk apapun dalam berbagai momen selalu saja selangkah lebih maju daripada pengkritiknya. Jika Marx mengatakan buruh harus memperjuangkan haknya, tetapi Marx lupa bahwa buruh dan dan majikan mempunyai kepentingan yang sama, yaitu bagaimana agar perusahaan tidak bangkrut. Demikian juga dengan mereka yang menjadikan anak sebagai pemain sinetron, pastilah tidak hanya melakukan analisis angka-angka sebelum menetapkan sebuah kebijakan, tapi juga mempelajari sosio-kultural anak tersebut.
Masalah yang muncul dan sudah sangat dirasakan adalah masyarakat dikorbankan demi kepentingan bersama antara produser dan anak pemain sinetron. Kepentingan bersama seharusnya merupakan kepentingan segitiga antara Produser, pemain dan masyarakat bukan hanya sekedar bagaimana agar perusahaan tidak bangkrut. Contoh nyata dari hal ini adalah banyaknya sinetron glamour yang dibintangi oleh anak-anak. Hal ini ini tentu bertentangan dengan jutaan anak Indonesia yang masih hidup dalam kubangan kemiskinan.
Terjangan-terjangan kapital ini membuat kabur banyak definisi dalam relasi sosial di negeri ini. Seperti adanya kecenderungan seorang anak dianggap dewasa jika dia sudah mengetahui asiknya pacaran, pesta (party), nyetir mobil, sex, dll, bukan lagi diukur pada pola pikir, apalagi tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa. Hal ini jika diniarkan terus menerus yang merugi tentu golongan mayoritas negeri ini. Sebagaimana Krisis moneter 1997 mayoritas warga negeri ini kelaparan, tapi saat itu ada juga segelintir orang yang bergelimangan harta.
Kapitalisme juga tidak mau tahu tantang ide cerita sinetron ini berkualitas atau tidak, karena observasi yang terlalu serius juga akan menambah biaya produksi. Bagi mereka apapun tema sinetron, terlepas dari berkualitas atau tidak pastilah akan mendapatkan pemirsa fanatik. Karena sebagaimana kita ketahui masyarakat hampir tidak punya pilihan, karena meskipun tidak ada kesepakatan, hampir semua televisi menjadikan sinetron sebagai produk utama
Masalah klasik yang selalu muncul dalam sinetron Indonesia adalah, minimnya ide cerita berkualitas, penggarapan yang asal jadi. Hal ini muncul karena visi tayangan yang hanya berorientasi pada pasar atau kasarnya hanya berorientasi pada keuntungan (capital), walaupun ada sisi social yang dimunculkan hanyalah sebagai pemanis belaka. Hal ini menjadi penting sebagai tameng untuk menghadapi kritik pemirsa. Oleh karenanya Visi menjadi kata kunci disini, jika materi yang menjadi tujuan utama, maka bisa dipastikan sampai kapanpun sinetron indonesia akan menjadi masalah social.
Peran sosial media harus terus kita awasi, masyarakat harus dididik menjadi konsumen aktif yang mampu menyuarakan hak-hak mereka. Pemerintah dalam hal ini harus membuka ruang dialektika yang seluas-luasnya, sehingga apapun kebijakan yang diambil mempunyai landasan yang objektif, hanya dengan cara demikian cita-cita demokrasi bisa diwujudkan. Maka kritikan-kritikan yang mengalir tidak lagi dianggap sebagai wujud antipati, tapi sebagai wujud kepedulian dan kecintaan sebuah kelompok masyarakat terhadap kelompok masyarakat lainnya
Sudah terlalu banyak kritik dari masyarakat tentang Sinetron, akan tetapi mereka yang dikritik seolah menganggap itu semua sebagai dinamika saja, yang tidak wajib dilihat dengan serius. Gerakan kritik masyarakat ini harus diorganisir secara serius dengan langkah-langkah yang lebih radikal, seperti mogok nonton sinetron atau langkah-langkah lainya. Penulis berasumsi manusia Indonesia hanya mampu dirubah dengan cara-cara yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya.
* Hariqo Wibawa Satria
Koordinator AMAN (Aliansi Mahasiswa Anti Neoliberalisme) Yogyakarta
menurut saya seorang menjadi sukses dengan dunia akting di pengaruhi oleh kemudahan okeh jalan kesuksesan misalnya di daerah kami di purbalingga jawa tengah sangat jarang untuk terjun di dunia panggung sandiwara yaitu perfileman adakalanya ke kota seperti saya berafal menonton salah satu stasiun tv saya jadi sangat tertarik ingin menuju ke dunia panggung sandiwara dilain sisi saya sangat optimis bakat yang ada yang saya punyai hanya sebatas impian dan saya mencoba peruntungan di salah satu ph di purwokerto cakra buana ya aq berakting begitu mendalami oleh salah satu ph yang menyuruhku berlagak memainkan peran akankan seorang aq berhasil menuju dunia panggung sandiwara walohuaklam bisowab
Amien subastian /sutarmin
Warga masyarakat Purbalingga dan Lulusan SMA Thn 2006
contac 081327121264
Sinetron sekarang lebih banyak membodohi masyarakat masyarakat yang sudah bodoh, saya bukan orang pinter tapi saya akan piliih -pilih mana sinetron yang layak dan banyak unsur edukasinya dan mana yang hanya membuang-buang waktu,, seharusnya KPI lebih selektif terhadap sinetron-sinetron yang akan tayang, lebih menimbang sinetron yang layak dan tidak layak,.. ya kaaan