Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Gerakan Mahasiswa’ Category

Puisi M.Yamin ‘ 1945

Abadilah Republik Indonesia
Untuk selama-lamanya,
Yang dilindungi tumpah-darah
Benua kepulauan yang indah,
Antara cakrawala langit yang murni Dengan bumi tanah yang sakti.

Di samping teman, di hadapan lawan Negara berdiri ditakdirkan Tuhan, Untuk keselamatan seluruh bangsa
Supaya berbahagia segenap ketika; Berbudi setia, tenaga Merdeka Dengan menjunjung kedaulatan Negara.

Di atas abu negara kedua
Kami membentuk negara ketiga, diiringkan lagu Indonesia Raya; Di bawah kibaran bendera bangsa,
Di sanalah rakyat hidup berlindung, Berjiwa merdeka, tempat bernaung.

Kami bersiap segenap ketika,
Dengan darah, jiwa dan raga,
Membela negara junjungan tinggi Penuh hiasan lukisan hati: Melur-cempaka dari daratan Awan angkasa putih kelihatan Buih gelombang dari lautan.

Hati yang mukmin selalu meminta Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Supaya Negara Republik Indonesia; Kuat dan kokoh selama-lamanya Melindungi rakyat, makmur selamat,

Hidup bersatu di laut-di darat.
Soekarno, Amanat Akhir Hayat :

Anakku,
simpan segala yang kau tahu.
Jangan ceritakan deritaku dan sakitku kepada rakyat, biarkan aku menjadi korban asal indonesia tetap bersatu.

Ini aku lakukan demi kesatuan, persatuan, keutuhan dan kejayaan bangsa. Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian,
bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya.

Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat

dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

- – -

SAJAK GARUDA

SELALU TERDENGAR OLEHKU SUARA, DARI PARUH GARUDA ITU :

kalau kau hisap darah rakyatku,
akan kutagih darah itu

kalau kau ambil tanah mereka,
akan kusengsarakan hari tuamu

kalau kau rebut hak mereka,
akan kubatalkan kebahagiaanmu

kalau kau rampok kenyang mereka,
akan kulaparkan anak cucumu

dan,
kalau kasih Tuhan kepada mereka kau halangi,
mayatmu tak ‘kan kuhormati

KALAU TELINGAKU KELIRU,
pastilah garuda HANYALAH GAMBAR DUNGU

(EMHA AINUN NADJIB – 1993
” DOA MOHON KUTUKAN “
RISALAH GUSTI – 1995 )

Aku Mendengar Suara
Jerit Hewan Yang Terluka
Ada Orang Memanah Rembulan
Ada Anak Burung Terjatuh Dari Sarangnya
Orang-Orang Harus Dibangunkan
Kesaksian Harus Diberikan
Agar Kehidupan Bisa Terjaga
(Rendra, Yogyakarta 1974)

- – -
Zaman Edan
hidup di zaman edan
suasana jadi serba sulit
ikut edan tak tahan
tak ikut tak kebagian
malah dapat kesengsaraan

begitulah kehendak Allah
sebahagia – bahagia orang lupa lebih bahagia orang sadar dan waspada

(RONGGOWARSITO, fragmen bait ketujuh Serat Kalatida)

- – -

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini.
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(Chairil Anwar 1948, Siasat, Th III, No. 96 1949)

- – -

Setiap orang sederajat di hadapan hukum, menghargai hak-hak azasi, menghormati pikiran dan sikap sesama.

mengakui bahwa setiap
orang berhak memberikan saham pada kemajuan, prikemanusiaan nasionnya
dan kalau mungkin pada ummat manusia di semua penjuru dunia.

(Pramoedya Ananta Toer)

- – -

KITA ADALAH
PEMILIK SAH REPUBLIK INI

Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus.

(Taufik Ismail, 1966)

- – -

“MERDEKA ATAOE MATI !”
Bila kemerdekaan itu berwarna merah
putihnya terpahat peluh dan darah
mengintip tiap lorong sejarah
mengalir bagai gemericik air
hingga ke lubuk terpencil
ia bernama sanubari

“MERDEKA ATAOE MATI !” bila kemerdekaan itu terus merekah
rebahkan tanah – tanah merah
bertumbuhanlah
pepohonan kaku bernama
bangunan kokoh berkaca

“MERDEKA ATAOE MATI !” bila kemerdekaan berganti wajah
hingga tumbuh jenuh tumpahkan lelah itu
karena sanubari
tak lagi ikut memekik

pekikkanlah “MERDEKA !”
yang berwarna merah
tapi pekiknya
tak mandi peluh dan darah

AZWINA AZIZ MIRAZA

“SI KANCIL GEMAR MENGUTIL”
( INA MENTARI ANUGRAH PROMINDO – 1996 )
PANJI DI HADAPANKU

Kaukibarkan panji di hadapanku
hijau jernih diampu tongkat mutu-mutiara
di kananku berjalan, mengirin perlahan, ridha-mu
rata, dua sebaya, putih-putih, penuh
melimpah, kasih persih.

Gelap-gelap kami berempat menunggu-nunggu
mendengar-dengar suara sayang, panggilan-panjang, jauh
terjatuh, melayang-layang

Gelap-gelap kami berempat , meminta-minta
memohon-mohon, moga terbuka selimut
kabut. pembungkus halus nokta utama.

Jika nokta terbuka raya
Jika kabut tersingkap semua
cahaya ridha mengilau ke dalam
Nur rindu memancar keluar.
(Amir Hamzah)

Read Full Post »

kursi.jpgCIVITAS AKADEMIKA Yes, CIVITAS POLITIKA No
Oleh : Hariqo Wibawa Satria *

Kampus adalah tempat yang netral, harus bebas dari fanatisme kelompok, partai politik, ormas keagamaan NU, Muhammadiyah, dll. Karena fanatisme kelompok adalah warisan penjajah yang menyebabkan kita tidak pernah menjadi Indonesia, Tulisan ini akan mengulas sedikit tentang perpolitikan dikampus, khususnya pemilihan Rektor.
Rektor sebuah Universitas dipilih oleh Dosen, setelah melalui penjaringan dari suara mahasiswa, namun ada juga yang menggelar pemilihan langsung dengan melibatkan semua mahasiswa. Artinya yang memilih Rektor disini adalah orang-orang terdidik / terpelajar. Sebab itu bisa dituliskan setidaknya ada beberapa perbedaan antara pemilihan Rektor dengan pilkada : 1. Rektor dipilih oleh masyarakat dengan pendidikan minimal SMU 2. Rektor dipilih oleh masyarakat pada usia produktif ( 18 – 50 tahun ) 3. Rektor dipilih oleh masyarakat dengan pendidikan minimal S-1 atau S-2 (hal ini jika tidak menggunakan pemilihan langsung) 4. Rektor dipilih langsung bertempat di kampus yang merupakan wilayah akademik.
Dari paparan singkat diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa pemilihan Rektor lebih elegan dibanding pilkada maupun pilpres,khususnya pada kriteria pemilih. Karena itu pada struktur sosial di masyarakat, seorang Rektor bisa dikatakan setingkat dengan Menteri di negara ini, walaupun secara illegal formal diatas Rektor masih ada menteri pendidikan. Namun menurut penulis posisi Rektor dan menteri pendidikan adalah sejajar. Oleh karenanya sangat tidak benar, jika Rektor sebuah universitas ditentukan Oleh DEPDIKNAS atau DEPAG.
Kasus yang menimpa IAIN Imam Bonjol di Padang, Sumatera-Barat, bisa dijadikan pelajaran, betapa kuatnya intervensi DEPAG saat itu dalam menentukan Rektor. Beberapa kalangan menilai bahwa politik aliran lebih dominan digunakan oleh DEPAG dalam menentukan Rektor sebuah Universitas (khususnya UIN dan IAIN). Inilah salah satu sebab yang melatarbelakangi kenapa gaya berpolitik diluar kampus tidak bisa diterapkan di Kampus. Sebaiknya negara tidak usah ikut campur dalam urusan politik dikampus, apalagi ikut-ikutan menentukan kandidat, bahkan menyiapkan strategi jauh hari sebelum pemilihan Rektor berlangsung.
Kondisi seperti ini harus kita rubah secepatnya, masyarakat kampus juga jangan mau dijadikan objek kepentingan politik global. Kampus harus betul-betul netral dari politik aliran baik NU, Muhammadiyah serta aliran lainnya. Masyarakat kampus juga harus jeli melihat gerakan tersembunyi partai politik didalam kampus. Karena sekali lagi cara berpolitik partai politik sama sekali tidak cocok diterapkan dikampus. Namun sayangnya hal ini masih jauh dari yang kita impikan.
Kita juga harus jujur dalam hal ini, negara tidak bisa selalu dijadikan kambing hitam, partai politik tidak bisa selamanya jadi sentral kebohongan. Masyarakat kampus juga harus melihat kedalam. Seharusnya pemilihan Rektor di Kampus bisa lebih tertib, karena pemilihnya kaum akademisi semua. Kaum akademisi seharusnya lebih rasional, mengedepankan dialog, tidak mudah terprovokasi, mempunyai etika forum, tidak mudah diarahkan untuk suatu kepentingan politik makro.
Hal ini menjadi penting untuk kita cermati karena kampus bisa dijadikan tolak ukur maju atau tidaknya peradaban disuatu negara. Jika kampus tidak santun dalam berpolitik, apalagi masyarakat umum. Jika kampus masih dominan memakai politik aliran, maka jangan harap masyarakat akan membaca tulisan para akademisi tentang politik di media massa. Maka tidak heran jika saya tuliskan disini, bahwa kaum akademisi juga punya andil terhadap bobroknya bangsa ini. Singkatnya pemilihan Rektor dikampus harus murni berdasarkan kemampuan seseorang, bukan lagi jatah-jatahan, “ tahun ini kelompok ini, 4 tahun kedepan kelompok itu “. Jika ini yang dipraktekan maka masyarakat kampus tidak usah banyak bicara soal demokrasi.
Dalam peta politik di negara kita ini, hampir anggota DPR/MPR, DPRD atau pejabat pemerintahan adalah mantan mahasiswa dikampus, bahkan banyak sekali bergelar Doktor, Professor, mereka semua adalah orang-orang dengan latar belakang pendidikan tinggi, tapi kenapa masih ada korupsi ?, kenapa masih ada kasus benturan fisik dalam sidang resmi. Analisis sederhana tentu kita akan melihat politik experince individu para pelaku politik, jika diurut maka akan melahirkan suatu tesis bahwa mereka sudah terbiasa melakukan trik politik seperti dikampus. Hal seperti ini akan menjadi anomali,yaitu kesalahan yang dilakukan berulang-ulang sehingga menjadi sebuah kebenaran.
*Hariqo WS
Ketua Umum HMI Korkom UIN SUKA Yogyakarta 2005 – 2006, Pengelola Perpustakaan Independen Yogyakarta

Read Full Post »

Ajukan Ke Pengadilan HAM International
Oleh : Rico Wibawa Satria *
(Koordinator Aliansi Mahasiswa Anti Neoliberalisme Yogyakarta-AMAN
9 Tahun reformasi, akan tetapi pelaku penembakan terhadap Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie belum juga terungkap. Penguasa/pemerintah tentu tidak mau mengambil resiko untuk menangkap Sniper dalam Tragedi Trisakti, karena akan menimbulkan efek domino yang mengakibatkan terseretnya beberapa nama besar yang merupakan aktor intelektual dibelakang aksi keji tersebut. Asumsi ini diyakini banyak pihak mendekati kebenaranya, apalagi setelah terbunuhnya aktivisnya HAM, Munir SH yang kita ketahui sangat serius mengungkap berbagai kasus kekerasan dan penghilangan orang.
Berbagai aksi demonstrasi yang dilakukan berbagai kalangan ditanggapi pemerintah Gusdur, Megawati, Habibie, SBY dengan dingin. Seiring dengan berjalanya waktu, maka publik juga mulai lupa dengan isu ini, terbukti dengan minimnya massa yang turun pada 12 Mei 2007 (Hari penembakan), maupun pada 21 Mei 2007 (Hari turunnya Soeharto). Akan tetapi tentu tidak demikian dengan ibu dari Elang,Heri,Hendriawan,Hafidin, perjuangan untuk membongkar pelaku penembakan anak-anak mereka akan terus disuarakan, walaupun semakin hari suara mereka kian melemah.
Seperti sama-sama kita ketahui, harapan kasus Tragedi Trisakti dan Semanggi I dan II untuk menggelar pengadilan HAM ad hoc bagi para oknum tragedi berdarah itu dipastikan gagal tercapai. Badan Musyawarah (Bamus) DPR pada 6 Maret 2007 kembali memveto rekomendasi tersebut. Harapan muncul lagi ketika Hakim Agung yang baru mengisaratkan akan kembali membuka kasus ini, tapi masyarakat tentu tidak percaya begitu saja, karena bisa saja pernyataan ini hanya untuk meredam aksi massa dibulan mei ini.
Untuk itu diperlukan penggalangan solidaritas dari berbagai kalangan untuk mendesak pemerintah secara resmi kembali mengumumkan dibukanya kembali pengusutan kasus Trisakti, menurut hemat penulis, setidaknya ada beberapa hal yang yang bisa dilakukan. Pertama, Menggalang solidaritas dari ibu-ibu seluruh Indonesia melalui berbagai agitasi dan propaganda. Seperti kita saksikan perjuangan yang dilakukan oleh ibu-ibu yang anaknya tewasnya dalam tragedy Trisakti tidak direspon oleh ibu-ibu yang lain, belajar dari film Imagining Argentina (kisah penculikan dan pembunuhan aktifis), seharusnya ibu-ibu yang tergabung dalam berbagai organisasi seperti Fatayat NU, Aisyiah-Muhammadiyah juga turut memberikan advokasi dalam kasus ini. Tentu mereka bisa membayangkan bagaimana perasaan Ibu dari Elang cs selama 9 tahun ini.
Kedua, Menginventasir berbagai kasus pemculikan, pembunuhan dan pelanggaran HAM untuk dijadikan satu paket tuntutan. Kurangnya solidaritas dari berbagai daerah untuk mendorong pemerintah membuka kembali kasus trisakti sangat mungkin disebabkan oleh kurang luasnya area isu tersebut. Karena secara tidak langsung Trisakti identik dengan Jakarta, padahal reformasi tidak hanya berlangsung di Jakarta, korban meninggal duniapun juga terjadi di berbagai daerah, seperti di Lampung, Makassar, Solo,Yogyakarta, dll. Hal ini amat penting karena akan lebih efisien dan berdampak luas pada kesadaran kolektif masyarakat.
Ketiga, Memberikan batas waktu kepada pemerintah. Jika sampaikan batas waktu yang ditentukan pemerintah tidak juga menanggapi tuntutan pengadilan bagi pelaku pelanggaran HAM 1998. Maka kasus ini bisa dibawa kepengadilan HAM international, dengan asumsi pemerintah republic Indonesia tidak lagi mampu mencari dalang dibalik berbagai penghilangan dan pembunuhan aktifis 1998. Hal ini cukup logis, mengingat 9 tahun pemerintah belum juga mampu memberikan cahaya dalam kegelapan kasus ini. Logika lainnya, jika untuk mengungkap penyebab kecelakaan pesawat kita mengundang orang asing, kenapa untuk kasus pelanggaran HAM 1998 tidak?,

* Hariqo Wibawa Satria
Koordinator AMAN (Aliansi Mahasiswa Anti Neoliberalisme) Yogyakarta

Nama : Hariqo Wibawa Satria
Asal : Bukittinggi – Sumatera Barat
Alamat : Gedung Amal Insani, Jln RingRoad Utara No 4, Maguwoharjo
Hp : 085263835899
No rekening : 0119575759 BNI Kantor Cabang Yogyakarta

* AMAN merupakan aliansi dari berbaggai organisasi Intra dan Ekstra universitas di Yogyakarta, melakukan aksi massa perdana pada 21 mei 2007 dibunderan UGM. Pelanggaran HAM 1998, merupakan salah satu isu utama yang menjadi tuntutan. Humas sementara adalah saudara Angga dari GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) Cp 081328899049

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.