<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hariqo Wibawa Satria - Rico WS</title>
	<atom:link href="http://ricows.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ricows.wordpress.com</link>
	<description>Hidup Terlalu Singkat untuk Pilihan yang Salah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Jan 2009 17:09:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ricows.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hariqo Wibawa Satria - Rico WS</title>
		<link>http://ricows.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ricows.wordpress.com/osd.xml" title="Hariqo Wibawa Satria - Rico WS" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ricows.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MELUPAKAN MALAM SAAT PAGI DATANG __Untuk pria dan wanita yang selalu merasa kurang__</title>
		<link>http://ricows.wordpress.com/2009/01/20/200/</link>
		<comments>http://ricows.wordpress.com/2009/01/20/200/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 17:06:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hariqows</dc:creator>
				<category><![CDATA[Filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ricows.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[aku belajar bahwa membenci dan menolak sebagian dari diriku sendiri akan sama saja arti dan maknanya dengan mengutuk diriku sendiri, untuk tidak pernah berdamai dengan diriku sendiri……, aku benar-benar belajar untuk dapat menerima diriku seutuhnya, apa adanya secara total dan tanpa syarat………. itulah diriku pada kenyataan yang nyata…….aku terima diriku sebagaimana adanya dia coba balikkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=181&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>aku belajar bahwa membenci dan menolak sebagian dari diriku sendiri akan sama saja arti dan maknanya dengan mengutuk diriku sendiri, untuk tidak pernah berdamai dengan diriku sendiri……, </p>
<p>aku benar-benar belajar untuk dapat menerima diriku seutuhnya, apa adanya secara total dan tanpa syarat……….</p>
<p>itulah diriku pada kenyataan yang nyata…….aku terima diriku sebagaimana adanya dia</p>
<p>coba balikkan punggungmu..dan lihatlah jalan yang engkau tempuh selama ini</p>
<p>(petikan kecil dari makalah panjang cokronagoro, aku dikasih oleh mas haryanto 20/01/09..judul aku buat sendiri)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ricows.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ricows.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ricows.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ricows.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ricows.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ricows.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ricows.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ricows.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ricows.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ricows.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ricows.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ricows.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ricows.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ricows.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=181&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ricows.wordpress.com/2009/01/20/200/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec2d4e749b6e920f14e29f3ec57fae96?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hariqows</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENGGAGAS PENDIDIKAN  TERBAIK BAGI ANAK Gifted</title>
		<link>http://ricows.wordpress.com/2009/01/13/menggagas-pendidikan-terbaik-bagi-anak-gifted/</link>
		<comments>http://ricows.wordpress.com/2009/01/13/menggagas-pendidikan-terbaik-bagi-anak-gifted/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 16:02:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hariqows</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ricows.wordpress.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[untuk lebih mendapatkan solusi yang lebuh terang, YABM bersama PSPN dan Dinas Pendidikan DIY telah melaksanakan Seminar bersama para pakar-pakar untuk merumuskan media belajar bersama bagi anak berbakat khusus (gifted) pada 10 januari 2008 di Auditorium Dinas Pendidikan DIY)<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=179&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><br />
oleh :<br />
Hariqo wibawa satria &#8211; Riqo WS<br />
(Dir. Eksekutif PSPN)</p>
<p></strong><strong>ABSTRAKSI<br />
Anak itu..Patut kau berikan rumah bagi raganya,<br />
namun tidak bagi jiwanya,sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,<br />
yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu (K.Gibran).</strong></p>
<p><strong>Ilmu tentang manusia yang diistilahkan para ahli dengan antropologi terbagi dua. Apabila kita memandang manusia dari segi jasmaniahnya, maka kita akan memasuki lapangan antropologi fisik. Tetapi jika kita memandang dari segi rohaniyahnya, kita memasuki medan antropologi kebudayaan atau dipendekkan dengan antropologi budaya.<br />
Sebagi contoh, mengenai ruh. ”Apa yang kita pahami tentang ruh?”. Sekalipun ilmu pengetahuan telah melonjak tinggi ke ruang angkasa luar dan menghujam kapitala bumi, namun sedikit sekali pengetahuan kita tentang ruh, belum lagi mengenai jiwa. Sebab itulah pengetahuan manusia dibagi dalam tiga hal. Pengetahuan inderawi, pengetahuan ilmu, pengetahuan filsafat.<br />
Oleh karena itu, untuk memahami fenomena Anak Gifted (anak berbakat khusus), pengetahuan inderawi saja tidak cukup untuk memahaminya. Untuk memahami gula saja indera senantiasa berbeda (misal : mata mengatakan gula itu putih, sedangkan lidah mengatakan gula itu manis, lalu mana yang benar, Apakah keduanya benar?, bukankah kebenaran itu hanya satu?).<br />
Maka dibutuhkan pengetahuan ilmu untuk memahami ”Anak Gifted”. Pengetahuan ilmu lahir dari cara berfikir yang sistematis dan radikal, disertai riset dan eksperimen yang memadai. Hasil berfikir dengan metode-metode inilah yang membentuk pengetahuan ilmu. Selanjutnya pengetahuan tersebut dikaji lagi secara lebih dalam, untuk kemudian di sinergiskan dengan ilmu pendidikan, hukum, psikologi, budaya,dll, sehingga melahirkan pengetahuan filsafat. Pengetahuan filsafat inilah yang menjadi menjadi payung ilmiah sebuah tindakan.<br />
Kebanyakan dari masyarakat kita, baru telinga mereka saja yang mendengar istilah ”Anak Gifted”. Tahapan ini disebut pengetahuan inderawi. Sehingga sering terdengar ungkapan ”kalo istilah itu saya pernah dengar, tapi ga tahu maksudnya apa?”. Disinilah peran Negara harus ditunjukan di tengah masih lemahnya budaya membaca di masyarakat apalagi searching informasi di internet. Sebab itu, dibutuhkan sebuah media belajar bersama agar masyarakat memahami tentang anak Gifted. Selanjutkan akan kami jelaskan secara terbatas mengenai beberapa hal tentang anak Gifted.<br />
</strong></p>
<p><strong>SEJARAH DAN PENGERTIAN ANAK GIFTED</strong><br />
(penulis merangkum data dibawah dari berbagai sumber, dan untuk lebih mendapatkan solusi yang lebuh terang, YABM bersama PSPN dan Dinas Pendidikan DIY telah melaksanakan Seminar bersama para pakar-pakar untuk merumuskan media belajar bersama bagi anak berbakat khusus (gifted) pada 10 januari 2008 di Auditorium Dinas Pendidikan DIY)</p>
<p>A<strong>nak gifted diartikan sebagai anak berbakat khusus. Istilah mengenai gifted atau berbakat ini memang sudah sering kita dengar, hanya saja klasifikasi atau kategori dari seorang anak yang dapat dikatakan sebagai anak gifted ini yang perlu kita cermati lebih mendalam.<br />
Di tataran publik istilah gifted pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton pada tahun 1869. Gifted dalam pengertian yang diperkenalkan oleh Galton pada masa itu merujuk pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Titik tekan konsepsi keberbakatan istimewa menurut Galton ada pada berbagai bidang. Ia memberi contoh seperti ahli kimia Madame Curie sebagai gifted chemist (ahli kimia dengan bakat luar biasa atau istimewa).<br />
 	Menurut Galton keberbakatan istimewa ini adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Artinya keberbakatan istimewa adalah sesuatu potensi yang menurun (genetically herediter). Anak-anak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa ini kemudian lazim disebut sebagai gifted children.<br />
Keberbakatan yang berdasarkan sekolah biasanya melihat kemampuan relative.  Anak diidentifikasikan berdasarkan penampilannya membandingkan dengan teman sekelasnya.  Anak dengan ranking 5-10% ditingkat atas memerlukan kurikulum yang lebih menantang dibandingkan dengan kurikulum regular.  Definisi keberbakatan secara ini akan membingungkan orangtua, karena anak yang berbakat, ternyata disekolah lain dinyatakan tidak berbakat.<br />
Hollingworth mendefinisikan keberbakatan sebagai potensi anak yang harus digali sehingga saat dewasa akan lebih berkembang. Linda Silverman menambahkan bahwa pada anak berbakat didapatkan perkembangan yang tidak sinkron.  Jadi tidak hanya IQ dan kemampuan, tapi juga emosi dan hipersensitifitas.<br />
Perkembangan yang tidak sinkron dimaksud adalah perkembangan intelektual, fisik dan emosi tidak berjalan dengan kecepatan yang sama.  Kemampuan intelektual selalu berkembang lebih cepat. Dengan adanya perkembangan yang tidak sinkron ini diperlukan modifikasi dalam hal pengasuhan baik oleh orangtua, guru maupun konselor agar anak dapat berkembang optimal.<br />
</strong><br />
<strong>BATASAN TENTANG ISTILAH<br />
KEBERBAKATAN ISTIMEWA (GIFTEDNESS)</strong></p>
<p><strong>Sampai saat ini tidak ada batasan tunggal yang merepresentasikan arti istilah gifted. Halmana karena memang tidaklah mudah untuk memberi batasan atas suatu fenomena yang kompleks seperti giftedness ini. Orang tua, guru, masyarakat, ahli, dan praktisi (khususnya di bidang psikologi dan pendidikan) pun juga memiliki beragam pemahaman atas apa yang dimaksud dengan keberbakatan istimewa (giftedness). Guna mempermudah pemahaman tentang makna istilah keberbakatan istimewa, berikut diuraikan secara singkat sejarah dan sudut pandang para ahli yang secara khusus melakukan studi dan penelitian tentang keberbakatan istimewa beserta ciri-cirinya</p>
<p>CIRI-CIRI ANAK Gifted</p>
<p>Anak-anak ini memiliki komitmen terhadap tugas yang sangat tinggi, mereka memiliki orientasi dan tanggung jawab yang jelas terhadap tugas yang diberikan. Cara lain yang dapat digunakan orang tua dalam mengidentifikasi anak gifted, yakni saat berusia antara 4 sampai 8 tahun. Selain itu juga terdapat beberapa karakteristik tertentu yang dapat diamati saat anak berada di rumah (Smutny, 1999):</p>
<p>1.	Menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap banyak hal<br />
2.	Memiliki perbendaharaan kata yang banyak dan menggunakan kalimat lengkap saat berkomunikasi<br />
3.	Memiliki sense of humor dan berpikir dengan cerdas<br />
4.	Menyelesaikan masalah dengan cara yang unik atau tidak biasa<br />
5.	Memiliki ingatan yang bagus<br />
6.	Menunjukkan bakat yang menonjol dalam seni, musik atau drama<br />
7.	Menunjukkan imajinasi yang orisinil<br />
8.	Bekerja secara mandiri dan berinisiatif<br />
9.	Memiliki minat dalam membaca<br />
10.	Memiliki perhatian yang menetap atau keinginan yang menetap   dalam tugas yang dikerjakan<br />
11.	Merupakan anak yang dapat belajar dengan cepat. </p>
<p>Sedangkan dari hasil-hasil penelitian yang dilakukannya, Renzulli dkk menarik kesimpulan bahwa yang menentukan keberbakatan seseorang pada hakikatnya adalah tiga kelompok ciri-ciri sebagai berikut :</p>
<p>1.	Kemampuan di atas rata-rata<br />
2.	Kreativitas tinggi<br />
3.	Pengikatan diri atau tanggung jawab terhadap tugas (task commitment)</p>
<p>Keberbakatan itu sendiri sangatlah kompleks, bukan hanya ditentukan oleh Nilai IQ-nya saja, akan tetapi merupakan faktor multidimensi dan dinamis (van Tiel). Carpenter (2001) &amp; Lyth (2003), Membagi anak berbakat atas: (I). Ringan (mild) IQ = 115-129; (II).  Sedang (moderate) IQ = 130-144; (III).  Tinggi (high) IQ = 145-159; (IV).  Kekecualian (exceptional ) IQ = 160-179; (V).  Amat sangat (Profound) IQ = 180 +.<br />
IQ normal berkisar antara 85-115, dengan normal absolute 100.  Makin besar jaraknya dari nilai normal, makin membutuhkan modifikasi sarana pendidikan Terdapat 3 kelompok anak berbakat:</p>
<p>1.	Berbakat global: yaitu anak berbakat pada semua atau hampir semua area; biasanya matematika dan verbal;</p>
<p>2.	Berbakat matematika: anak dengan kemampuan matematika yang tinggi.  Anak ini akan baik dibidang spasial, sebab-sebab nonverbal, daya ingat;</p>
<p>3.	Berbakat verbal: anak dengan kemampuan bahasa yang kuat.  Anak ini mampu berbahasa yang lebih bila dibandingkan dengan anak seusianya.  Penampilan verbalnya lebih baik.  </p>
<p>Umumnya pada anak berbakat, prestasi belajarnya juga tinggi.  Tapi dapat pula ditemukan anak berbakat yang prestasinyanya tidak optimal bahkan sering kali bermasalah.  Prestasi yang kurang ini sering dianggap karena faktor motivasi dan psikologis.  Anak sering dianggap malas dan tidak bersungguh sungguh, dan sering kali orangtua disalahkan karena tidak menerapkan disiplin.  Banyak penelitian menyebutkan, diantara anak berbakat tidak berprestasi karena mengalami kesulitan yang terselubung (Silverman 2002).<br />
Anak berbakat, walau dengan atau tanpa berada dikelas akselerasi, tetapi mempunyai potensi untuk berkembang.  Mereka termotivasi secara internal.  Dengan adanya minat /ketertarikan dan kesempatan, anak akan termotivasi.  Jadi bila anak tertarik akan sesuatu dan terdapat kesempatan atau tantangan yang sesuai, maka dia akan dapat berprestasi (Brody 1997).<br />
Terdapat juga beberapa bakat lainnya, yaitu :Bakat kognitif: sangat memperhatikan; penuh keingin tahuan; sangat tertarik; atensinya panjang, kemampuan untuk mengetahui alasan (reasoning) sangat baik; perkembangan tentang abstraksi, konseptual dan sintemasis baik; dengan mudah dan cepat dapat melihat adanya hubungan antara ide, objek dan fakta; proses berpikirnya cepat dan fleksibel.  Kemampuan untuk menyelesaikan masalah (problem solving) nya sangat baik; belajarnya cepat, dengan sedikit praktek dan pengulangan.<br />
Bakat sosial dan emosional: tertarik dengan hal-hal philosofi dan sosial; sangat sensitive dan emosional; sangat memperhatikan kejujuran dan keadilan; perfeksionis; energic; rasa humornya berkembang baik; umumnya termotivasi dari dalam dirinya sendiri; hubungan baik dengan orangtua, guru dan orang dewasa lain.<br />
Bakat bahasa: perbendaharaan katanya sangat banyak; dapat membaca pada usia sangat dini, membacanya cepat dan sangat luas; sering bertanya tentang “bagaimana kalau”. Bakat yang lain: senang mempelajari sesuatu yang baru; menyenangi aktifitas intelektual; malakukan permainan intelektual; lebih memilih buku bacaan untuk anak yang lebih besar; skeptis, kritis dan penuh evaluative, perkembangannya asinkron (Bainbridge).<br />
Menurut Bainbridge, anak berbakat sudah dapat terlihat sejak masak kanak, dimana anak menunjukan ciri-ciri sebagai berikut:<br />
1.	Pada usia dini tidak nyaman menghadapi hal yang sama (rutin) dengan waktu yang lama;<br />
2.	Sangat siaga (alert);<br />
3.	Tidurnya sedikit;<br />
4.	Tahapan tumbuh kembang untuk berjalan dan mengucapkan satu kata lebih cepat disbanding anak seusia;<br />
5.	Dapat ditemukan keterlambatan bicara, tapi kemudian bicara dengan kalimat penuh;<br />
6.	Mempunyai keinginan kuat untuk eksplorasi, investigasi, lingkungan;<br />
7.	Sangat aktif dan bertujuan;<br />
8.	Dapat membedakan antara fantasi dan realitas.  </p>
<p>DIMANA PERMASALAHANNYA</p>
<p>Kondisi atau keadaan yang dialami oleh anak gifted ini merupakan suatu keadaan yang membanggakan dan diidamkan bagi para orang tua. Namun hanya sebagian kecil orang tua yang mampu memahi potensi tersebut. Dalam banyak kasus justru muncul kendala yang dihadapi oleh anak gifted, yakni berupa permasalahan: </p>
<p>1.	Anak gifted biasanya memiliki problem dalam membina hubungan dengan teman. Karena kecerdasannya yang tinggi dan kemampuan berpikir yang bagus, sehingga tidak jarang teman sebayanya mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan mengimbangi pembicaraan dengan anak ini</p>
<p>2.	Kurang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya, karena mereka cenderung mandiri dan sulit untuk merasa nyaman dengan keadaan yang ada</p>
<p>3.	Mereka memiliki standart yang tinggi terhadap suatu pekerjaan, sehingga terkadang tidak disukai teman-temannya. </p>
<p>Anak berbakat dapat pula mengalami gangguan belajar.  Kelompok ini dibagi atas 3 subgroups yaitu:</p>
<p>1.	Anak telah teridentifikasi sebagai berbakat tapi kesulitan disekolah. Anak ini pencapaiannya dibawah kemampuannya, kadang adanya kesulitan belajar tidak terdiagnosa, sampai sekolah memberikan tambahan stimulus, sehingga kesulitan dibidang akademik terlihat dia berada dibawah kemampuan seusianya;<br />
2.	Anak dengan kesulitan belajar yang berat, sehingga adanya kemampuan bakat tidak pernah dikenali.  Baum 1985 menemukan 33% anak dengan kesulitan belajar mempunyai kemampuan intelektual yang superior.  Anak2 ini tidak pernah mendapatkan program untuk anak berbakat;<br />
3.	Anak dengan kemampuan dan kesulitan belajar yang saling menutupi secara tumpang tindih.  Anak ini berada dikelas regular, dan kemampuannya pada tingkat rata-rata (Brody 1997).</p>
<p>Dari permasalahan sosial yang telah dijelaskan, secara tidak langsung pasti akan berpengaruh terhadap perkembangan emosinya. Anak akan merasa ditolak oleh lingkungannya, sulit bergaul dan kemudian menarik diri, bahkan frustasi dengan keadaan yang mereka alami. Karena ada perbedaan yang cukup jauh antara keadaan di sekeliling dengan kemampuannya yang jauh lebih tinggi dibanding anak lain seusianya.Sementara itu memperjuangkan pendidikan anak-anak dengan kecerdasan istimewa (gifted children) bukanlah hal mudah. Hal ini karena:</p>
<p>1.	Berbagai komponen baik masyarakat, orang tua, dan pihak sekolah masih tidak memahami apa yang disebut anak cerdas istimewa (gifted children).</p>
<p>2.	Pendidikan anak cerdas istimewa (gifted children) saat ini yang dikenal di Indonesia hanyalah kelas akselerasi, padahal sementara itu pendidikan model ini secara ilmiah sudah tidak disarankan lagi, karena terbukti justru tidak memperhatikan faktor kreativitas berpikir serta perkembangan sosial emosional seorang anak cerdas istimewa.</p>
<p>3.	Karakteristik personalitas dan pola tumbuh kembang alamiah seorang anak cerdas istimewa masih tidak dipahami secara luas, sehingga berbagai kesulitan perkembangan seorang anak gifted tidak pernah dikenal oleh pihak-pihak yang seharusnya menyantuninya, terutama pihak sekolah. Sehingga anak-anak cerdas istimewa justru tidak diterima oleh institusi pendidikan karena dianggap sebagai anak bermasalah. Sekalipun itu adalah kelas akselerasi.</p>
<p>4.	Dengan begitu kelas akselerasi pada akhirnya sebagai kelas anak cerdas istimewa tanpa murid cerdas istimewa, umumnya berisi anak cerdas normal yang mempunyai gaya belajar yang cocok dengan program yang ditekankan, yaitu pemampatan materi. Sementara itu anak-anak cerdas istimewa adalah seorang anak yang sangat mandiri, didaktif, kreatif berpikir analisis, tidak dapat ditekan apalagi dilakukan drilling harus cepat-cepet selesai.</p>
<p>5.	Tidak pernah disadari bahwa semakin tinggi kecerdasan seorang anak ia akan mempunyai cara berpikir (cognitive style) yang berbeda dengan anak-anak normal sehingga ia membutuhkan ruang gerak leluasa untuk mengembangkan apa yang menjadi minatnya. Ia membutuhkan pendidikan bersama teman-teman sebayanya dalam kelas-kelas sekolah normal, dengan perhatian ektra ke dua arah yaitu kecerdasannya yang istimewa dan juga berbagai kesulitan tumbuh kembangnya. Bentuk kelas seperti ini yang kemudian disebut sebagai kelas-kelas inklusi. </p>
<p>6.	Semakin tinggi inteligensia seorang anak, minatnya menjadi semakin sempit pada bidang-bidang khusus.</p>
<p>Maka, Identifikasi lebih awal terhadap anak gifted sangat disarankan karena anak-anak ini memerlukan penanganan atau intervensi sedini mungkin, agar tidak menghambat perkembangannya terutama dalam aspek sosial dan emosi. Orangtua diharapkan mengkomunikasikan hal ini dengan guru sekolahnya, atau dapat berkonsultasi langsung dengan para pakar pendidikan atau Psikolog.<br />
Karena secara global pengasuhan dan pendidikan anak-anak masa kini cenderung semakin rumit, menuntut guru semakin professional dan menuntut orang tua untuk semakin turut berperan serta. Bukan itu saja, adanya pemeriksaan tumbuh kembang yang semakin teliti, menjadikan munculnya banyak kelompok anak-anak dengan keunikannya masing-masing yang kemudian disebut sebagai anak berkebutuhan khusus, termasuk di dalamnya adalah anak berbakat (gifted children) yang mengalami masalah perkembangan atau disinkronitas perkembangan (yang kami beri istilah Gifted Disinkroni), misalnya mengalami<br />
keterlambatan bicara, masalah sosial emosional, dan sebagainya.<br />
Konsep gifted kini juga semakin berubah dari single konsep bahwa gifted adalah perkembangan kognitif semata, menjadi konsep multidimensional dan dinamis, karena menyangkut bukan hanya perkembangan kognitif saja tetapi juga karakteristik personalitasnya, tumbuh kembangnya, dan lingkungannya. Karena itu kini semakin diketahui bahwa ternyata anak-anak gifted ini memiliki berbagai masalah dalam kehidupannya, yang belum banyak kita kenal. Tak heran jika kini banyak anak-anak gifted balita mendapatkan kekeliruan diagnosa seperti autisme atau ADHD, maupun gangguan belajar (learning disabilities).<br />
Situasi ini mendorong orang tua, guru, dan berbagai profesi lainnya (orthopedagog, psikolog, dokter) untuk lebih mempelajari berbagai bentuk ini serta strategi pendekatannya. Orang tua dituntut dalam rangka pengasuhannya di rumah dan membantu pendidikannya di sekolah,guru dituntut memberikan metoda pengajaran yang cocok, pihak profesi lainnya dituntut memberikan arahan bimbingan dan saran, serta pengambil keputusan dan pemegang kebijaksaan pendidikan di tingkat pemerintahan pun dituntut untuk senantiasa memperbaharui strategi pendidikan nasional</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ricows.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ricows.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ricows.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ricows.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ricows.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ricows.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ricows.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ricows.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ricows.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ricows.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ricows.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ricows.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ricows.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ricows.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=179&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ricows.wordpress.com/2009/01/13/menggagas-pendidikan-terbaik-bagi-anak-gifted/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec2d4e749b6e920f14e29f3ec57fae96?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hariqows</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PUISI CINTA INDONESIA</title>
		<link>http://ricows.wordpress.com/2008/12/15/puisi-cinta-indonesia/</link>
		<comments>http://ricows.wordpress.com/2008/12/15/puisi-cinta-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 11:45:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hariqows</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gerakan Mahasiswa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ricows.wordpress.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Puisi M.Yamin ‘ 1945 Abadilah Republik Indonesia Untuk selama-lamanya, Yang dilindungi tumpah-darah Benua kepulauan yang indah, Antara cakrawala langit yang murni Dengan bumi tanah yang sakti. Di samping teman, di hadapan lawan Negara berdiri ditakdirkan Tuhan, Untuk keselamatan seluruh bangsa Supaya berbahagia segenap ketika; Berbudi setia, tenaga Merdeka Dengan menjunjung kedaulatan Negara. Di atas abu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=170&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Puisi M.Yamin ‘ 1945</p>
<p>Abadilah Republik Indonesia<br />
Untuk selama-lamanya,<br />
Yang dilindungi tumpah-darah<br />
Benua kepulauan yang indah,<br />
Antara cakrawala langit yang murni Dengan bumi tanah yang sakti.</p>
<p>Di samping teman, di hadapan lawan Negara berdiri ditakdirkan Tuhan, Untuk keselamatan seluruh bangsa<br />
Supaya berbahagia segenap ketika; Berbudi setia, tenaga Merdeka Dengan menjunjung kedaulatan Negara.</p>
<p>Di atas abu negara kedua<br />
Kami membentuk negara ketiga, diiringkan lagu Indonesia Raya; Di bawah kibaran bendera bangsa,<br />
Di sanalah rakyat hidup berlindung, Berjiwa merdeka, tempat bernaung.</p>
<p>Kami bersiap segenap ketika,<br />
Dengan darah, jiwa dan raga,<br />
Membela negara junjungan tinggi Penuh hiasan lukisan hati: Melur-cempaka dari daratan Awan angkasa putih kelihatan Buih gelombang dari lautan.</p>
<p>Hati yang mukmin selalu meminta Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Supaya Negara Republik Indonesia; Kuat dan kokoh selama-lamanya Melindungi rakyat, makmur selamat,</p>
<p>Hidup bersatu di laut-di darat.<br />
Soekarno, Amanat Akhir Hayat :</p>
<p>Anakku,<br />
simpan segala yang kau tahu.<br />
Jangan ceritakan deritaku dan sakitku kepada rakyat, biarkan aku menjadi korban asal indonesia tetap bersatu.</p>
<p>Ini aku lakukan demi kesatuan, persatuan, keutuhan dan kejayaan bangsa. Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian,<br />
bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya.</p>
<p>Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat</p>
<p>dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>- &#8211; -</p>
<p>SAJAK GARUDA</p>
<p>SELALU TERDENGAR OLEHKU SUARA, DARI PARUH GARUDA ITU :</p>
<p>kalau kau hisap darah rakyatku,<br />
akan kutagih darah itu</p>
<p>kalau kau ambil tanah mereka,<br />
akan kusengsarakan hari tuamu</p>
<p>kalau kau rebut hak mereka,<br />
akan kubatalkan kebahagiaanmu</p>
<p>kalau kau rampok kenyang mereka,<br />
akan kulaparkan anak cucumu</p>
<p>dan,<br />
kalau kasih Tuhan kepada mereka kau halangi,<br />
mayatmu tak &#8216;kan kuhormati</p>
<p>KALAU TELINGAKU KELIRU,<br />
pastilah garuda HANYALAH GAMBAR DUNGU</p>
<p>(EMHA AINUN NADJIB &#8211; 1993<br />
&#8221; DOA MOHON KUTUKAN &#8220;<br />
RISALAH GUSTI &#8211; 1995 )</p>
<p>Aku Mendengar Suara<br />
Jerit Hewan Yang Terluka<br />
Ada Orang Memanah Rembulan<br />
Ada Anak Burung Terjatuh Dari Sarangnya<br />
Orang-Orang Harus Dibangunkan<br />
Kesaksian Harus Diberikan<br />
Agar Kehidupan Bisa Terjaga<br />
(Rendra, Yogyakarta 1974)</p>
<p>- &#8211; -<br />
Zaman Edan<br />
hidup di zaman edan<br />
suasana jadi serba sulit<br />
ikut edan tak tahan<br />
tak ikut tak kebagian<br />
malah dapat kesengsaraan</p>
<p>begitulah kehendak Allah<br />
sebahagia &#8211; bahagia orang lupa lebih bahagia orang sadar dan waspada</p>
<p>(RONGGOWARSITO, fragmen bait ketujuh Serat Kalatida) </p>
<p>- &#8211; -</p>
<p>PRAJURIT JAGA MALAM </p>
<p>Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?<br />
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,<br />
bermata tajam<br />
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian<br />
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini.<br />
Aku suka pada mereka yang berani hidup<br />
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam </p>
<p>Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu…&#8230;<br />
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ! </p>
<p>(Chairil Anwar 1948, Siasat, Th III, No. 96 1949)</p>
<p>- &#8211; -</p>
<p>Setiap orang sederajat di hadapan hukum, menghargai hak-hak azasi, menghormati pikiran dan sikap sesama.</p>
<p>mengakui bahwa setiap<br />
orang berhak memberikan saham pada kemajuan, prikemanusiaan nasionnya<br />
dan kalau mungkin pada ummat manusia di semua penjuru dunia.</p>
<p>(Pramoedya Ananta Toer)</p>
<p>- &#8211; -</p>
<p>KITA ADALAH<br />
PEMILIK SAH REPUBLIK INI  </p>
<p>Tidak ada lagi pilihan lain<br />
Kita harus<br />
Berjalan terus<br />
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan<br />
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh<br />
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara<br />
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama<br />
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka<br />
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan<br />
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara<br />
Tidak ada lagi pilihan lain<br />
Kita harus<br />
Berjalan terus.    </p>
<p>(Taufik Ismail, 1966)   </p>
<p>- &#8211; -</p>
<p>&#8220;MERDEKA ATAOE MATI !&#8221;<br />
Bila kemerdekaan itu berwarna merah<br />
putihnya terpahat peluh dan darah<br />
mengintip tiap lorong sejarah<br />
mengalir bagai gemericik air<br />
hingga ke lubuk terpencil<br />
ia bernama sanubari     </p>
<p>  &#8220;MERDEKA ATAOE MATI !&#8221;     bila kemerdekaan itu terus merekah<br />
rebahkan tanah &#8211; tanah merah<br />
bertumbuhanlah<br />
pepohonan kaku bernama<br />
bangunan kokoh berkaca       </p>
<p>&#8220;MERDEKA ATAOE MATI !&#8221;     bila kemerdekaan berganti wajah<br />
hingga tumbuh jenuh tumpahkan lelah itu<br />
karena sanubari<br />
tak lagi ikut memekik</p>
<p>pekikkanlah &#8220;MERDEKA !&#8221;<br />
yang berwarna merah<br />
tapi pekiknya<br />
tak mandi peluh dan darah  </p>
<p>AZWINA AZIZ MIRAZA</p>
<p>&#8220;SI KANCIL GEMAR MENGUTIL&#8221;<br />
( INA MENTARI ANUGRAH PROMINDO &#8211; 1996 )<br />
PANJI DI HADAPANKU </p>
<p>Kaukibarkan panji di hadapanku<br />
               hijau jernih diampu tongkat mutu-mutiara<br />
               di kananku berjalan, mengirin perlahan, ridha-mu<br />
               rata, dua sebaya, putih-putih, penuh<br />
               melimpah, kasih persih.</p>
<p>               Gelap-gelap kami berempat menunggu-nunggu<br />
               mendengar-dengar suara sayang, panggilan-panjang, jauh<br />
               terjatuh, melayang-layang</p>
<p>               Gelap-gelap kami berempat , meminta-minta<br />
               memohon-mohon, moga terbuka selimut<br />
               kabut. pembungkus halus nokta utama.</p>
<p>               Jika nokta terbuka raya<br />
               Jika kabut tersingkap semua<br />
               cahaya ridha mengilau ke dalam<br />
           Nur rindu memancar keluar.<br />
(Amir Hamzah)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ricows.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ricows.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ricows.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ricows.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ricows.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ricows.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ricows.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ricows.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ricows.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ricows.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ricows.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ricows.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ricows.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ricows.wordpress.com/170/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=170&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ricows.wordpress.com/2008/12/15/puisi-cinta-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec2d4e749b6e920f14e29f3ec57fae96?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hariqows</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PREAMBULE AD PSPN</title>
		<link>http://ricows.wordpress.com/2008/12/15/preambule-ad-pspn/</link>
		<comments>http://ricows.wordpress.com/2008/12/15/preambule-ad-pspn/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 11:25:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hariqows</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ricows.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[ANGGARAN DASAR PUSAT STUDI PEMUDA NUSANTARA (PSPN) PEMBUKAAN Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah menjadikan 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, dan 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang kemudian kemerdekaan itu dikumandangkan juga atas nama bangsa Indonesia. Tahapan selanjutnya, bangsa-bangsa yang menamakan dirinya bangsa Indonesia tersebut mendirikan suatu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=157&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ANGGARAN DASAR<br />
PUSAT STUDI PEMUDA NUSANTARA (PSPN)</p>
<p>PEMBUKAAN</p>
<p>Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah menjadikan 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, dan 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang kemudian kemerdekaan itu dikumandangkan juga atas nama bangsa Indonesia. Tahapan selanjutnya, bangsa-bangsa yang menamakan dirinya bangsa Indonesia tersebut mendirikan suatu Negara, yakni Negara Indonesia pada 18 Agustus 1945, ditandai dengan disahkannya Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila.<br />
Menjadi semakin teranglah kemudian, bahwa Negara Indonesia yang dicita-citakan adalah Negara yang mampu menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab itu dibutuhkan kedaulatan rakyat sebagai dasar bernegara, kemudian kedaulatan rakyat itu harus berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan.<br />
Negara seperti itulah yang dapat melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Negara yang dimaksud adalah Negara yang kuat yang pada akhirnya mampu menciptakan ketertiban dunia. Negara seperti inilah yang sewajarnya memimpin dunia, karena mendasarkan penyelesaian masalah diatas musyawarah dengan tujuan perdamaian abadi.<br />
Atas dasar tersebut pemuda Indonesia, sebagai bagian yang paling dinamis dari masyarakat Indonesia dituntut untuk senantiasa memperjuangkan misi suci tersebut. Di butuhkan persatuan Indonesia untuk menciptakan dunia yang lebih baik, Dibutuhkan ilmu tentang Indonesia orang-orang Indonesia.<br />
 Dibutuhkan kebersamaan untuk sebuah gagasan besar, karena sesungguhnya usia manusia itu panjang, usia organisasi juga panjang, namun usia perjuangan untuk menegakkan kemandirian dan kedaulatan bangsa jauh lebih panjang lagi. Sebab itu beban perjuangan tidak dapat dilimpahkan kepada orang-orang, tetapi harus dilaksanakan dengan kekeluargaan, keikhlasan, gotong royong yang berlandaskan pada nilai-nilai kepatutan serta ilmu pengetahuan.<br />
Selanjutnya atas berkat rakhmat Tuhan Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, dengan senantiasa menjadikan keikhlasan sebagai ruh perbuatan serta dalam rangka mencapai CITA-CITA NASIONAL DAN INTERNATIONAL bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pembukaan UUD 45.<br />
Maka dengan segenap ketetapan hati kami menghimpun jiwa dalam Pusat Studi Pemuda Nusantara dengan Anggaran Dasar dengan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) AD/ART PSPN tidak bertentangan dengan UUD 1945 dan Pancasila, (2)AD/ART PSPN tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan kepercayaan luhur manapun, (3)AD/ ART PSPN tidak bertentangan dengan nilai-nilai universal umat manusia seperti keadilan, kejujuran, keindahan, cinta dan perdamaian. </p>
<p><a href="http://ricows.wordpress.com/2008/12/15/preambule-ad-pspn/peta-kuno3/" rel="attachment wp-att-167"><img src="http://ricows.files.wordpress.com/2008/12/peta-kuno3.jpg?w=300&#038;h=142" alt="peta-kuno3" title="peta-kuno3" width="300" height="142" class="aligncenter size-medium wp-image-167" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ricows.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ricows.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ricows.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ricows.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ricows.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ricows.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ricows.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ricows.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ricows.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ricows.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ricows.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ricows.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ricows.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ricows.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=157&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ricows.wordpress.com/2008/12/15/preambule-ad-pspn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec2d4e749b6e920f14e29f3ec57fae96?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hariqows</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ricows.files.wordpress.com/2008/12/peta-kuno3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">peta-kuno3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>UNDANG-UNDANG DASAR 1945 (18 agustus 1945)</title>
		<link>http://ricows.wordpress.com/2008/11/21/undang-undang-dasar-1945-18-agustus-1945/</link>
		<comments>http://ricows.wordpress.com/2008/11/21/undang-undang-dasar-1945-18-agustus-1945/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 06:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hariqows</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ricows.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[PEMBUKAAN ( Preambule ) Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=145&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">PEMBUKAAN</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">( Preambule )</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><br />
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.</span></p>
<p>Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.</p>
<p>Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.</p>
<p>Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">UNDANG-UNDANG DASAR</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">BAB I</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">BENTUK DAN KEDAULATAN</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pasal 1</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Kedaulatan adalah di tangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">BAB II</span></strong></p>
<p style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT</span></strong><br />
<strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pasal 2</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat, ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan, menurut aturan yang ditetapkan dengan undang-undang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Majelis Permusyawaratan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di ibu kota negara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Segala putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat ditetapkan dengan suara yang terbanyak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Pasal 3</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Majelis Permusyawaratan Rakyat menetapkan Undang-Undang Dasar dan garis-garis besar daripada haluan negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">BAB III</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">Pasal 4</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Dalam melakukan kewajibannya Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pasal 5</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Presiden menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pasal 6</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Presiden ialah orang Indonesia asli. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan suara yang terbanyak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Pasal 7</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Pasal 8</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Jika Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis waktunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Pasal 9</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Sebelum memangku jabatannya, Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut agama, atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat atau Dewan Perwakilan Rakyat sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Sumpah Presiden (Wakil Presiden) :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">“Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa”.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Janji Presiden (Wakil Presiden) :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"> “Saya berjanji dengan sungguh-sungguh akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Pasal 10</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Pasal 11</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">Pasal 12</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">Presiden menyatakan keadaan bahaya. </span><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Syarat-syarat dan akibatnya keadaan bahaya ditetapkan dengan undang-undang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pasal 13</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Presiden mengangkat duta dan konsul. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Presiden menerima duta negara lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Pasal 14</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Presiden memberi grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Pasal 15</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Presiden memberi gelaran, tanda jasa dan lain-lain tanda kehormatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">BAB IV</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">Pasal 16</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Susunan Dewan Pertimbangan Agung ditetapkan dengan undang-undang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Dewan ini berkewajiban memberi jawab atas pertanyaan Presiden dan berhak memajukan usul kepada pemerintah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:#333333;">BAB V</span></strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:#333333;">KEMENTERIAN NEGARA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:#333333;">Pasal 17</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Presiden dibantu oleh menteri-menteri negara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Menteri-menteri itu diangkat dan diperhentikan oleh Presiden. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Menteri-menteri itu memimpin departemen pemerintah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">BAB VI</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">PEMERINTAH DAERAH</span></strong></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pasal 18</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang, dengan memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara, dan hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">]BAB VII</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">DEWAN PERWAKILAN RAKYAT</span></strong></span></strong></p>
<p><strong><span style="font-family:Arial;">Pasal 19</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Susunan Dewan Perwakilan Rakyat ditetapkan dengan undang-undang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Dewan Perwakilan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam setahun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pasal 20</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Tiap-tiap undang-undang menghendaki persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Jika sesuatu rancangan undang-undang tidak mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat, maka rancangan tadi tidak boleh dimajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat masa itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pasal 21</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat berhak memajukan rancangan undang-undang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Jika rancangan itu, meskipun disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat, tidak disahkan oleh Presiden, maka rancangan tadi tidak boleh dimajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat masa itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pasal 22</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Peraturan pemerintah itu harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Jika tidak mendapat persetujuan, maka peraturan pemerintah itu harus dicabut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">BAB VIII</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">HAL KEUANGAN</span></strong></span></p>
<p><strong><span style="font-family:Arial;">Pasal 23</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Anggaran pendapatan dan belanja ditetapkan tiap-tiap tahun dengan undang-undang. Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui anggaran yang diusulkan pemerintah, maka pemerintah menjalankan anggaran tahun yang lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan undang-undang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undang-undang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Hal keuangan negara selanjutnya diatur dengan undang-undang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Untuk memeriksa tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan Pemeriksa Keuangan, yang peraturannya ditetapkan dengan undang-undang. </span><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Hasil pemeriksaan itu diberitahukan kepada Dewan Perwakilan rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">BAB IX</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">KEKUASAAN KEHAKIMAN</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">Pasal 24</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut undang-undang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Susunan dan kekuasaan badan-badan kehakiman itu diatur dengan undang-undang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Pasal 25</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Syarat-syarat untuk menjadi dan untuk diperhentikan sebagai hakim ditetapkan dengan undang-undang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">BAB X</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">WARGA NEGARA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Pasal 26</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Syarat-syarat yang mengenai kewarganegaraan ditetapkan dengan undang-undang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pasal 27</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Pasal 28</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebaganya ditetapkan dengan undang-undang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">BAB XI</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">A G A M A</span></strong></span></p>
<p><strong><span style="font-family:Arial;">Pasal 29</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">BAB XII</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">PERTAHANAN NEGARA</span></strong><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">Pasal 30</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">BAB XIII</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">PENDIDIKAN</span></strong></span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">Pasal 31</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pasal 32</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">BAB XIV</span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">KESEJAHTERAAN SOSIAL</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">Pasal 33</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Pasal 34</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">BAB XV</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">BENDERA DAN BAHASA</span></strong></span></strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">Pasal 35</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Pasal 36</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT">Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">BAB XVI</span></strong><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><br />
<strong><span style="font-family:Arial;">PERUBAHAN UNDANG-UNDANG DASAR</span></strong></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pasal 37</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Untuk mengubah Undang-Undang Dasar sekurang-kurangnya 2/3 daripada jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat harus hadir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 daripada jumlah anggota yang hadir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">ATURAN PERALIHAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Pasal I</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><br />
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengatur dan menyelenggarakan kepindahan pemerintahan kepada Pemerintah Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV">Pasal II</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="SV"><br />
Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">Pasal III</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">Untuk pertama kali Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI">Pasal IV</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:13pt;line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;" lang="FI"><br />
Sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Dewan Pertimbangan Agung dibentuk menurut Undang-Undang Dasar ini, segala kekuasaannya dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah komite nasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:125%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">ATURAN TAMBAHAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:125%;"><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Dalam enam bulan sesudah akhirnya peperangan Asia Timur Raya, Presiden Indonesia mengatur dan menyelenggarakan segala hal yang ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.25in;line-height:125%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;line-height:125%;font-family:Arial;color:#333333;">Dalam enam bulan sesudah Majelis Permusyawaratan Rakyat dibentuk, Majelis itu bersidang untuk menetapkan Undang-Undang Dasar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;color:#333333;"><br />
</span><span style="font-size:14pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ricows.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ricows.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ricows.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ricows.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ricows.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ricows.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ricows.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ricows.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ricows.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ricows.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ricows.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ricows.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ricows.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ricows.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=145&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ricows.wordpress.com/2008/11/21/undang-undang-dasar-1945-18-agustus-1945/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec2d4e749b6e920f14e29f3ec57fae96?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hariqows</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memutus Infuse Otoritarianisme di Indonesia</title>
		<link>http://ricows.wordpress.com/2008/08/13/memutus-infuse-otoritarianisme-di-indonesia/</link>
		<comments>http://ricows.wordpress.com/2008/08/13/memutus-infuse-otoritarianisme-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 06:23:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hariqows</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ricows.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Memutus Infuse Otoritarianisme di Indonesia[1] (Ringkasan Buku Baskara T Wardaya) Oleh : Hariqo Wibawa Satria &#8211; Rico WS *    Jika diibaratkan seorang manusia, maka otoritarianisme sedang sakit, namun cairan vitamin terus dipompakan kebadannya melalui infuse, jika tidak diputus dia siap akan kembali sehat, Saat ini mulai menggeliat….     Seperti lazimnya penulisan sebuah karya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=122&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:21pt;"><span style="font-family:Times New Roman;"><a href="http://ricows.files.wordpress.com/2008/08/semangkin.jpg"><img class="size-medium wp-image-125 alignleft" src="http://ricows.files.wordpress.com/2008/08/semangkin.jpg?w=370&#038;h=284" alt="" width="370" height="284" /></a>Memutus <em>Infuse</em> Otoritarianisme di Indonesia</span><a name="_ftnref1" href="https://ricows.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:21pt;font-family:&quot;">[1]</span></strong></span></span></span></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">(Ringkasan Buku Baskara T Wardaya)</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Oleh</em> : Hariqo Wibawa Satria &#8211; <span>Rico WS *</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:center;margin:0;" align="center"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Jika diibaratkan seorang manusia, maka otoritarianisme sedang sakit, namun cairan vitamin terus dipompakan kebadannya melalui infuse, jika tidak diputus dia siap akan kembali sehat, Saat ini mulai menggeliat….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Seperti lazimnya penulisan sebuah karya ilmiah berisi tiga pokok yaitu : <em>Pendahuluan, Isi </em>dan<em><span>  </span>Kesimpulan</em>. Maka buku ini sedikit berbeda. Dengan berani buku ini memaparkan berbagai hal yang mencengangkan tentang otoritarianisme di zaman Orde Baru hingga setelah reformasi, berbagai kesimpulan bisa kita dapatkan di bagian isi dan ujung setiap artikel yang tulis oleh para pakar di bidangnya, Pembaca dihidangkan berbagai fakta otentik tentang cara kerja orde baru yang otoriter, sehingga tidak ada<span>  </span>kesan provokatif dan kasar, karena semua fakta yang diungkap seputar watak otoritarianisme orde baru<span>  </span>sudah pernah dirasakan mayoritas penduduk negeri ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"><span> </span>Setidaknya ada dua pertanyaan yang akan dikupas tuntas oleh Dr. Baskara T. Wardaya dkk dalam buku ini, diantaranya: (1) Bagaimana Orde Baru berikut berbagai kelompok kepentingan yang telah dibentuknya mampu mereproduksi otoritarianisme hingga saat ini?, (2) Mengapa otoritarianisme tetap bisa bertahan hingga sekarang?, pembaca akan diajak menelusuri kembali jejak-jejak dari praktik-praktik dari mesin otoritarianisme orde baru, dari masa kini hingga ke awal berdirinya rejim tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Penelusuran tersebut dilakukan atas berbagai bidang yang selama ini telah dan masih menjadi ajang berlangsungnya otoritarianisme orde baru itu, seperti bidang pendidikan, pedesaan, agraria, peradilan dan<span>  </span>militer. Diharapkan dari hal ini pembaca mampu bersikap kritis terhadap perubahan semu, dan memandangnya sebagai <em>proses dialektis </em>antara masa sekarang dengan masa lalu dalam gerak menuju masa depan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Berbagai kalangan khususnya civitas akademika Universitas Sanata Dharma berusaha menggali hal ini lebih dalam, maka digelarlah sebuah konferensi bertajuk “<em>Konferensi Warisan Otoritarianisme, Mempertanyakan Transisi: Menelusuri Akar Otoritarisnisme di Indonesia</em>” pada 17-19 November di kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Konferensi ini diadakan oleh Pusat Dokumentasi dan Etika Politik (PUSdep) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) dan ELSAM (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat), keduanya berpusat di Jakarta. Kegiatan ini juga dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-50 Universitas tersebut. Kelak dari Konferensi inilah lahir buku berjudul “<em>Menelusuri Akar Otoritarianisme di Indonesia</em>”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Secara bahasa otoritarianisme dapat dimaknai sebagai paham yang menjelaskan bahwa hakikat manusia merupakan kolektivitas, sehingga tidak dibenarkan adanya hak-hak individu. Masyarakat tidak perlu susah payah berpikir, sebab sudah ada aturan dalam sistem yang telah dibuat oleh kekuasaan yang berasal dari luar masyarakat tersebut. Masyarakat hanya menjalankan apa yang telah dibuat oleh kekuasaan yang sakral.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Sumber kebenaran yang dianut paham ini adalah normatif ideologis. Ia berada di luar kekuasaan manusia sehingga kebenarannya bersifat mutlak, absolut, dan tidak dapat diverifikasi. Jika realitas tidak sesuai dengan nilai yang dirumuskan penguasa, maka realitas yang dianggap salah. Otoritarianisme tidak menganut prinsip <em><span style="font-family:Garamond;">binary</span></em>, selalu ada cordinat dan sub-ordinat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Di Masa orde baru hal ini bisa kita lihat dalam segala bidang, dan buku dengan cerdik mendialektiskan dengan masa sekarang. Misalnya otoritarianisme di bidang politik, Soeharto membatasi partai politik hanya tiga, sehingga 32 tahun ia mampu bertahta, dalam proses transisi di Indonesia pasca 1998 ternyata hanya menghasilkan kekuatan politik lama dengan “kemasan” yang baru, kita bisa melihat setelah dua kali pemilu, <span> </span>kemiskinan, kualitas pendidikan, masih sama dengan rejim orde baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Di bidang hukum orde baru juga menelurkan paham otoritarianismenya. Pada masa pemerintahan pasca-Soeharto proses pembuatan undang-undang tetap didominasi oleh cara berfikir Orde Baru, seperti: (a)hanya mengubah sebagian kecil ketentuan dalam UU lama; (b) menguntungkan bagi akumulasi dan pelestarian kekuasaan, misalnya melalui undang-undang tentang pemilu; (c) menuruti pesanan international sebagaimana tampak dalam undang-undang yang ditujukan untuk mengintegrasikan perekonomian Indonesia kedalam sistem pasar global. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Oleh sebab itulah BAB II dalam buku ini menyimpulkan bahwa sebenarnya indonesia belum pernah mengalami masa transisi menuju perubahan dalam arti yang sesungguhnya, bahkan sejak masa kolonialisme. Transisi yang sejatinya harus mengarah pada perubahan yang lebih baik (otoritarianisme-demokrasi). justru yang terjadi malah transisi dari bentuk otoritarianisme yang satu menjadi otoritarianisme yang lain. Hal terkini bisa kita saksikan dari kesimpulan Rapimnas III Partai terbesar dinegeri ini yang mengatakan demokrasi adalah alat bukan tujuan, sehingga bisa dinomorduakan. Tentu bukan sebuah kebetulan kesimpulan ini muncul, melainkan karena Partai inilah yang menjadi <em>owner politic </em>di era Orde baru hingga saat ini. Sehingga watak otoritarianismenya kembali mucul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Pada BAB III dalam buku ini pembaca akan mendapatkan analisis tajam tentang bagaimana pendidikan menjadi alat utama Orde Baru dalam melanggengkan kekuasaanya?. Mulai dari intimidasi guru-guru SLTA untuk memilih Golkar, hingga mekanisme kontrol yang menghambat perkembangan otak, disisi lain Orde Baru juga menciptakan sistem kepatuhan dan ketaatan. Kesadaran yang dimunculkan bukan lagi kesadaran diskursif melainkan kesadaran dibawah tekanan. Media menjadi salah satu institusi yang paling tertekan saat itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Sebab itu bisa dikatakan ideologi pendidikan Orde Baru adalah sterilisasi pendidikan dari politik. Hal ini bisa kita lihat dari ide-ide kebijakan pendidikan seperti “Wajib Belajar”. Link and Match” dijalankan seiring dengan muculnya pelajaran PSPB, Penataran P4, dan NKK/BKK. Pembangunan prasarana di bidang pendidikan khususnya Universitas juga diminimalisir. Pada tahun 1996-1997 saja misalnya, jumlah Universitas Negeri di Indonesia hanya 31 buah, sementara jumlah Universitas swasta mencapai 264 buah, angka ini menunjukan ketidakseriusan Orde Baru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Pada bagian terakhir dari buku ini kita akan menyadari bahwa persoalan agraria yang muncul pasca reformasi mempunyai kaitan jelas dengan kebijakan Orde Baru di bidang agraria. Pencabutan hak rakyat atas tanah dengan berbagai alasan menjadi berita yang senantiasa ditutup-tutupi di era Orde Baru, Pasca reformasi masalah ini kian melebar karena suara-suara kritis kembali muncul menyusul Perpres 36/2005 tentang pengadaan tanah untuk kepentingan umum, dan penembakan petani di pasuruan oleh aparat Negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"><span> </span>Pembatasan hak atas kepemillikan tanah di wilayah perkotaan hingga hari ini juga belum jelas aturannya. Bagi yang kaya sangat mungkin sekali membangun lapangan Golf ditengah kota, sehingga selama 32 tahun ditambah 10 tahun era demokrasi nyaris tidak ada kemajuan berarti dalam masalah agrarian, tidak berlebihan jika Usep Setiawan mengakhiri tulisannya dalam buku ini dengan pernyataan <em>“Tidak ada demokrasi tanpa reforma agraria”. </em>Secara sistemik buku ini menjadi indra keenam kita terhadap sesuatu yang sebenarnya sedekat urat leher kita, namun tertutup kabut demokrasi. harapannya kita terlatih melihat “<em>spirit otoritarianisme</em>” dibalik sebuah kebijakan, untuk kemudian yang mengkritisinya dengan lebih cerdas. Selamat menjelajah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;">Rico WS * Keturunan Nabi Adam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:14pt;font-family:Garamond;"> </span></p>
<div>
<hr size="1" />
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><a name="_ftn1" href="https://ricows.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[1]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;"> Tulisan ini saya kirimkan ke Koran Media Indonesia, namun karena keterbatasan halaman Media Indonesia belum menyajikan semuanya. Trimakasih untuk Dewan Redaksi Media Indonesia.</span></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ricows.wordpress.com/122/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ricows.wordpress.com/122/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ricows.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ricows.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ricows.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ricows.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ricows.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ricows.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ricows.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ricows.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ricows.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ricows.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ricows.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ricows.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ricows.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ricows.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=122&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ricows.wordpress.com/2008/08/13/memutus-infuse-otoritarianisme-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec2d4e749b6e920f14e29f3ec57fae96?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hariqows</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ricows.files.wordpress.com/2008/08/semangkin.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>KEBIJAKAN HARGA BBM BERTENTANGAN DENGAN KONSTITUSI (Makalah Kwik disampaikan dalam Diskusi AMY 06/07/08 di PSPK UGM), by Aliansi Mahasiswa Yogyakarta</title>
		<link>http://ricows.wordpress.com/2008/07/13/kebijakan-harga-bbm-bertentangan-dengan-konstitusi-makalah-kwik-disampaikan-dalam-diskusi-amy-060708-di-pspk-ugm-by-aliansi-mahasiswa-yogyakarta/</link>
		<comments>http://ricows.wordpress.com/2008/07/13/kebijakan-harga-bbm-bertentangan-dengan-konstitusi-makalah-kwik-disampaikan-dalam-diskusi-amy-060708-di-pspk-ugm-by-aliansi-mahasiswa-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 04:05:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hariqows</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ricows.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[KEBIJAKAN HARGA BBM BERTENTANGAN DENGAN KONSTITUSI DAN SARAT DENGAN PENYESATAN [ Kwik Kian Gie]  Mahkamah Konstitusi RI (MK) telah menguji Undang-Undang nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, apakah isinya bertentangan dengan Undang-Undang Dasar kita.   Vonisnya ditetapkan dalam Rapat Permusyawaratan 9 (sembilan) Hakim Konstitusi pada hari Rabu, tanggal 15 Desember 2004, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=119&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:15pt;font-family:&quot;">KEBIJAKAN HARGA BBM BERTENTANGAN DENGAN KONSTITUSI DAN SARAT DENGAN PENYESATAN </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:15pt;font-family:&quot;">[</span></strong><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> Kwik Kian Gie]</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"> <span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Mahkamah Konstitusi RI (MK) telah menguji Undang-Undang nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, apakah isinya bertentangan dengan Undang-Undang Dasar kita.</span></span></p>
<p> </p>
<div><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Vonisnya ditetapkan dalam Rapat Permusyawaratan 9 (sembilan) Hakim Konstitusi pada hari Rabu, tanggal 15 Desember 2004, dan dituangkan dalam PUTUSAN Perkara Nomor 002/PUU-I/2003.</span></span></div>
<div><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Putusan MK tersebut yang tentang kebijakan harga BBM berbunyi sebagai berikut : “Pasal 28 ayat (2) dan (3) yang berbunyi (2) Harga Bahan Bakar Minyak dan Harga Gas Bumi diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang sehat dan wajar; (3) Pelaksanaan kebijaksanaan harga sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak mengurangi tanggung jawab sosial Pemerintah terhadap golongan masyarakat tertentu”; Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4152) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.”</span></span></div>
<p><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Jadi menentukan harga BBM yang diserahkan pada mekanisme persaingan usaha dinyatakan bertentangan dengan Konstitusi kita, walaupun persaingan usahanya dikategorikan sehat dan wajar.</p>
<p>Setelah vonis tersebut, terbit sebuah ”pedoman” oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Departemen ESDM. Isinya mengatakan bahwa sebagai implikasi dari vonis MK “dilakukan<br />
perubahan atas Pasal 72 Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Migas yang berkaitan dengan harga BBM dan Gas Bumi.</p>
<p>Harga jual BBM ditetapkan oleh Pemerintah dengan Peraturan Presiden.”</p>
<p>Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi pasal 72 ayat (1) berbunyi sebagai berikut.</p>
<p><font face="&quot;"><font size="3"> </p>
<p></font></font></span><font face="&quot;"> </p>
<p></font></span> </p>
<div>
<table class="MsoNormalTable" style="width:100%;" border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="width:1%;background-color:transparent;border:#ebe9ed;padding:0.75pt;" width="1%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">(1)</span></span></p>
</td>
<td style="background-color:transparent;border:#ebe9ed;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Harga Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi kecuali Gas Bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil, diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang wajar, sehat dan transparan.</span></span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> <span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Jadi sangat jelas bahwa Peraturan Pemerintah nomor 36 tahun 2004 tersebut tetap mengatakan bahwa harga BBM diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang wajar, sehat dan transparan”, walaupun oleh MK dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945. Yang dikecualikan Gas Bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil.</span></span></p>
<p> <span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Dalam berbagai penjelasannya, dalam menentukan harga BBM pemerintah memang mendasarkan diri pada persaingan usaha, bahkan persaingan usaha yang tidak sehat dan tidak fair.</span></span></p>
<div><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Bagaimana penjelasannya? Kita ambil bensin jenis premium sebagai contoh. Ketika harga minyak mentah yang ditentukan berdasarkan mekanisme pasar atau mekanisme persaingan yang diselenggarakan oleh New York Mercantile Exchange (NYMEX) mencapai US$ 60 per barrel, harga bensin premium yang Rp. 2.700 per liter dinaikkan menjadi Rp. 4.500 per liter. Angka ini memang ekivalen dengan US$ 61,50 per barrelnya. Seperti kita ketahui, biaya <em>lifting, refining</em> dan <em>transporting</em> secara keseluruhan rata-ratanya US$ 10 per barrel. Kalau kita ambil US$ = Rp. 10.000, keseluruhan biaya ini adalah (10 : 159) x 10.000 = Rp. 628,9 atau dibulatkan menjadi Rp. 630 per liter. Jadi kalau harga bensin premium per liter dikonversi menjadi harga minyak mentah per barrel dalam <span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">US</span><span style="font-family:&quot;">$, jadinya sebagai berikut : (4.500 – 630) x 159 : 10.000 = US$ 61,53. Ketika itu harga minyak di </span><span style="font-family:&quot;">New York</span><span style="font-family:&quot;"> US$ 60 per barrel. Maka Wapres JK mengatakan bahwa mulai saat itu tidak ada istilah “subsdi” lagi untuk bensin premium, karena harga bensin premium sudah ekivalen dengan harga minyak mentah di </span><span style="font-family:&quot;">New York</span></span></span></span></div>
<p><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">.</span></span></p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></span></p>
<div><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">Ini adalah bukti bahwa harga bensin di <span style="font-family:&quot;">Indonesia</span></span></span></div>
<div><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">ditentukan atas dasar mekanisme pasar atau mekanisme persaingan usaha yang berlangsung di NYMEX.</span></span></span></span></div>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Artinya, ketika itu pemerintah tetap saja mendasarkan diri sepenuhnya pada mekanisme pasar atau mekanisme persaingan usaha, bahkan yang berlangsung di NYMEX.</span></span></p>
<div><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"><strong>BAGAIMANA SEKARANG?</strong></span></span></div>
<p></span></span><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Tindakan pemerintah menaikkan harga BBM yang berlaku mulai tanggal 24 Mei 2008 jam 00 jelas melanggar Konstitusi. Bagaimana penjelasannya?</p>
<p>Kompas tanggal 24 Mei 2008 memberitakan keterangan Menteri ESDM yang mengatakan bahwa “dengan tingkat harga baru itu, pemerintah masih mensubsidi harga premium sebesar Rp. 3.000 per liter karena ada perbedaan harga antara harga baru Rp. 6.000 per liter dan harga di pasar dunia sebesar Rp. 9.000 per liter.</p>
<p>Dari mana angka Rp. 9.000 per liter yang disebut harga dunia itu? Harga BBM Rp. 9.000 per liter dikurangi dengan biaya <em>lifting, refining</em> dan <em>transporting</em> sebesar Rp. 630 per liter, sehingga harga minyak mentahnya Rp. 9.000 – Rp. 630 = Rp. 8.370. Per barrelnya = Rp. 8.370 x 159 = Rp. 1.330.830. Kalau nilai rupiah kita ambil US$ 1 = Rp. 10.000, harga minyak mentah di pasar dunia sama dengan 1.330.830 : 10.000 = UD$ 133,08.</p>
<p>Sangat-sangat jelas isi pikirannya bahwa harga BBM untuk rakyatnya harus diserahkan sepenuhnya pada “mekanisme persaingan usaha” yang berlangsung di NYMEX, yang oleh MK dinyatakan bertentangan dengan Konstitusi.</p>
<p>Sekarang memang dinaikkan menjadi Rp. 6.000 per liter. Tetapi ini untuk sementara. Dalam pemberitaan yang sama di Kompas tanggal 24 Mei 2008 tersebut Menteri Keuangan menyatakan bahwa pada harga ini masih belum final. Sebenarnya secara implisit dikatakan bahwa akan diupayakan terus sampai harga persis sama dengan harga di pasar dunia, atau sepenuhnya diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang berlangsung di NYMEX.</p>
<p>Sebelumnya, yaitu seperti yang dimuat di Kompas tanggal 17 Mei 2008 Menko Boediono mengatakan “Pemerintah tidak ragu memberlakukan harga pasar dunia di dalam negeri karena langkah ini sudah dilakukan di banyak negara dan berhasil menekan subsidi BBM”. Apakah masih perlu penjelasan bahwa yang dimaksud Menko Boediono adalah harga BBM di Indonesia diserahkan sepenuhnya pada mekanisme persaingan usaha yang berlangsung di NYMEX? Dan apakah masih perlu penjelasan lagi bahwa Pemerintah jelas-jelas bertindak melawan vonis MK yang dengan sendirinya juga melawan Konstitusi?</p>
<p><strong>PERSAINGAN YANG SEHAT DAN WAJAR?</strong></p>
<p>Lebih gila lagi. Persaingan usaha yang dijadikan landasan mutlak bagi penentuan harga BBM di Indonesia sama sekali tidak sehat dan tidak wajar. Bagaimana penjelasannya?</p>
<p><font face="&quot;"><font size="3"> </p>
<p></font></font></span><font face="&quot;"> </p>
<p></font></span> </p>
<table class="MsoNormalTable" style="width:100%;" border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="width:1%;background-color:transparent;border:#ebe9ed;padding:0.75pt;" width="1%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">1.</span></span></p>
</td>
<td style="background-color:transparent;border:#ebe9ed;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">Volume minyak yang diperdagangkan di </span><span style="font-family:&quot;">sana</span><span style="font-family:&quot;"> hanya 30% dari volume minyak di seluruh dunia. Sisanya yang 70% diperoleh perusahaan-perusahaan minyak raksasa atas dasar kontrak-kontrak langsung dengan negara-negara produsen minyak mentah. Di Indonesia melalui apa yang dinamakan Kontrak Bagi Hasil atau <em>production sharing.</em></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:1%;background-color:transparent;border:#ebe9ed;padding:0.75pt;" width="1%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">2.</span></span></p>
</td>
<td style="background-color:transparent;border:#ebe9ed;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Bagian terbesar minyak dunia diproduksi oleh negara-negara yang tergabung dalam sebuah kartel yang bernama OPEC. Kalau mekanisme persaingan dirusuhi oleh kartel, apa masih bisa disebut sehat dan wajar? Toh para menteri ekonomi kita secara membabi buta menerapkan dalil bahwa harga minyak yalah yang ditentukan di NYMEX itu, walaupun ditentang keras oleh MK.</span></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:1%;background-color:transparent;border:#ebe9ed;padding:0.75pt;" width="1%" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">3.</span></span></p>
</td>
<td style="background-color:transparent;border:#ebe9ed;padding:0.75pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">Harga yang terbentuk di NYMEX sangat dipengaruhi oleh perdagangan derivatif dan perdagangan oil future trading yang juga berlangsung di NYMEX. Sekarang ini para akhli mempertanyakan apakah betul bahwa permintaan minyak demikian drastis melonjaknya dan terus menerus seperti grafik harga minyak mentah di NYMEX? Banyak yang dengan argumentasi sangat kuat menuding spekulasi oleh hedge funds melalui future trading sebagai penyebabnya. Kok </span><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> terus ikut-ikutan lotre buntut ini secara membabi buta tanpa peduli apakah rakyatnya akan mati kelaparan atau tidak.</span></span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><br />
<span style="font-size:small;"><strong>DUA KALKULASI HARGA POKOK BBM. MANA YANG BENAR DAN MANA YANG MENYESATKAN?</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Berikut ini saya menyajikan dua buah kalkulasi. Tabel I atas dasar <em>cash basis</em>. Artinya harga pokok adalah uang yang dikeluarkan untuk memproduksi BBM. Tabel II kalkulasi atas dasar <em>replacement value</em>, yaitu yang disebut harga pokok minyak mentah adalah harga yang sedang berlaku di pasar dunia, ketika minyak mentah yang terkandung di dalam BBM dijual dengan penjualan BBM. Harga ini identik dengan harga yang beberapa kali per harinya ditentukan oleh NYMEX, dan sama sekali tidak dibayarkan oleh pemerintah <span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Indonesia</span></span></span></span></p>
<div><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">, karena minyaknya tinggal menyedot saja dari perut buminya sendiri.</span></span></span></span></div>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">Kita lihat bahwa dalam Tabel I yang menganut faham harga pokok sama dengan uang yang dikeluarkan, pemerintah memperoleh laba atau kelebihan uang tunai sebesar Rp. 3.870 setiap liternya.</span></span></p>
<p><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">Dalam Tabel II, harga pokoknya harus sama dengan harga yang berlaku di NYMEX, yang dalam tabel tersebut diambil US$ 120 per barrel, walaupun Pemerintah tidak mengeluarkan uang ini, karena minyak mentahnya tinggal disedot saja dari perut buminya sendiri. Hasilnya rugi sebesar Rp. 3.677. Angka yang fiktif ini oleh pemerintah disajikan kepada rakyatnya seolah-olah identik dengan pengeluaran uang dari APBN. Maka dikatakan APBN-nya akan jebol, padahal uang tunai yang ada di APBN kelebihan Rp. 3.870 per liternya.</p>
<p>Untuk lebih memperjelas, lihat Tabel II. Harga pokok yang Rp. 7.547 itu <span style="font-family:&quot;">kan</span></p>
<p><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">uang yang oleh Pertamina (milik rakyat) dibayarkan kepada pemerintah (milik rakyat). Kalau jumlah yang Rp. 7.547 ini ditambahkan pada yang dinamakan RUGI atau DEFISIT atau SUBSIDI, jadinya adalah surplus Rp. 3.870, persis sama dengan surplus yang ada di Tabel I.</span></span></p>
<p><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Kiranya jelas bahwa caranya pemerintah menjelaskan kepada rakyatnya menyesatkan. Penyesatannya terletak di Tabel II, ketika dicantumkan bahwa minyak mentah itu seolah-olah dibeli betulan dari pasar internasional dengan harga US$ 120 per barrel, padahal minyak mentahnya tidak dibeli, melainkan disedot dari perut buminya sendiri.</span></span></p>
<div><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"><strong>APAKAH MINYAK MENTAH MILIK RAKYAT DIBERIKAN KEPADA RAKYATNYA DENGAN CUMA-CUMA DI TABEL I?</strong></span></span></div>
<p></span></span><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Sama sekali tidak. Rakyat disuruh membeli minyak mentahnya dengan harga Rp. 3.870. Harga ini dihitung dari harga bensin premium yang Rp. 4.500 dikurangi dengan biaya-biaya <em>out of pocket expenses</em> sebesar Rp. 630 per liternya. Seperti kita masih ingat, harga bensin premium di bulan April tahun 2005 Rp. 2.700 per liter yang dinaikkan menjadi Rp. 4.500 per liter untuk dijadikan ekivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 60 per barrelnya.</p>
<p>Jadi ketika itu, pemerintah sudah tidak terima atau tidak rela membebani rakyat yang pemilik minyak itu dengan harga (Rp. 2.700 – Rp. 630) = Rp. 2.070. Dengan mencuci otak rakyatnya sendiri seolah-olah minyak mentahnya harus dibeli tunai dengan harga US$ 60 per barrel, maka harga dinaikkan menjadi Rp. 4.500. Sekarang karena harga minyak mentah sudah lebih dari US$ 130 per barrel, pemerintah tidak rela dan tidak terima lagi. Ingin menaikkannya dengan 30% dahulu, tetapi sudah buka suara akan menaikkan lagi di bulan September – Oktober sampai sama dengan harga minyak dunia, seperti yang dinyatakan oleh Menko Boediono di Kompas tanggal 17 Mei 2008. Edan!!</p>
<p><strong>SEKEDAR TEORI TENTANG HARGA POKOK DAN RUGI/LABA</strong></p>
<p>Apakah ada teorinya yang mengatakan bahwa harga pokok barang dagangan yang baru dijual harus sama dengan harga beli dari barang dagangan yang bersangkutan pada saat barang dagangannya dijual, yang dinamakan <em>replacement value</em>?</p>
<p>Penjelasannya begini : ada dua orang pedagang paku (A dan B) yang modalnya masing-masing Rp. 100.000. Harga beli paku Rp. 10.000 per kg. Pakunya dijual habis dengan harga Rp. 15.000 per kg. atau hasil penjualan seluruhnya Rp. 150.000. Harga pokoknya berapa, dan karena itu labanya berapa?</p>
<p>A mengatakan harga pokoknya Rp. 100.000 dan labanya Rp. 50.000. Ketika ditanya mengapa begitu? Dia menjawab : “karena laba yang Rp. 50.000 bisa saya habiskan untuk konsumsi, dan modal uang saya tetap utuh sebesar Rp. 100.000</p>
<p>B mengatakan : “laba saya hanya Rp. 30.000, karena ketika saya mau membeli lagi mengisi stok paku sebanyak 10 kg. harganya sudah naik menjadi Rp. 12.000, sehingga untuk mempertahankan stok yang 10 kg. itu saya harus mengeluarkan uang Rp. 120.000. Maka yang bisa saya konsumsi habis tanpa mengurangi stok paku saya hanyalah Rp. 30.000, bukan Rp. 50.000.</p>
<p>A ingin mempertahankan modal uangnya sebesar Rp. 100.000. B ingin mempertahankan modal barangnya berupa 10 kg. paku dalam alam inflasi.</p>
<p>Pemerintah menganut faham si B. Apakah benar pemerintah harus berpikir dan berperilaku demikian kepada rakyatnya sendiri? Dan apakah benar kalau diterapkan pada minyak mentah yang tidak dapat diperbaraui (<em>non renewable commodity</em>).</p>
<p>Bagaimana menjelaskannya dan di mana terletak tipuan atau penyesatan pemerintah kepada bangsanya sendiri? Ikuti artikel berikutnya.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></span></span></p>
<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ricows.wordpress.com/119/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ricows.wordpress.com/119/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ricows.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ricows.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ricows.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ricows.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ricows.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ricows.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ricows.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ricows.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ricows.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ricows.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ricows.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ricows.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ricows.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ricows.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=119&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ricows.wordpress.com/2008/07/13/kebijakan-harga-bbm-bertentangan-dengan-konstitusi-makalah-kwik-disampaikan-dalam-diskusi-amy-060708-di-pspk-ugm-by-aliansi-mahasiswa-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec2d4e749b6e920f14e29f3ec57fae96?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hariqows</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ISTILAH SUBSIDI BBM MENYESATKAN (Makalah Kwik dalam Diskusi di PSPK UGM 06/07/08),Aliansi Mahasiswa Yogyakarta</title>
		<link>http://ricows.wordpress.com/2008/07/13/istilah-subsidi-bbm-menyesatkan-makalah-kwik-dalam-diskusi-di-pspk-ugm-060708aliansi-mahasiswa-yogyakarta/</link>
		<comments>http://ricows.wordpress.com/2008/07/13/istilah-subsidi-bbm-menyesatkan-makalah-kwik-dalam-diskusi-di-pspk-ugm-060708aliansi-mahasiswa-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 04:00:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hariqows</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ricows.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[ISTILAH SUBSIDI BBM MENYESATKAN. MENGAPA DIPAKAI UNTUK MENAIKKAN HARGA LAGI ??   Oleh Kwik Kian Gie     Dalam tulisan ini saya membuat beberapa kalkulasi tentang jumlah uang yang masuk karena penjualan BBM dan uang yang harus dikeluarkan untuk memproduksi dan mengadakannya. Hasilnya pemerintah kelebihan uang. Mengapa dikatakan pemerintah harus mengeluarkan uang untuk memberi subsidi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=118&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:15pt;font-family:&quot;">ISTILAH SUBSIDI BBM MENYESATKAN. MENGAPA DIPAKAI UNTUK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:15pt;font-family:&quot;">MENAIKKAN HARGA LAGI ??</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Oleh Kwik Kian Gie</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Dalam tulisan ini saya membuat beberapa kalkulasi tentang jumlah uang yang masuk karena penjualan BBM dan uang yang harus dikeluarkan untuk memproduksi dan mengadakannya. Hasilnya pemerintah kelebihan uang. Mengapa dikatakan pemerintah harus mengeluarkan uang untuk memberi subsidi, sehingga APBN-nya jebol. Dan karena itu harus menaikkan harga BBM yang sudah pasti akan lebih menyengsarakan rakyat lagi setelah kenaikan luar biasa di tahun 2005 sebesar 126 %.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Mari kita segera saja melakukan kalkulasinya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Menteri Ani) memberi keterangan kepada Rakyat Merdeka <span> </span>yang dimuat pada tanggal </span><span style="font-family:&quot;">24 April 2008</span><span style="font-family:&quot;">.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Angka-angka yang dikemukakannya adalah angka-angka yang terakhir <span> </span>disepakati antara Pemerintah dan DPR, yang sekarang tentunya sudah ketinggalan lagi. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Maka dalam perhitungan yang saya tuangkan ke dalam tiga buah Tabel Kalkulasi saya menggunakan angka-angkanya Menteri Ani yang diperlukan untuk mengetahui berapa persen bagian bangsa Indonesia dari minyak mentah yang dikeluarkan dari perut bumi Indonesia. Berapa jumlah penerimaan Pemerintah dari Migas di luar pajak. Jadi yang saya ambil angka-angka yang masih dapat dipakai walaupun banyak angka yang sudah ketinggalan oleh perkembangan, seperti harga minyak mentahnya sendiri. Angka kesepakatan antara Pemerintah dan Panitya Anggaran harga minyak masih US$ 95 per barrel. Sekarang sudah di atas US$ 120. Saya mengambil US$ 120 per barrel.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Keseluruhan data dan angka yang menjadi landasan kalkulasi saya tercantum dalam tabel-tabel kalkulasi yang bersangkutan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Setiap Tabel kalkulasi sudah cukup jelas. Untuk memudahkan memahaminya, saya jelaskan sebagai berikut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">Menteri Ani antara lain mengemukakan bahwa <em>lifting</em> (minyak mentah yang disedot dari dalam perut bumi </span><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> ) sebanyak 339,28 juta barrel per tahun. Dikatakan bahwa angka ini tidak seluruhnya menjadi bagian Pemerintah. (baca : bagian milik bangsa </span><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;">). Kita mengetahui bahwa 90 % dari minyak kita dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan minyak asing. Maka mereka berhak atas sebagian minyak mentah yang digali. Berapa bagian mereka ? Menteri Ani tidak mengatakannya. Tetapi kita bisa menghitungnya sendiri berdasarkan angka-angka lain yang dikemukakannya, yaitu sebagai berikut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Menteri Ani memberi angka-angka sebagai berikut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Lifting : 339,28 juta barrel per tahun</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Harga minyak mentah : US$ 95 per barrel</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Nilai tukar rupiah : Rp. 9.100 per US$</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Penerimaan Migas diluar pajak : Rp. 203,54 trilyun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">Dari angka-angka tersebut dapat dihitung berapa hak bangsa </span><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> dari lifting dan berapa persen haknya perusahaan asing. Perhitungannya sebagai berikut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Hasil Lifting dalam rupiah : (339.280.000 x 95) x Rp. 9.100 = Rp. 293,31 trilyun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">Penerimaan Migas </span><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> : Rp. 203,54 trilyun. Ini sama dengan (203,54 : 293,31) x 100 % = 69,39 %. Untuk mudahnya dalam perhitungan selanjutnya, kita bulatkan menjadi 70 % yang menjadi hak bangsa </span><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;">.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">Jadi dari sini dapat diketahui bahwa hasil <em>lifting</em> yang miliknya bangsa </span><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> sebesar 70 %. Kalau <em>lifting</em> seluruhnya 339,28 juta barrel per tahunnya, milik bangsa Indonesia 70 % dari 339,28 juta barrel atau 237,5 juta barrel per tahun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">Berapa kebutuhan konsumsi BBM bangsa </span><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> ? Banyak yang mengatakan 35,5 juta kiloliter per tahun. Tetapi ada yang mengatakan 60 juta kiloliter. Saya akan mengambil yang paling jelek, yaitu yang 60 juta kiloliter, sehingga konsumsi minyak mentah Indonesia lebih besar dibandingkan dengan produksinya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">Produksi yang haknya bangsa </span><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> : 237,5 juta kiloliter.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Konsumsinya 60 juta kiloliter. 1 barrel = 159 liter. Maka 60 juta kiloliter sama dengan 60.000.000.000 :159 = 377,36 juta barrel.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Walaupun kesepakatan antara Pemerintah dan DPR seperti yang dikatakan Menteri Ani tentang harga minyak mentah US$ 95 per barrel, saya ambil US$ 120 per barrel.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Walaupun kesepakatan antara Pemerintah dan DPR seperti <span> </span>yang diungkapkan Menteri Ani tentang nilai tukar adalah Rp. 9.100 per US$, saya ambil Rp. 10.000 per US$.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Tabel III</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">Hasilnya seperti yang tertera dalam Tabel III, yaitu Pemerintah kelebihan uang tunai sebesar Rp. 35,71 trilyun, walaupun dihadapkan pada keharusan mengimpor dalam memenuhi kebutuhan konsumsi rakyatnya. Produksi minyak mentah yang menjadi haknya bangsa </span><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> 237,5 juta barrel. Konsumsinya 60 juta kiloliter yang sama dengan 377,36 juta barrel. Terjadi kekurangan sebesar 139,86 juta barrel yang harus dibeli dari pasar internasional dengan harga US$ 120 per barrelnya dan nilai tukar diambil Rp. 10.000 per US$. Toh masih kelebihan uang tunai.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Tabel I</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Apalagi kalau kita merangkaikan semua data kesepakatan terakhir antara Pemerintah dengan Panitya Anggaran DPR. Seperti yang diungkapkan oleh Menteri Ani kepada Rakyat Merdeka tanggal 24 April yang lalu kesepakatannya adalah sebagai berikut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Lifting : 339,28 juta barrel per tahun</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Harga : US$ 95 per barrel</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Nilai tukar : Rp. 9.100 per US$</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Penerimaan Migas di luar pajak : Rp. 203,54 trilyun.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Kalkulasi tentang uang yang harus dikeluarkan dan uang yang masuk seperti dalam Tabel I.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Kita lihat dalam Tabel I tersebut bahwa kelebihan uang tunainya sebesar Rp. 82,63 trilyun. Ketika itu Pemerintah sudah teriak bahwa kekurangan uang dalam APBN dan minta mandat dari DPR supaya diperbolehkan menggunakan uang APBN sebesar lebih dari Rp. 100 trilyun, yang disetujui oleh DPR.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Tabel II</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Dalam Tabel II saya mengakomodir<span>  </span>pikiran teoretis dari Pemerintah yang mengatakan bahwa Pertamina harus membeli minyak mentahnya dari Menteri Keuangan dengan harga internasional yang dalam kesepakatan antara Pemerintah dan Panitya Anggaran US$ 95 per barrel dan nilai tukar ditetapkan Rp. 9.100 per US$.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;">Seperti dapat kita lihat, hasilnya memang Defisit sebesar Rp. 122,69 trilyun. Tetapi uang yang harus dibayar oleh Pertamina kepada Menteri Keuangan yang sebesar Rp. 205,32 trilyun </span><span style="font-family:&quot;">kan</span><span style="font-family:&quot;"> milik rakyat </span><span style="font-family:&quot;">Indonesia</span><span style="font-family:&quot;"> juga ? Maka kalau ini ditambahkan menjadi surplus, kelebihan uang yang jumlahnya Rp. 82,63 trilyun, persis sama dengan angka surplus yang ada dalam Tabel I.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">MENGAPA ?</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Mengapa Pemerintah mempunyai pikiran bahwa subsidi sama dengan pengeluaran uang tunai ?<strong> </strong>Mengapa DPR menyetujuinya ? Itulah yang menjadi pertanyaan terbesar buat saya yang sudah saya kemukakan selama 10 tahun dalam bentuk puluhan tulisan di berbagai media massa. Dibantah tidak, digubris tidak.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Sekarang saya mengulanginya lagi, karena masalahnya sudah menjadi kritis dalam dua aspek. Yang pertama, kesengsaraan rakyat sudah sangat parah. Kedua, kenaikan harga BBM lagi bisa memicu kerusuhan sosial. Kali ini jangan main-main. Semoga saya salah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">PEMBOHONGAN BERKALI-KALI</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Ketika harga BBM di tahun 2005 dinaikkan dengan 126 %, bensin premium menjadi Rp. 4.500 per liter. Ketika itu, harga bensin ini ekivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 61,5 per barrel.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Wapres Jusuf Kalla mengatakan bahwa mulai saat itu sudah tidak ada istilah subsidi lagi, karena harga BBM di dalam negeri sudah sama dengan harga minyak mentah yang setiap beberapa kali sehari ditentukan oleh New York Mercantile Exchange. Memang betul, bahkan lebih tinggi sedikit, karena ketika itu harga minyak mentah US$ 60 per barrel.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Ketika harga minyak mentah turun sampai sekitar US$ 57 dan Wapres JK ditanya wartawan apakah harga BBM akan diturunkan, beliau menjawab “tidak”. Lantas harga minyak meningkat sampai US$ 80. Wartawan bertanya lagi kepadanya, apakah harga BBM akan dinaikkan ? Dijawab : “Tidak, dan tidak akan dinaikkan walaupun harga minyak mentah meningkat sampai US$ 100 per barrel.”</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Lantas Presiden mengumumkan bahwa kalau harga minyak sudah US$ 120 pemerintah akan kekurangan uang untuk memberikan subsidi kepada rakyatnya dalam jumlah besar, sehingga APBN akan jebol. Maka terpaksa menaikkan harga BBM pada akhir Mei dengan sekitar 30 %. Jadi sangatlah jelas bahwa Presiden menganggap subsidi BBM sama dengan uang tunai yang harus dikeluarkan oleh Pemerintah.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Pada tanggal 13 Mei jam 22.05 Metro TV menayangkan Today’s Dialogue, di mana Wapres Jusuf Kalla mengakui bahwa pemerintah akan kelebihan uang, yang dibutuhkan untuk membangun infra struktur.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Jadi Pemerintah ini bagaimana ? Bohong kok berkali-kali dan bohongnya tidak konsisten. Sudah berbohong, zig-zag lagi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Penutup</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;">Tulisan ini baru awal dari sebuah perdebatan publik. Ayo, saya mohon dibantah. Wahai media televisi, selenggarakanlah debat publik tanpa batas waktu siapa yang benar dan siapa yang salah ?<strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:16pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ricows.wordpress.com/118/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ricows.wordpress.com/118/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ricows.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ricows.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ricows.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ricows.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ricows.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ricows.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ricows.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ricows.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ricows.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ricows.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ricows.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ricows.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ricows.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ricows.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=118&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ricows.wordpress.com/2008/07/13/istilah-subsidi-bbm-menyesatkan-makalah-kwik-dalam-diskusi-di-pspk-ugm-060708aliansi-mahasiswa-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec2d4e749b6e920f14e29f3ec57fae96?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hariqows</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEBANGKITAN BANGSA dengan MEMUDAKAN KEMBALI INDONESIA</title>
		<link>http://ricows.wordpress.com/2008/05/29/kebangkitan-bangsa-dengan-memudakan-kembali-indonesia/</link>
		<comments>http://ricows.wordpress.com/2008/05/29/kebangkitan-bangsa-dengan-memudakan-kembali-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 May 2008 15:38:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hariqows</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ricows.wordpress.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[  Mimpi itu datang juga, senang sekali bisa bertemu Bung Yudi. selama ini saya hanya bisa menyimpan kerinduan setelah sekian lama membaca buku-bukunya. Buku Bung Yudi tentang Genealogi Intelegensia&#8230;.., Mizan, 2005, telah dicetak juga dalam edisi inggris. Bung Yudi berpesan saat diperjalanan dari bandara Adi Sucipto &#8220;Keluarkan semua energimu, Semaksimal mungkin, jangan setengah-setengah, curahkan semua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=114&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><sup><span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Mimpi itu datang juga, senang sekali bisa bertemu Bung Yudi. selama ini saya hanya bisa menyimpan kerinduan setelah sekian lama membaca buku-bukunya. Buku Bung Yudi tentang Genealogi Intelegensia&#8230;.., Mizan, 2005, telah dicetak juga dalam edisi inggris. Bung Yudi berpesan saat diperjalanan dari bandara Adi Sucipto &#8220;K</span></span></sup><em><sup><span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">eluarkan semua energimu, Semaksimal mungkin, jangan setengah-setengah, curahkan semua pikiran tuangkan dalam bentuk buku, maka setelah itu hidupmu akan mudah&#8221;, , Thanks banget aku catat di hpku Bung Yudi.oh yaa, Thanks </span></span></sup></em><em><sup><span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><span style="font-style:normal;">jg to Wahyu n Gofar dah nemenin.. Bung Yudi Latif pasti mati, namun gagasan-gagasan dalam buku-bukunya akan senantiasa hidup, struglle for real, struggle for histority&#8230;</span></span></span></sup></em><br />
<em><sup><span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">berikut ini </span></span></sup></em><sup><span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">tulisan Bung Yudi dikirim via email sebelum beliau memberikan materi dalam rangka 100 Tahun Kebangkitan Nasional. </span></span></sup></p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" lang="fi-FI" align="center"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>KEBANGKITAN BANGSA</strong></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" lang="fi-FI" align="center"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>DENGAN MEMUDAKAN KEMBALI INDONESIA</strong></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="center"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span>Oleh: Yudi Latif</span></span></span><sup><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span>*</span></span></span></sup></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Berdiri di awal milenium baru, menyaksikan arus globalisasi yang kian luas cakupannya, dalam penetrasinya dan instan kecepatannya, mengusik rasa hirau kita akan eksistensi bangsa kita di pentas dunia.</span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Ketika negara-negara lain di kawasan Asia-Pasifik makin percaya diri dengan daya saingnya, Indonesia justru menyongsong dinamika kompetisi pasar bebas dengan kondisi yang memprihatinkan.</span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span>Menurut laporan World Economic Forum (WEF), </span></span></span><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><span>Growth Competitiveness Index </span></em></span></span><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Indonesia untuk 2007-2008 berada pada peringkat 54 dari sekitar 131 negara yang disurvei. </span></span></span></span><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Bandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Singapura (peringkat 7), Malaysia (21), dan Thailand (28). Untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia hanya sedikit lebih baik dari Filipina (peringkat 71),Vietnam (68), dan Kamboja (110). </span></span></span></span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Bahkan menyangkut tujuan pariwisata sekalipun, Indonesia yang dulu dikenal sebagai ”exotic garden of the east” kian melorot di banding tetangganya. </span></span></span></span><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Dari 124 negara yang dicatat dalam </span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><span>World Economic Report Tourism Competitiveness Ranking</span></em></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>, Indonesia pada 2007 hanya menempati urutan ke 60. </span></span></span></span></span><span style="color:#333333;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Bandingkan dengan negeri Malaysia yang telah menempati urutan ke 31. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Kriteria penilaian daya saing tersebut meliputi berbagai segi, seperti </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><span>basic requirements</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>, </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><span>efficiency enhancer</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>, dan </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><span>innovation factors</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>. Apapun kriterianya, pusat pertaruhannya ada pada kualitas sumberdaya manusia. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Dalam konteks Indonesia, tumpuan dan prioritas peningkatan kualitas sumberdaya manusia itu terletak pada sumberdaya muda, yakni mereka yang berusia sekitar 18-35 tahun. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Mengapa demikian? Karena bentuk piramida penduduk Indonesia pada awal milenium ini membesar di tengah, mengindikasikan besarnya jumlah pemuda berusia kerja. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Seperti terlihat pada Gambar 1, menurut Survei Penduduk (SP) pada tahun 2000, jumlah penduduk yang berada pada kelompok umur dibawah 9 tahun sudah mulai berkurang karena penurunan jumlah kelahiran selama 10 tahun sebelumnya. Kecuali usia 10-14 tahun, jumlah penduduk diatas 9 tahun menunjukkan jumlah yang membengkak pada badan priamida penduduk. Ini menunjukkan besarnya penduduk yang mencapai usia kerja. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><strong>Gambar 1:</strong></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Times New Roman, serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><strong> </strong></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><strong> Piramida Penduduk Indonesia, SP 2000 </strong></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="en-US" align="justify">
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Berdasarkan survei yang sama, bisa diidentifikasi jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan usia, seperti terlihat pada Tabel 1. Berdasarkan table ini, pemuda Indonesia, yang berusia sekitar 18-35 tahun, menyumbang angka terbesar dalam komposisi penduduk Indonesia, yang jumlahnya tak kurang dari 80 juta.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="fi-FI" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><strong>Jumlah Penduduk berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia, </strong></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><strong></strong></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><strong>SP 2000</strong></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span> </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="en-US" align="justify">
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="7" width="476" rules="groups">
<col span="1" width="90"></col>
<col span="1" width="106"></col>
<col span="1" width="90"></col>
<col span="1" width="134"></col>
<tbody>
<tr>
<td width="90" height="2" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>Kelompok umur</strong></span></span></span></p>
</td>
<td width="106" valign="bottom" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"> </span></p>
</td>
<td width="90" valign="bottom" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"> </span></p>
</td>
<td width="134" valign="bottom" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="90" height="3">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"> </p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>Laki-laki</strong></span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>Perempuan</strong></span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>Total</strong></span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="90" height="4">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"> </p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><em><strong>Male</strong></em></span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><em><strong>Female</strong></em></span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><em><strong>Total</strong></em></span></span></span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
<tbody>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">0-4</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">9,983,140</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">9,608,600</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">19,591,740</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">5-9</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">11,370,615</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">10,739,089</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">22,109,704</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">10-14</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">11,238,221</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">10,614,026</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">21,852,247</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">15-19</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">10,370,890</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">9,958,783</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">20,329,673</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">20-24</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">9,754,543</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">10,150,607</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">19,905,150</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">25-29</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">9,271,546</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">9,821,617</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">19,093,163</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">30-34</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">8,709,370</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">9,054,955</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">17,764,325</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">35-39</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">8,344,025</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">8,428,967</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">16,772,992</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">40-44</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">7,401,933</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">7,347,511</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">14,749,444</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">45-49</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">6,418,712</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">6,190,218</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">12,608,930</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">50-54</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">5,266,079</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">4,851,176</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">10,117,255</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">55-59</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">3,813,793</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">3,563,361</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">7,377,154</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">60-64</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">2,800,974</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">2,918,499</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">5,719,473</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">65-69</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">1,990,762</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">2,192,385</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">4,183,147</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">70-74</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">1,470,205</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">1,570,199</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">3,040,404</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">75+</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">1,408,711</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">1,462,776</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">2,871,487</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="4" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Total</span></span></span></p>
</td>
<td width="106" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">109,613,519</span></span></span></p>
</td>
<td width="90" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">108,472,769</span></span></span></p>
</td>
<td width="134" bgcolor="#c0c0c0">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">218,086,288</span></span></span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
<tbody>
<tr valign="bottom">
<td width="90" height="3">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"> </p>
</td>
<td width="106">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"> </p>
</td>
<td width="90">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"> </p>
</td>
<td width="134">
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"> </p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Sumber: </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><strong>SUPAS (Sensus Penduduk Antar Sensus) 2005</strong></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Meski jumlahnya banyak, peran pemuda dalam berbagai bidang dan lapis kehidupan sosial-politik dan sosial-ekonomi nasional masih terasa lemah, seiring dengan rendahnya kapasitas daya saing mereka dalam kompetisi antarbangsa. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumberdaya pemuda merupakan prioritas penting yang harus menjadi kepedulian semua pihak, jika bangsa ini ingin memulihkan harkatnya di pentas global.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Upaya peningkatan kualitas pemuda ini pada gilirannya memerlukan transformasi kebudayaan. Perubahan paradigmatik dalam kebudayaan ini terutama menyangkut tiga dimensi utamanya, yakni dimensi mitos, logos, dan etos/karakter, dalam wawasan nasional kita.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Tulisan berikut akan mencoba memerikan upaya ”menemukan” kembali Indonesia melalui reorientasi ketiga dimensi kebudayaan tersebut. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>Transformasi Mitos</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Yang harus kita akhiri bukan saja ”mitos pribumi malas”, melainkan juga mitos yang memandang ”status quo” dan senioritas sebagai ukuran kualitas dan tumpuan perubahan. Mitos baru harus dimunculkan dengan mempercayai kapasitas kaum muda sebagai agen perubahan. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Dengan menggali modal sejarah, dapat dipulihkan kepercayaan baru bahwa Indonesia tanpa daya muda adalah Indonesia yang mengabaikan fitrahnya. Nyaris tak terbayangkan, bagaimana nama Indonesia bisa ”ditemukan” dan kemerdekaannya diperjuangkan tanpa pergerakan kaum muda.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Menulis di majalah </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>Bintang Hindia</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>, No 14 (1905: 159), Abdul Rivai memperkenalkan istilah kaum muda yang didefinisikan sebagai seluruh rakyat Hindia/Indonesia (muda atau tua) yang tidak lagi bersedia mengikuti aturan kuno. Sebaliknya, mereka berkehendak untuk memuliakan harga diri melalui pengetahuan dan ilmu.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Sejak itu, istilah kaum muda digunakan secara luas dalam liputan media dan wacana publik. Istilah ini segera saja menjadi kode eksistensial dari suatu entitas kolektif yang berbagi titik kebersamaan dalam ambisi untuk memperbarui masyarakat Hindia/Indonesia melalui jalur kemajuan.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Lebih dari sekadar kriteria usia, kaum muda merefleksikan sikap-kejiwaan. Suatu kebaruan cara pandang yang memutus hubungan dengan tradisi kejahiliahan masa lalu, dengan keberanian memperjuangkan visi perubahan yang menjanjikan pencerahan masa depan. Namun, tak terhindarkan, mereka yang berani mengemban visi perubahan lebih mungkin tumbuh dari mereka yang tidak terlalu digayuti beban masa lalu. Meminjam pandangan Hatta, Generasi baru kaum terdidik, dengan kemampuannya untuk membebaskan diri dari hipnosa kolonial, lebih mungkin mengambil inisiatif untuk membangkitkan kekuatan rakyat dan menyediakan basis teoretis bagi aksi-aksi kolektif.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Maka, tidak mengherankan, orang-orang muda ada di balik tonggak-tonggak terpenting kebangunan bangsa. Guru-guru belia mulai mengampanyekan gerakan kemajuan lewat pers vernakular dan perkumpulan Mufakat Guru pada akhir abad ke-19; anak-anak STOVIA memelopori gerakan kultural Budi Utomo pada 1908; pemuda-pemuda jebolan berbagai sekolah modern termasuk Samanhudi yang lulusan sekolah ongko loro </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(tweede Klasse School)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> mengembangkan Sarekat Islam sejak 1912 sebagai pergerakan politik proto-nasionalisme; para mahasiswa mengembangkan perhimpunan Indonesia, kelompok-kelompok studi pergerakan serta partai-partai politik nasionalis sejak 1920-an; pemuda-pelajar menggalang Sumpah Pemuda sebagai kode pembentukan blok nasional pada 1928; bahkan revolusi kemerdekaan 1940-an dilukiskan Ben Anderson sebagai revolusi pemuda.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Kenanglah Tan Malaka! Ia telah menjadi pemimpin Partai Komunis pada usia 24 tahun. Kenanglah Soekarno, ia mendirikan dan memimpin Partai Nasional Indonesia pada usia 26 tahun. Kenanglah Sjahrir, ia memimpin Pendidikan Nasional Indonesia pada usia 22 tahun. Kenanglah Mohammad Roem, ia telah menjadi ketua Lajnah Tandfiziyah Barisan Penyadar PSII pada usia 29 tahun. Bandingkan dengan usia para pemimpin politik Indonesia saat ini.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span>Setelah lebih dari setengah abad merdeka, Indonesia sebagai proyek historis kaum muda harus menghadapi kenyataan tua-renta, kehilangan elan vital daya muda. </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Indonesia tanpa jiwa muda (kebaruan-kemajuan) dan kepemimpinan pemuda adalah Indonesia yang menyangkali jati dirinya. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Kehendak membangun daya saing bangsa menuntut kita untuk memudakan kembali Indonesia. Akselerasi alih kepemimpinan nasional di segala bidang menjadi tuntutan.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Kaum muda dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia berperan penting dalam ”menemukan politik” </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(the invention of politics)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>—yang hingga awal abad ke-20, istilah politik tersebut tak ada padanannya dalam bahasa Melayu-Indonesia. Kaum muda di masa kini dituntut untuk meraih kembali ”politik” yang hilang dari genggamananya seraya mengembalikannya ke jalur yang benar.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Politik dalam kesadaran kaum muda pergerakan jauh dari bahasa teori ’pilihan rasional’, bahwa rationalitas kepentingan individual harus dibayar oleh irasionalitas kehidupan kolektif. Politik dalam konsepsi mereka merupakan usaha resolusi atas problem-problem kolektif dengan pemenuhan kebajikan kolektif. Mirip dengan pemahaman Aristotelian, politik dipandang sebagai seni mulia untuk meraih harapan dan memelihara kemaslahatan umum, terutama kepentingan kaum terjajah, dengan jalan mensubordinasikan kepentingan-kepentingan partikular pada kepentingan (kaum terjajah) secara keseluruhan. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Oleh karena itu, betapapun konflik ideologis berulang kali terjadi, selalu ada usaha untuk mempertautkan kepentingan-kepentingan seksional ke dalam suatu kehendak kolektif yang disebut Antonio Gramsci sebagai ”historical bloc”. Salah satu monumen terpentingnya ialah Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928). Suatu babak penting dalam perjuangan kemerdekaan, ketika gugus-gugus pemuda yang terfragmentasi melebur dalam suatu cita-cita nasionalisme baru dengan rasionalitas dan otosentrisitasnya sendiri. Hal ini ditempuh dengan mengkonstruksikan komunitas impian baru (Indonesia), dengan cara keluar dari jebakan ”bahasa” dan ”konstruksi” kolonial. Dengan ”penemuan” politik yang berkhidmat pada kemasalahatan bersama </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(pro-bono publico) </span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>itulah, kemerdekaan Indonesia bisa dicapai.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Di sinilah letak khittah politik kaum muda. Manakala elemen-elemen kemapanan menyeru pada ”kejumudan” dan ”ego sektoral”, kaum muda menerobosnya dengan menawarkan ide-ide progresif dan semangat republikanisme.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Peran politik kaum muda seperti itu kini dipanggil kembali oleh sejarah, ketika politik sebagai seni mengelola republik demi kebajikan kolektif mulai tersisihkan oleh apa yang disebut Machiavelli sebagai </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>raison d’état</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(reason of state)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> yang berorientasi parokial. Jika ”politik” sejati memiliki kepedulian untuk mempertahankan kepentingan kolektif melalui perbaikan orotiras publik; ’reason of state’ memprioritaskan kepentingan elite dan kelompok penguasa dengan mengatasnamakan ’kebajikan publik’. Dengan demikian ’reason of state’ adalah seni memerintah dengan menipu rakyat.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Kaum muda harus menyelamatkan kepercayaan rakyat kepada Republik, dengan mengembalikan politik pada khitahnya. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>Transformasi Logos</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Dengan menggali modal sejarah, kita juga bisa melihat betapa istilah ”pemuda” secara histtoris sering disandingkan dengan istilah ”pelajar”, seperti dalam sebutan ”pemuda-pelajar”.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Seturut dengan itu, ilmu dan kualitas pikiran dijadikan ukuran kehormatan. Menulis pada edisi perdana (1902) majalah pengobar ‘kemajuan’, </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>Bintang Hindia</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>, Abdul Rivai mulai memperkenalkan istilah ‘bangsawan pikiran’. Dikatakan, “Tak ada gunanya lagi membicarakan ‘bangsawan usul’, sebab kehadirannya merupakan takdir. Jika nenek-moyang kita keturunan bangsawan, maka kitapun disebut bangsawan, meskipun pengetahuan dan capaitan kita bagaikan katak dalam tempurung. Saat ini, pengetahuan dan pencapaianlah yang menentukan kehormatan seseorang. Situasi inilah yang melahirkan ‘bangsawan pikiran’.”</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Tulisan seorang lulusan sekolah Dokter-Jawa ini, mewakili kegetiran anak-anak terdidik dari kalangan priyayi rendahan dan non-bangsawan. Terlalu naif buku-buku sejarah yang mengatakan bahwa sekolah di zaman kolonial hanya diperuntukan bagi kalangan bangsawan. “Kekuatan hegemonis,” ujar James C. Scott, “cenderung menciptakan kontradiksi yang memberi peluang bagi tampilnya hegemoni-tandingan.” Seperti itu jugalah kebijakan diskriminatif kolonial: memberi celah bagi munculnya kaum terpelajar dari kalangan rendahan.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Karena korp administrasi pribumi </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(pangreh praja)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> sebagai lambang kehormatan diperuntukkan bagi anak-anak priyayi tinggi, anak-anak dari kalangan ini cenderung memilih sekolah menak </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(ambtenar) </span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>yang disebut</span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span> hoofdenschool</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> (awal abad 20 menjadi OSVIA). Dalam pada itu, perluasan birokrasi dan ekspansi kapitalisme memerlukan tenaga-tenaga pertukangan. Mantri-mantri kesehatan diperlukan untuk mengobati buruh-buruh perkebunan, tenaga guru diperlukan untuk mendidik calon-calon tenaga pertukangan. Sekolah Dokter-Jawa (awal abad 20 menjadi STOVIA) dan sekolah guru </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(Kweekschool) </span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>semula dirancang untuk itu. Karena anak-anak priyayi tinggi jarang yang berminat, maka anak-anak priyayi rendahan dan orang-orang biasa diberi peluang masuk. Sejak akhir abad ke-19, anak-anak orang biasa yang ingin masuk ke STOVIA diperkenankan masuk ke sekolah dasar Eropa (ELS), sebagai syarat memasuki STOVIA. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Tetapi diskriminasi tidak sendirinya lenyap dengan menyandang ijazah. Gaji lulusan STOVIA, dengan masa studi 9 tahun, hanya sepertiga dari gaji lulusan OSVIA, dengan masa studi lima tahun. Dalam hal status sosial pun, jabatan Dokter-Jawa atau mantri kesehatan jangan harap bisa dihormati seperti jabatan pangreh praja. Situasi-situasi diskriminatif seperti inilah yang mendorong kaum terdidik dari keturunan priyayi rendahan dan non-bangsawan untuk berjuang memancangkan ‘pikiran’ sebagai tanda baru kehormatan sosial.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Sejak itu, ‘pikiran’ menjadi peta-jalan bagi ideal-ideal generasi selanjutnya. Memasuki dekade kedua abad ke-20, dengan dibukanya sekolah ala Eropa bagi penduduk bumiputera, seperti HIS (sekolah dasar), MULO (sekolah menengah pertama), dan AMS (sekolah menengah atas), orang-orang terdidik dari keturunan priyayi-rendahan dan non-bangsawan makin besar jumlahnya. Berpijak pada peta-jalan yang telah dipancangkan generasi sebelumnya, angkatan baru kaum terdidik begerak lebih maju dengan mencampakkan kata bangsawan yang mendahului kata pikiran. Seseorang menulis di </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>Sinar Djawa</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> (4 Maret 1914): “Dengan pergeseran waktu, telah muncul jenis bangsawan baru, yakni ‘bangsawan pikiran’. Namun jika bangsawan pikiran ini hanyalah kelanjutan dari bangsawan usul, maka perubahan dan pergerakan tak akan pernah lahir.”</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Maka tanda baru segera dicipta, tanda yang sepenuhnya bebas dari imaji kebangsawanan, dan bekhidmat sepenuhnya pada pikiran. Tanda itu bernama ‘kaum terpelajar’ atau ‘pemuda-pelajar’, atau seringkali diungkapan dalam bahawa Belanda, ‘jong’. Dalam tanda dan peta-jalan seperti inilah generasi Sukarno, Hatta, Sjahrir dan Natsir dibesarkan. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Semua tokoh-tokoh ini lahir pada dekade pertama abad ke-20, dan semuanya tak bisa dikatakan sebagai anak-anak priyayi tinggi. Sukarno hanyalah anak priyayi-rendahan yang mujur bisa masuk ELS karena pertolongan seorang guru Belanda; Hatta adalah anak ulama-pedagang, yang beruntung bisa diterima di ELS karena kekayaan keluarganya; Sjahrir berlatar sedikit lebih baik, ayahnya seorang jaksa pribumi sehingga diterima di ELS; Keluarga Natsir lebih rendahan lagi, ayahnya hanyalah seorang jurutulis kontelir, yang membuatnya hanya diterima di HIS. Alhasil, mereka bisa memasuki pendidikan sistem Eropa, berkat kegigihan generasi sebelumnya dalam menciptakan tanda; tanda yang membuat Belanda terpaksa mengendurkan persyaratan keturunan. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Kebetulan juga, generasi ini merupakan buah pertama dari gelombang ‘pem-belanda-an </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(Dutchification)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> yang intens serta politik asosiasi yang dicanangkan oleh Snouck Hurgronje. Memasuki abad ke-20, bahasa dan budaya Belanda makin penting menyusul perluasan operasi perusahaan-perusahaan swasta Eropa, perluasan birokrasi dan institusi pendidikan, kemudahan hubungan antara Eropa dan Nusantara akibat dibukanya Terusan Suez (1869) serta munculnya arma-armada pelayaran swasta. Sejak itu, bahasa Belanda menggantikan bahasa lokal dalam pergaulan formal. Saat yang sama, politik asosiasi juga memperluas terpaan Barat terhadap kaum terdidik bumiputera. Politik ini bertujuan menciptakan negara Belanda dengan terdiri dari dua wilayah yang berjauhan, yang satu di Eropa Barat-Daya, yang lain di Asia Tenggara, namun secara spiritual saling berdekatan. Caranya, dengan mendidik anak-anak bumiputera secara Eropa. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Kedua hal ini memperluas akses kaum terdidik bumiputera terhadap pengajaran bahasa Belanda dan Eropa lainnya. Dengan bahasa sebagai kunci pembuka kepustakaan dunia, genenasi Sukarno mulai memasuki warga ‘respublica litteraria’ (republik kesusasteraan semesta), dan mampu berkenalan langsung dengan pemikiran dan wacana semasa tanpa perantara.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Di sinilah proses ‘mimikri’ itu menemukan katalisnya. Lewat studi dan bacaan, mereka memahami dan mereproduski subyek-subyek kolonial, atau pemikiran yang berkembang di tanah asal kaum penjajah. Saat yang sama, situasi diskriminatif yang dialaminya di tanah jajahan menyadarkan mereka akan kesenjangan yang lebar antara harapan dan kenyataan. Dengan senjata pengetahuan yang diperolehnya dari kaum penjajah, kini mereka bertekad untuk menghancurkan rumah kolonial.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="fi-FI" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span>Perjuangan selalu dimulai dari kerja wacana. Tanpa kata, perjuangan kehilangan arah. Seperti itu jugalah generasi Sukarno. Praksis wacana lewat kelompok studi dan kerja jurnalistik menjadi tahap awal dari perjuangan mereka. Sejak 1924, Hatta terlibat aktif di Perhimpunan Indonesia berikut jurnalnya </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><em><span>Indonesia Merdeka</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span>. Pada 1926, Sukarno mendirikan Algemene Studieclub berikut jurnalnya, </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><em><span>Indonesia Moeda</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span>. Saat yang sama ia juga aktif sebagai editor malajah SI, </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><em><span>Bandera Islam</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span> (1924-1927). Seperti Hatta, Sjahrir aktif di Perhimpunan Indonesia, dan kelak berperan penting dalam jurnal </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><em><span>Daulat Rakyat</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span>. </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Natsir mengikuti beberapa kelompok diskusi dan terlibat intens di Persatuan Islam. Sejak 1929 ia mulai menekuni kerja jurnalistik sebagai ko-editor dari jurnal </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>Pembela Islam</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>. Menulis adalah mencipta, dan mencipta selalu mensyaratkan membaca. Semakin banyak mencipta, semakin banyak membaca; semakin kaya bacaan, semakin kaya hasil penciptaan.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Bermula dari tanda, sejarah pemikiran dan kemerdekaan tercipta. Lantas, tanda apakah yang kita ciptakan pada awal abad ini? Inilah pertanyaan genting yang harus dicermati. Terdapat tanda-tanda bahwa ‘pikiran’ tak lagi menjadi ukuran kehormatan. Inteligensia dan politisi berhenti membaca dan mencipta, karena kepintaran kembali dihinakan oleh ‘kebangsawanan baru’ (kroni dan kekayaan). </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0.08in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Penaklukan daya pikir oleh ‘kebangsawanan baru’ membuat </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>mindset</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> kebangsaan kehilangan daya refleksivitasnya? Tanpa kemampuan refleksi diri, suatu bangsa kehilangan wahana pembelajaran untuk menakar, memperbaiki dan memperbaharui dirinya sendiri. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-top:0.08in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Tanpa kapasitas pembelajaran, bangsa Indonesia (secara keseluruhan) bergerak seperti zombie. Pertumbuhan penampilan fisiknya tak diikuti perkembangan rohaninya. Tampilan luar dari kemajuan peradaban modern segera kita tiru, tanpa penguasaan sistem penalarannya. Sebagai pengekor yang baik dari perkembangan </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>fashion</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> dunia, kita sering merasa dan bergaya seperti bangsa maju. Padahal, secara substantif, tak ubahnya bak </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Peterpan yang mengalami fiksasi ke fase “kanak-kanak” (jahiliyah).</span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><strong> </strong></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Bahkan bisa lebih buruk lagi. Dalam kasus strategi kebudayaan, kita cenderung mempertahankan yang buruk dan membuang yang baik.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="font-style:normal;" lang="en-US" align="justify">
<p align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Kian hari, penduduk kota-kota (metropolitan) di Indonesia kian terperangkap dalam jejaring keluhan. Bersama eskalasi pertumbuhan supermal yang dibangun di sembarang tempat, rongga-rongga ruang publik sebagai arena belajar kolektif, pertukaran pikiran, dan kreativitas budaya kian menyempit. Ruang publik, yang diidamkan oleh Habermas, sebagai </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>arena perbincangan rasional, bebas dan sederajat tanpa terhambat oleh ketidaksetaraan dalam kuasa uang dan status, kian terpinggirkan oleh penetrasi kapital. Tanpa ruang publik yang sehat, kota-kota besar di Indonesia tak bisa tumbuh sebagai polis-polis berperadaban tinggi. Tetapi, berhenti sebagai “hutan” beton yang menjadi situs yang nyaman bagi perkembangbiakan apa yang disebut Machiavelli sebagai “kota korup” (</span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>citta corrottisima</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>), atau apa yang disebut Al-Farabi sebagai “kota jahiliyah” </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(almudun al-jahiliyyah).</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Di dalam kota jahil ini, meritokrasi digantikan oleh mediokrasi. Fenomena mediokrasi ini berakar dari apa yang disebut Frank Furedi (2004) sebagai ”the cult of philistism”, pemujaan terhadap budaya kedangkalan oleh perhatian yang berlebihan terhadap interes-interes material dan praktis. Dunia pendidikan sebagai benteng kedalaman ilmu mengalami proses peluluhan kegairahan intelektual</span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>,</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> tergerus oleh dominasi etos manajerialisme dan instrumentalisme; suatu etos yang menghargai seni, budaya dan pendidikan sejauh yang menyediakan instrumen untuk melayani tujuan-tujuan praktis.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Orang-orang yang mengobarkan kegairahan intelektual berisiko dicap sebagai ’’elitis’, ’tak membumi’, dan ’marjinal’. Kedalaman ilmu dihindari, kedangkalan dirayakan. Sekolah-sekolah berlomba memberi kemudahan bagi orang-orang malas dan ”pecundang” dari kalangan atas, dengan memarjinalkan akses orang-orang rajin dan unggul dari kalangan bawah.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Tanpa kapasitas ilmu dan kedalaman pengetahuan, Indonesia tak memiliki fondasi daya saing. Apresiasi masyarakat terhadap ini bisa dibangkitkan dengan memancangkan kembali ”pikiran” sebagai ukuran kehormatan.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>Transformasi Etos</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Etos adalah karakter dan sikap dasar manusia terhadap diri dan dunianya. Ia merupakan aspek evaluatif yang memberi penilaian atas berharga tidaknya sesuatu serta memberi orientasi atas tindakan manusia, yang tercermin dalam sikap dan pilihan-pilihan yang dikembangkannya. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Etos pemuda selama ini kental berkarakter kekerasan dan ”kemalasan”, seperti tercermin dari munculnya berbagai laskar dan mentalitas ”pegawai”. Dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa, etos seperti itu harus ditransformasikan ke menjadi etos kerja dan prestasi sesuai dengan karakternya masing-masing. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"> </p>
<p align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Pergeseran etos dan karakter pemuda ini memerlukan proses persemaian dan pembudayaan dalam sistem pendidikan. Proses pendidikan sejak dini, baik secara formal, non-formal maupun informal, menjadi tumpuan untuk melahirkan manusia baru Indonesia dengan karakter yang kuat. Adapun karakter kuat ini dicirikan oleh kapasitas moral seseorang, seperti keterpercayaan dan kejujuran; </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="id-ID"><span style="font-style:normal;"><span>kekhasan kualitas seseorang yang membedakan dirinya dari orang lain; serta ketegaran untuk menghadapi kesulitan, ketidakenakan dan kegawatan.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="font-style:normal;" lang="id-ID" align="justify">
<p style="font-style:normal;" lang="id-ID" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Singkat kata, kita perlu menggalakan pendidikan karakter. Yang dimaksud dengan pendidikan karakter di sini adalah suatu payung istilah yang menjelaskan berbagai aspek pengajaran dan pembelajaran bagi perkembangan personal. Beberapa area di bawah payung ini meliputi “penalaran moral/pengembangan kognitif”; “pembelajaran sosial dan emosional”, “pendidikan/kebajikan moral”; “pendidikan keterampilan hidup”, “pendidikan kesehatan”; “pencegahan kekerasan”; “resolusi konflik”, dan “filsafat etik/moral”. Seperti diindikansikan oleh ragam istilah yang berkaitan dengan itu, pendidikan karakter bersifat luas dalam cakupan dan sulit untu didefinisikan secara tepat.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Pendidikan karakter menggarap pelbagai aspek dari pendidikan moral, pendidikan kewargaan, dan pengembangan karakter. Sifatnya yang </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>multi-faceted </span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>membuatnya menjadi konsep yang sulit untuk diberikan di sekolah. Setiap komponen memberikan perbedaan tekanan tentang apa yang penting dan dan apa yang semestinya diajarkan.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Pendidikan moral menitikberatkan dimensi etis dari individu dan masyarakat serta memeriksa bagaimana standar-standar kebenaran dan kesalahan dikembangkan. Agama dan filsafat menyediakan fondasi untuk diskusi-diskusi moral dan pertimbangan-pertimbangan etis tentang bagaimana restorasi nilai-nilai kebajikan berlangsung di lingkungan sekolah.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Pendidikan kewargaan </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(civic education)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> memberikan kesempatan bagi keterlibatan aktif dalam proses-proses demokratis yang berlangsung di sekolah dan komunitas. Basis pengetahuannya mencakup prinsip-prinsip dan nilai-nilai demokrasi yang dapat digunakan oleh siswa untuk memeriksa hak-hak sipil dan tanggung jawab mereka serta untuk berpartisipasi dalam komunitas lokal demi kebajikan bersama. Watak sipil, karakteristik warga negara yang baik dalam sistem demokrasi diamati dan ditekankan baik dalam pembelajaran di kelas maupun dalam aktivitas ekstra kurikuler. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Pengembangan karakter adalah suatu pendekatan holistik yang menghubungkan dimensi moral pendidikan dengan ranah sosial dan sipil dari kehidupan siswa. Sikap dan nilai dasar dari masyarakat diidentifikasi dan diteguhkan di sekolah dan komunitas. Pendidikan bersifat sarat nilai, karena masyarakat menentukan apa-apa yang akan dan tidak akan diteladani. Moral ditangkap </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(caught)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> bukan diajarkan </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(taught)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> dan kehidupan di ruang kelas jumbuh dengan makna moral yang membentuk karakter siswa dan perkembangan moral (Ryan, 1996: 75)</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Dalam pendidikan karakter, komunitas sekolah mengidentifikasi nilai-nilai inti sekolah dan pekerjaan untuk mendidik dan meneguhkan nilai-nilai bersama dalam kehidupan siswa. Konsensus mesti dicapai untuk mengembangkan visi bersama tentang sifat-sifat karakter yang harus dipelihara. Sifat-sifat karakter ini harus merembesi lingkungan belajar siswa/mahasiswa baik dalam kelas, jalan masuk, gimnasium, kafetaria, lapangan olah raga dan tempat-tempat lainnya. Sifat-sifat karakter merupakan bagian dari tatanan komunitas secara keseluruhan dan </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>stakeholders </span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>menyusun model dari perlaku yang diharapkan. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Pendidikan karakter seringkali diintroduksikan ke dalam kelas lewat studi tentang para pahlawan. Siswa memeriksa sifat-sifat karakter yang menjelma dalam diri para pahlawan itu. Studi seperti itu hanyalah bagian dari keseluruhan pendidikan karakter yang ditransformasikan menjadi etos komunitas sekolah. Pada intinya, untuk menanamkan nilai-nilai dasar, siswa harus bisa menemukan teladan yang baik dalam semua aspek kehidupan sekolah. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Thomas Lickona dalam buku terkenalnya, </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>Educating for Character (1991)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>, menyimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah usaha sengaja untuk menolong orang agar memahami, peduli akan, dan bertindak atas dasar inti nilai-nilai etis. Ia menegaskan bahwa tatkala kita berfikir tentang bentuk karakter yang ingin ditunjukkan oleh anak-anak, teramat jelas bahwa kita menghendaki mereka mampu menilai apa yang benar, peduli tentang apa yang benar, serta melakukan apa yang diyakininya benar—bahkan ketika harus menghadapi tekanan dari luar dan godaan dari dalam.</span></span></span></span></span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Hal pokok yang perlu ditekankan dalam pendidikan karakter adalah pentingnya pertautan pengetahuan moral (</span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>moral judgement</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>) dengan perilaku aktual </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(actual conduct) dalam</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> situasi konkrit </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(moral situations). </span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Adalah benar bahwa pengetahuan dan pemahaman moral adalah prasyarat bagi tindakan moral. Tidak seorangpun yang yang dapat bertindak atas dasar prinsip moral atau aturan tanpa terlebih dahulu memiliki kesadaran tentang hal itu. Masalahnya, keputusan moral sebagai tindakan aktual ditentukan dalam konteks situasi yang konkrit. Situasi moral yang berbeda bisa mempengaruhi keputusan tindakan moral yang berbeda.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;">“<span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Cacat terbesar dari pendidikan moral secara tradisional,” kata Norman J. Bull (1973), “adalah penekanannya pada pengajaran prinsip-prinsip moral secara tertutup, dengan sedikit rujukan pada situasi-situasi yang konkrit.” Hal ini mengabaikan kenyataan bahwa terdapat keumuman dan kekhususan dalam kehidupan moral. Oleh karena itu, siswa harus diperkenalkan dengan pengalaman konkrit tentang bagaimana mengaplikasikan prinsip-prinsip moralitas yang umum itu ke dalam situasi yang spesifik, agar mereka tidak terjebak ke dalam keputusan dan tindakan moral yang bersifat hitam-putih. </span></span></span></p>
<p style="font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Akhirnya, patut dihayati nasihat Kidder yang menekankan pentingnya para pendidik untuk meyakini bahwa mereka, sebagai individu, sanggup membuat perbedaan. Beberapa orang yang pernah bangkit dari keterpurukan hidup seringkali menyebut perang penting seseorang, dan itu seringkali guru/dosen. Kekuatan dari keteladanan seseorang sungguh fenomenal. </span></span></span></p>
<p style="font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>Pendidikan Berorientasi Meritokrasi</strong></span></span></span></p>
<p style="font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Pendidikan karakter seperti telah diuraikan tadi baru merespon satu dimensi pembentukan karakter, yakni segi kepribadian yang terkait dengan kualitas-kualitas moral, seperti keterpercayaan dan kejujuran. </span></span></span></p>
<p style="font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Masih ada dimensi lain dari karakter yang perlu juga diperhatikan dalam proses pendidikan, yakni kesadaran seseorang akan potensi dan kapasitasnya yang khas yang membedakan dirinya dari orang lain. Aktualisasi dari kesadaran ini adalah pemupukan keandalan khusus seseorang yang memungkinkannya memiliki daya tahan (ketegaran) dan daya saing dalam perjuangan hidup. Keandalan ini berkaitan dengan optimalisasi ragam pontensi insani dengan peneguhan sistem meritokrasi yang memuliakan ragam inteligensia manusia. </span></span></span></p>
<p align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Dalam konteks ini, proses pendidikan terkait dengan budaya dan praksis demokrasi dalam skala makro kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahwa dalam sistem demokrasi proses perekrutan sumberdaya insani di segala lini idealnya tak bisa mengandalkan pada keturunan seperti dalam aristokrasi; tidak juga pada kekayaan bawaan seperti dalam plutokrasi; tetapi harus berjejak pada prestasi </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(merit) warga </span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>negara di segala bidang. Dengan kata lain, demokrasi menghendaki sistem rektrumen sumberdaya berdasarkan meritokrasi. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span>Meritokrasi merupakan solusi atas nepotisme, kelembaman kepemimpinan serta daya saing bangsa. Tentang hal ini, Inggris memberi contoh terbaik. Hingga abad ke-18, Inggris terkenal sebagai rumah nepotisme. Sebagai negeri yang tidak pernah dijajah, tidak pernah sepenuhnya kalah dalam perang, dan tidak pernah diguncang revolusi politik, Inggris tak pernah berjeda untuk membuat awalan segar </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><em><span>(fresh start</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span>). Akibat ketiadaan disrupsi ini, masyarakat Inggris tetap bermental pedesaan jauh setelah 80 persen penduduknya tinggal di kota. </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Dalam mental pedesaan inilah feodalisme bertahan, bersekutu dengan nepotisme. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Beruntung, Inggris segera mendapat tekanan dari luar dan dalam. Tekanan dari luar datang dari persaingan dan perseteruan internasional. Peperangan antarbangsa, sebagai perwujudan sempurna kompetisi internasional, ternyata memberi desakan kuat bagi keharusan menghargai merit. Perang bukan saja mendorong penemuan teknologi, tetapi juga merangsang penggunaan sumber daya manusia secara lebih baik. Sejak Perang Dunia I, tes IQ diberlakukan guna merekrut personel-personel ketentaraan. Tantangan ini pada gilirannya mendorong reformasi di bidang pendidikan. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Dari dalam, tekanan muncul dari menguatnya aspirasi-aspirasi sosialis yang melancarkan serangan terhadap segala jenis pengaruh keluarga terhadap dunia kerja. Aspirasi sosialis mempercepat tumbuhnya organisasi berskala besar yang mendorong promosi atas dasar merit. Mereka juga menuntut kesetaraan lebih besar dalam akses ke dunia pendidikan, lewat gagasan ”universal education” yang memberi akses pendidikan dan materi pelajaran yang sama bagi setiap warga. Akhirnya, dalam melawan kepemimpinan konservatif, kaum sosialis mengidentifikasi kesetaraan dengan perluasan meritokrasi (Young, 1994).</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span>Pengalaman Inggris mengisyaratkan pergeseran dari nepotisme ke meritokrasi memerlukan perjuangan kuasa. Ide-ide sosialistik dibutuhkan sebagai pendobrak ketimpangan masyarakat yang ditimbulkan keturunan maupun kepemilikan. </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Perjuangan ini harus dimulai sejak dini, dalam akses orang terhadap dunia pendidikan. Seperti kata Pierre Bourdieu (1988), pendidikan memberikan bukan sekadar skemata bagi perbedaan kelas dan prinsip fundamental bagi pemapanan tertib sosial, tetapi juga menjadi katalis bagi perjuangan kuasa yang kompetitif. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Pendidikan berorientasi meritokrasi harus menghilangkan diskriminasi manusia berdasar jenis inteligensia tertentu—yang membuat orang dengan inteligensia lain dianggap sampah masyarakat. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Demokrasi pendidikan harus memberi ruang aktualisasi bagi keragaman inteligensia </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(multiple-intelligences</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>) manusia, yang meliputi kecerdasan linguistik, logik-matematik, spasial, musik, kinestetik, interpersonal dan intrapersonal (Gardner, 1993). </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Orientasi pada pemuliaan ragam inteligensia mengandung konsekuensi bagi dunia pendidikan. Perlu ada perubahan pemahaman terhadap peserta didik. Bahwa sesungguhnya tidak ada manusia sampah. Yang ada adalah, setiap orang memiliki karakter dan potensi inteligensia yang berbeda-beda. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Oleh karena itu perlu ada perubahan sistem pengajaran dari ”class-centered school” (sekolah berorientasi kelas) menuju ”individual-centered school” (sekolah berorientasi individu). Kurikulum inti </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(core curriculum)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> dibuat lebih terbatas untuk memberi keleluasaan bagi individu untuk mengambil matapelajaran pilihan </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(elective)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> sesuai dengan minat dan bakatnya. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Konsekuennya fungsi guru/dosen bergeser dari peran tradisionalnya. Selain mengajar, guru/dosen harus berperan sebagai ‘spesialis penilai’ </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(assessment specialist)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> untuk memantau potensi dan kecenderungan masing-masing peserta didik; lalu berperan sebagai broker kurikulum yang membantu peserta didik memilih matapelajaran</span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span> (student-curriculum broker)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>; dan sekaligus menjadi broker yang menghubungkan siswa dengan komunitas yang lebih luas guna mendapatkan pengalaman belajar langsung dari dunia nyata </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>(school-community broker). </span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Akhirnya, guru/dosen juga harus diberi derajat kebebasan yang lebih besar untuk mengembangkan kreativitas dan inovasinya dalam proses pengajaran.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Alhasil, sekolah/universitas di masa depan dituntut untuk lebih menghargai keunikan dan otonomi individu serta mengembangkan iklim yang kondusif bagi pembentukan konsep diri yang positif. Pemuliaan terhadap aneka inteligensia dan pengembangan konsep diri yang positif ini bisa mendorong lahirnya manusia unggul di segala bidang dengan merit dan karakter yang tangguh. Yakni manusia yang memiliki keunggulan khas, dapat diandalkan, dan memiliki daya tahan dalam kesulitan dan persaingan. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>Kelemahan Pendidikan Karakater di Indonesia</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Dari tuntutan-tuntutan ideal dalam pendidikan karakter seperti yang dipaparkan di atas, menjadi terang peta bumi persoalan pendidikan karakter di tanah air ini. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Sejauh menyangkut pendidikan kepribadian/budi pekerti, cacat yang paling jelas adalah verbalisme dengan lalu lintas komunikasi satu arah. Aneka bentuk pendidikan budi pekerti diberikan secara terfragmentasi dalam bentuk pelajaran khsusus, seperti pendidikan moral pancasila, seraya dilupakan integrasinya ke dalam keseluruhan matapelajaran dan proses pembelajaran. Pendidikan melalui suatu sudut kurikulum ini pun diringkas ke dalam formula ”menu siap saji”, berupa rangkaian paket jadi yang memberi siswa sedikit pilihan dan menumpulkan kapasitas </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>moral judgement</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>-nya. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Guru/dosen juga cenderung mendedahkan prinsip-prinsip moral umum secara satu arah, tanpa melibatkan partisipasi siswa untuk bertanya dan mengajukan pengalaman empiriknya. Pengajaran moral/budi pekerti dilakukan secara terisolasi dengan tidak memberikan wahana kepada siswa suatu pengalaman terstuktur untuk menghubungkan </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>moral judgment</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> dan </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em><span>moral situations</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span> yang dihadapinya.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Sejauh menyangkut proses pendidikan yang berorientasi pemuliaan aneka potensi insani, arus demokratisasi yang berhembus bersama era reformasi ternyata tidak seiring dengan meritokrasi. Yang terjadi malahan sebaliknya, yakni fenomena mediokrasi, berupa peluluhan standar-standar keunggulan di segala bidang demi memberi tempat yang luas bagi orang rata-rata. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Diskriminasi manusia atas dasar inteligensia juga begitu nyata di sini. Sistem penjurusan dan ujian nasional dibuat dengan menempatkan keunggulan dalam jenis inteligensia tertentu (terutama logik-matematik) sebagai ukuran utama untuk menempatkan orang sebagai warga negara kelas satu dan kelas dua. Pluralitas Indonesia dengan segala pluralitas potensi dan preferensi insaninya diabaikan oleh sentralisasi birokrasi pendidikan dalam budaya nir-demokratis dan involusi gagasan yang terus bertahan.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Dengan kegagalan yang nyata pada dua dimensi pendidikan karakter itu, nama Indonesia terkenal di pentas dunia karena kisah yang buruk: bangsa korup dengan moralitas yang lembek serta kapasistas daya saingnya yang terus merosot dalam kompetisi antar bangsa. </span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Orang-orang harus dibangunkan. Kesadaran harus dihidupkan. </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span>Kejatuhan politik cuma kehilangan penguasa; kejatuhan ekonomi, cuma kehilangan sesuatu. Tapi kalau kejatuhan karakter, suatu bangsa kehilangan segalanya. Saatnya memperhatikan dan memperbaiki pendidikan karakter. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="fi-FI" align="justify">
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="fi-FI" align="justify">
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>Penutup </strong></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Telah berlalu masa yang panjang ketika kacang melupakan kulitanya, Indonesia menyangkali daya mudanya. Indonesia kehilangan elat vitalnya, karena potensi kaum muda dimarjinalkan oleh penuaan dunia politik.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Mesin dan visi tua akan sulit bersaing dalam pacuan kompetisi antarbangsa yang kian sengit. Perlu darah segar dengan gagasan progresif agar bangsa ini bisa meraih kembali kehormatannya di pentas dunia.</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span>Upaya penemuan kembali </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><em><span>(reinventing)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span> Indonesia harus sejalan dengan upaya pemudaan kembali </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><em><span>(rejuvenating)</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span> Indonesia. </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="sv-SE"><span style="font-style:normal;"><span>Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan transformasi paradigmatik dalam kebudayaan. </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span>Strategi kebudayaan harus melakukan reorientasi pada dimensi mitos, logos dan etos. Kepercayaan kembali pada potensi kaum muda sebagai agen perubahan, pengukuhan kembali ilmu sebagai ukuran kehormatan, serta pemupukan etos kerja lewat pendidikan karakter yang memuliakan akhlak dan meritokrasi berbasis aktualisasi ragam kecerdasan insani. </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;">Dengan cara itu, Indonesi bisa menatap masa depan dengan penuh optimisme. Semoga!</span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.07in;margin-bottom:0.07in;font-style:normal;" lang="sv-SE" align="justify">
<p style="font-style:normal;" lang="fi-FI" align="justify"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>Rujukan</strong></span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.75in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><span style="font-style:normal;"><span>Armstrong, K. 2006, </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="fi-FI"><em><span>The Great Trans</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><span>formation: The World in the time of Buddha, Socrates, Confucius and Jeremiah</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>, Atlantic Books, London.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.75in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Bourdieu, P. 1988, </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><span>Homo Academicus</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>, terj. Peter Collier, Polity Press, Cambridge.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.75in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Bull, N. J. 1973, </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><span>Moral Education</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>, Routledge &amp; Kegan Paul, London.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.75in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Furedi, F. 2004, </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><span>Where have all the intellectuals gone?</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>, Continuum, London.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.75in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Gardner, H. 1993, </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><span>Multiple Intelligences: A Reader</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>, BasicBooks, New York.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.75in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Kidder, K. 1995, </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><span>How Good People Make Tough Choices</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>, Morrow, New York</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.75in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Lickona, T. 1991, </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><span>Educating for character, </span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Bantam Books, New York.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.75in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Ryan, K. 1996, &#8220;Character Education in the United States”, </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><span>Journal For A Just And Caring Education, </span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>No. 2 (January 1996), pp. 75-84.   </span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.75in;" align="justify"><span style="font-size:medium;"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>Young, M. 1994, </span></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><em><span>The Rise of the Meritocracy</span></em></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="font-family:Arial, sans-serif;"><span lang="en-US"><span style="font-style:normal;"><span>, Transaction Publishers, London.</span></span></span></span></span></span></p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"> </p>
<p style="margin-top:0.08in;margin-bottom:0;font-style:normal;" lang="en-US" align="justify"> </p>
<p style="margin-bottom:0;"> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ricows.wordpress.com/114/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ricows.wordpress.com/114/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ricows.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ricows.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ricows.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ricows.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ricows.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ricows.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ricows.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ricows.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ricows.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ricows.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ricows.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ricows.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ricows.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ricows.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=114&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ricows.wordpress.com/2008/05/29/kebangkitan-bangsa-dengan-memudakan-kembali-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec2d4e749b6e920f14e29f3ec57fae96?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hariqows</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>He is Malaka..</title>
		<link>http://ricows.wordpress.com/2008/02/14/he-is-malaka/</link>
		<comments>http://ricows.wordpress.com/2008/02/14/he-is-malaka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2008 12:45:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hariqows</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ricows.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[How can we fly with the broken wings&#8230; Tan Malaka, Manusia ideal memiliki tiga aspek: kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Dengan perkataan lain: pengetahuan, akhlaq, dan seni. Menurut fithrahnya dia adalah khalifah Allah. Dia adalah kehendak yang komit dengan tiga macam dimensi: kesadaran, kemerdekaan, dan kreativitas Pejuang sering muncul dari kalangan rakyat jelata yang mempunyai kecakapan berkomunikasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=112&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-113" href="http://ricows.wordpress.com/2008/02/14/he-is-malaka/tan-malaka-putra-minangkabau-paling-kiri/" title="tan malaka putra minangkabau (paling kiri)"><img src="http://ricows.files.wordpress.com/2008/02/tan-malaka.thumbnail.jpg?w=500" alt="tan malaka putra minangkabau (paling kiri)" /></a>How can we fly with the broken wings&#8230;</p>
<p>Tan Malaka,</p>
<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Manusia ideal memiliki tiga aspek: kebenaran, kebajikan, dan keindahan. Dengan perkataan lain: pengetahuan, akhlaq, dan seni. Menurut fithrahnya dia adalah khalifah Allah. Dia adalah kehendak yang komit dengan tiga macam dimensi: kesadaran, kemerdekaan, dan kreativitas</font></font><font size="3" face="Times New Roman"> </font><font size="3"><font face="Times New Roman">Pejuang sering muncul dari kalangan rakyat jelata yang mempunyai kecakapan berkomunikasi dengan rakyat untuk menciptakan semboyan-semboyan baru, memproyeksikan pandangan baru, memulai gerakan baru, dan melahirkan energi baru ke dalam jantung kesadaran masyarakat. Gerakan mereka adalah gerakan revolusioner mendobrak, tetapi konstruktif. Dari masyarakat beku menjadi progresif, dan memiliki pandangan untuk menentukan nasibnya sendiri. Seperti halnya para nabi, <i>rausyanfikr </i>tidak termasuk golongan ilmuwan dan bukan bagian dari rakyat jelata yang tidak berkesadaran dan mandek. Mereka individu yang mempunyai kesadaran dan tanggung jawab untuk menghasilkan lompatan besar</font></font><span style="font-size:13pt;font-family:Times;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><font size="3" face="Times New Roman">Mereka yang berjuang tanpa ideologi dan keikhlasan akan jatuh ke dalam ketidakbermaknaan atas karya-karya dan jerih payah yang mereka kerjakan, tanpa suatu misi tertentu, motivasi yang hakiki, serta harapan yang lebih besar untuk mereka dapatkan dari sekedar uang, privelese, dan penghargaan oleh manusia. (Syariati)</font></p>
<p><font size="3" face="Times New Roman"> </font><font size="3"><font face="Times New Roman">Selamat Jalan Tan Malaka</font></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ricows.wordpress.com/112/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ricows.wordpress.com/112/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ricows.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ricows.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ricows.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ricows.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ricows.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ricows.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ricows.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ricows.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ricows.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ricows.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ricows.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ricows.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ricows.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ricows.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ricows.wordpress.com&amp;blog=1895079&amp;post=112&amp;subd=ricows&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ricows.wordpress.com/2008/02/14/he-is-malaka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec2d4e749b6e920f14e29f3ec57fae96?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hariqows</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ricows.files.wordpress.com/2008/02/tan-malaka.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tan malaka putra minangkabau (paling kiri)</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
