Feeds:
Pos
Komentar

aku belajar bahwa membenci dan menolak sebagian dari diriku sendiri akan sama saja arti dan maknanya dengan mengutuk diriku sendiri, untuk tidak pernah berdamai dengan diriku sendiri……,

aku benar-benar belajar untuk dapat menerima diriku seutuhnya, apa adanya secara total dan tanpa syarat……….

itulah diriku pada kenyataan yang nyata…….aku terima diriku sebagaimana adanya dia

coba balikkan punggungmu..dan lihatlah jalan yang engkau tempuh selama ini

(petikan kecil dari makalah panjang cokronagoro, aku dikasih oleh mas haryanto 20/01/09..judul aku buat sendiri)

Iklan


oleh :
Hariqo wibawa satria – Riqo WS
(Dir. Eksekutif PSPN)

ABSTRAKSI
Anak itu..Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu (K.Gibran).

Ilmu tentang manusia yang diistilahkan para ahli dengan antropologi terbagi dua. Apabila kita memandang manusia dari segi jasmaniahnya, maka kita akan memasuki lapangan antropologi fisik. Tetapi jika kita memandang dari segi rohaniyahnya, kita memasuki medan antropologi kebudayaan atau dipendekkan dengan antropologi budaya.
Sebagi contoh, mengenai ruh. ”Apa yang kita pahami tentang ruh?”. Sekalipun ilmu pengetahuan telah melonjak tinggi ke ruang angkasa luar dan menghujam kapitala bumi, namun sedikit sekali pengetahuan kita tentang ruh, belum lagi mengenai jiwa. Sebab itulah pengetahuan manusia dibagi dalam tiga hal. Pengetahuan inderawi, pengetahuan ilmu, pengetahuan filsafat.
Oleh karena itu, untuk memahami fenomena Anak Gifted (anak berbakat khusus), pengetahuan inderawi saja tidak cukup untuk memahaminya. Untuk memahami gula saja indera senantiasa berbeda (misal : mata mengatakan gula itu putih, sedangkan lidah mengatakan gula itu manis, lalu mana yang benar, Apakah keduanya benar?, bukankah kebenaran itu hanya satu?).
Maka dibutuhkan pengetahuan ilmu untuk memahami ”Anak Gifted”. Pengetahuan ilmu lahir dari cara berfikir yang sistematis dan radikal, disertai riset dan eksperimen yang memadai. Hasil berfikir dengan metode-metode inilah yang membentuk pengetahuan ilmu. Selanjutnya pengetahuan tersebut dikaji lagi secara lebih dalam, untuk kemudian di sinergiskan dengan ilmu pendidikan, hukum, psikologi, budaya,dll, sehingga melahirkan pengetahuan filsafat. Pengetahuan filsafat inilah yang menjadi menjadi payung ilmiah sebuah tindakan.
Kebanyakan dari masyarakat kita, baru telinga mereka saja yang mendengar istilah ”Anak Gifted”. Tahapan ini disebut pengetahuan inderawi. Sehingga sering terdengar ungkapan ”kalo istilah itu saya pernah dengar, tapi ga tahu maksudnya apa?”. Disinilah peran Negara harus ditunjukan di tengah masih lemahnya budaya membaca di masyarakat apalagi searching informasi di internet. Sebab itu, dibutuhkan sebuah media belajar bersama agar masyarakat memahami tentang anak Gifted. Selanjutkan akan kami jelaskan secara terbatas mengenai beberapa hal tentang anak Gifted.

SEJARAH DAN PENGERTIAN ANAK GIFTED
(penulis merangkum data dibawah dari berbagai sumber, dan untuk lebih mendapatkan solusi yang lebuh terang, YABM bersama PSPN dan Dinas Pendidikan DIY telah melaksanakan Seminar bersama para pakar-pakar untuk merumuskan media belajar bersama bagi anak berbakat khusus (gifted) pada 10 januari 2008 di Auditorium Dinas Pendidikan DIY)

Anak gifted diartikan sebagai anak berbakat khusus. Istilah mengenai gifted atau berbakat ini memang sudah sering kita dengar, hanya saja klasifikasi atau kategori dari seorang anak yang dapat dikatakan sebagai anak gifted ini yang perlu kita cermati lebih mendalam.
Di tataran publik istilah gifted pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton pada tahun 1869. Gifted dalam pengertian yang diperkenalkan oleh Galton pada masa itu merujuk pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Titik tekan konsepsi keberbakatan istimewa menurut Galton ada pada berbagai bidang. Ia memberi contoh seperti ahli kimia Madame Curie sebagai gifted chemist (ahli kimia dengan bakat luar biasa atau istimewa).
Menurut Galton keberbakatan istimewa ini adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Artinya keberbakatan istimewa adalah sesuatu potensi yang menurun (genetically herediter). Anak-anak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa ini kemudian lazim disebut sebagai gifted children.
Keberbakatan yang berdasarkan sekolah biasanya melihat kemampuan relative. Anak diidentifikasikan berdasarkan penampilannya membandingkan dengan teman sekelasnya. Anak dengan ranking 5-10% ditingkat atas memerlukan kurikulum yang lebih menantang dibandingkan dengan kurikulum regular. Definisi keberbakatan secara ini akan membingungkan orangtua, karena anak yang berbakat, ternyata disekolah lain dinyatakan tidak berbakat.
Hollingworth mendefinisikan keberbakatan sebagai potensi anak yang harus digali sehingga saat dewasa akan lebih berkembang. Linda Silverman menambahkan bahwa pada anak berbakat didapatkan perkembangan yang tidak sinkron. Jadi tidak hanya IQ dan kemampuan, tapi juga emosi dan hipersensitifitas.
Perkembangan yang tidak sinkron dimaksud adalah perkembangan intelektual, fisik dan emosi tidak berjalan dengan kecepatan yang sama. Kemampuan intelektual selalu berkembang lebih cepat. Dengan adanya perkembangan yang tidak sinkron ini diperlukan modifikasi dalam hal pengasuhan baik oleh orangtua, guru maupun konselor agar anak dapat berkembang optimal.

BATASAN TENTANG ISTILAH
KEBERBAKATAN ISTIMEWA (GIFTEDNESS)

Sampai saat ini tidak ada batasan tunggal yang merepresentasikan arti istilah gifted. Halmana karena memang tidaklah mudah untuk memberi batasan atas suatu fenomena yang kompleks seperti giftedness ini. Orang tua, guru, masyarakat, ahli, dan praktisi (khususnya di bidang psikologi dan pendidikan) pun juga memiliki beragam pemahaman atas apa yang dimaksud dengan keberbakatan istimewa (giftedness). Guna mempermudah pemahaman tentang makna istilah keberbakatan istimewa, berikut diuraikan secara singkat sejarah dan sudut pandang para ahli yang secara khusus melakukan studi dan penelitian tentang keberbakatan istimewa beserta ciri-cirinya

CIRI-CIRI ANAK Gifted

Anak-anak ini memiliki komitmen terhadap tugas yang sangat tinggi, mereka memiliki orientasi dan tanggung jawab yang jelas terhadap tugas yang diberikan. Cara lain yang dapat digunakan orang tua dalam mengidentifikasi anak gifted, yakni saat berusia antara 4 sampai 8 tahun. Selain itu juga terdapat beberapa karakteristik tertentu yang dapat diamati saat anak berada di rumah (Smutny, 1999):

1. Menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap banyak hal
2. Memiliki perbendaharaan kata yang banyak dan menggunakan kalimat lengkap saat berkomunikasi
3. Memiliki sense of humor dan berpikir dengan cerdas
4. Menyelesaikan masalah dengan cara yang unik atau tidak biasa
5. Memiliki ingatan yang bagus
6. Menunjukkan bakat yang menonjol dalam seni, musik atau drama
7. Menunjukkan imajinasi yang orisinil
8. Bekerja secara mandiri dan berinisiatif
9. Memiliki minat dalam membaca
10. Memiliki perhatian yang menetap atau keinginan yang menetap dalam tugas yang dikerjakan
11. Merupakan anak yang dapat belajar dengan cepat.

Sedangkan dari hasil-hasil penelitian yang dilakukannya, Renzulli dkk menarik kesimpulan bahwa yang menentukan keberbakatan seseorang pada hakikatnya adalah tiga kelompok ciri-ciri sebagai berikut :

1. Kemampuan di atas rata-rata
2. Kreativitas tinggi
3. Pengikatan diri atau tanggung jawab terhadap tugas (task commitment)

Keberbakatan itu sendiri sangatlah kompleks, bukan hanya ditentukan oleh Nilai IQ-nya saja, akan tetapi merupakan faktor multidimensi dan dinamis (van Tiel). Carpenter (2001) & Lyth (2003), Membagi anak berbakat atas: (I). Ringan (mild) IQ = 115-129; (II). Sedang (moderate) IQ = 130-144; (III). Tinggi (high) IQ = 145-159; (IV). Kekecualian (exceptional ) IQ = 160-179; (V). Amat sangat (Profound) IQ = 180 +.
IQ normal berkisar antara 85-115, dengan normal absolute 100. Makin besar jaraknya dari nilai normal, makin membutuhkan modifikasi sarana pendidikan Terdapat 3 kelompok anak berbakat:

1. Berbakat global: yaitu anak berbakat pada semua atau hampir semua area; biasanya matematika dan verbal;

2. Berbakat matematika: anak dengan kemampuan matematika yang tinggi. Anak ini akan baik dibidang spasial, sebab-sebab nonverbal, daya ingat;

3. Berbakat verbal: anak dengan kemampuan bahasa yang kuat. Anak ini mampu berbahasa yang lebih bila dibandingkan dengan anak seusianya. Penampilan verbalnya lebih baik.

Umumnya pada anak berbakat, prestasi belajarnya juga tinggi. Tapi dapat pula ditemukan anak berbakat yang prestasinyanya tidak optimal bahkan sering kali bermasalah. Prestasi yang kurang ini sering dianggap karena faktor motivasi dan psikologis. Anak sering dianggap malas dan tidak bersungguh sungguh, dan sering kali orangtua disalahkan karena tidak menerapkan disiplin. Banyak penelitian menyebutkan, diantara anak berbakat tidak berprestasi karena mengalami kesulitan yang terselubung (Silverman 2002).
Anak berbakat, walau dengan atau tanpa berada dikelas akselerasi, tetapi mempunyai potensi untuk berkembang. Mereka termotivasi secara internal. Dengan adanya minat /ketertarikan dan kesempatan, anak akan termotivasi. Jadi bila anak tertarik akan sesuatu dan terdapat kesempatan atau tantangan yang sesuai, maka dia akan dapat berprestasi (Brody 1997).
Terdapat juga beberapa bakat lainnya, yaitu :Bakat kognitif: sangat memperhatikan; penuh keingin tahuan; sangat tertarik; atensinya panjang, kemampuan untuk mengetahui alasan (reasoning) sangat baik; perkembangan tentang abstraksi, konseptual dan sintemasis baik; dengan mudah dan cepat dapat melihat adanya hubungan antara ide, objek dan fakta; proses berpikirnya cepat dan fleksibel. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah (problem solving) nya sangat baik; belajarnya cepat, dengan sedikit praktek dan pengulangan.
Bakat sosial dan emosional: tertarik dengan hal-hal philosofi dan sosial; sangat sensitive dan emosional; sangat memperhatikan kejujuran dan keadilan; perfeksionis; energic; rasa humornya berkembang baik; umumnya termotivasi dari dalam dirinya sendiri; hubungan baik dengan orangtua, guru dan orang dewasa lain.
Bakat bahasa: perbendaharaan katanya sangat banyak; dapat membaca pada usia sangat dini, membacanya cepat dan sangat luas; sering bertanya tentang “bagaimana kalau”. Bakat yang lain: senang mempelajari sesuatu yang baru; menyenangi aktifitas intelektual; malakukan permainan intelektual; lebih memilih buku bacaan untuk anak yang lebih besar; skeptis, kritis dan penuh evaluative, perkembangannya asinkron (Bainbridge).
Menurut Bainbridge, anak berbakat sudah dapat terlihat sejak masak kanak, dimana anak menunjukan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pada usia dini tidak nyaman menghadapi hal yang sama (rutin) dengan waktu yang lama;
2. Sangat siaga (alert);
3. Tidurnya sedikit;
4. Tahapan tumbuh kembang untuk berjalan dan mengucapkan satu kata lebih cepat disbanding anak seusia;
5. Dapat ditemukan keterlambatan bicara, tapi kemudian bicara dengan kalimat penuh;
6. Mempunyai keinginan kuat untuk eksplorasi, investigasi, lingkungan;
7. Sangat aktif dan bertujuan;
8. Dapat membedakan antara fantasi dan realitas.

DIMANA PERMASALAHANNYA

Kondisi atau keadaan yang dialami oleh anak gifted ini merupakan suatu keadaan yang membanggakan dan diidamkan bagi para orang tua. Namun hanya sebagian kecil orang tua yang mampu memahi potensi tersebut. Dalam banyak kasus justru muncul kendala yang dihadapi oleh anak gifted, yakni berupa permasalahan:

1. Anak gifted biasanya memiliki problem dalam membina hubungan dengan teman. Karena kecerdasannya yang tinggi dan kemampuan berpikir yang bagus, sehingga tidak jarang teman sebayanya mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan mengimbangi pembicaraan dengan anak ini

2. Kurang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya, karena mereka cenderung mandiri dan sulit untuk merasa nyaman dengan keadaan yang ada

3. Mereka memiliki standart yang tinggi terhadap suatu pekerjaan, sehingga terkadang tidak disukai teman-temannya.

Anak berbakat dapat pula mengalami gangguan belajar. Kelompok ini dibagi atas 3 subgroups yaitu:

1. Anak telah teridentifikasi sebagai berbakat tapi kesulitan disekolah. Anak ini pencapaiannya dibawah kemampuannya, kadang adanya kesulitan belajar tidak terdiagnosa, sampai sekolah memberikan tambahan stimulus, sehingga kesulitan dibidang akademik terlihat dia berada dibawah kemampuan seusianya;
2. Anak dengan kesulitan belajar yang berat, sehingga adanya kemampuan bakat tidak pernah dikenali. Baum 1985 menemukan 33% anak dengan kesulitan belajar mempunyai kemampuan intelektual yang superior. Anak2 ini tidak pernah mendapatkan program untuk anak berbakat;
3. Anak dengan kemampuan dan kesulitan belajar yang saling menutupi secara tumpang tindih. Anak ini berada dikelas regular, dan kemampuannya pada tingkat rata-rata (Brody 1997).

Dari permasalahan sosial yang telah dijelaskan, secara tidak langsung pasti akan berpengaruh terhadap perkembangan emosinya. Anak akan merasa ditolak oleh lingkungannya, sulit bergaul dan kemudian menarik diri, bahkan frustasi dengan keadaan yang mereka alami. Karena ada perbedaan yang cukup jauh antara keadaan di sekeliling dengan kemampuannya yang jauh lebih tinggi dibanding anak lain seusianya.Sementara itu memperjuangkan pendidikan anak-anak dengan kecerdasan istimewa (gifted children) bukanlah hal mudah. Hal ini karena:

1. Berbagai komponen baik masyarakat, orang tua, dan pihak sekolah masih tidak memahami apa yang disebut anak cerdas istimewa (gifted children).

2. Pendidikan anak cerdas istimewa (gifted children) saat ini yang dikenal di Indonesia hanyalah kelas akselerasi, padahal sementara itu pendidikan model ini secara ilmiah sudah tidak disarankan lagi, karena terbukti justru tidak memperhatikan faktor kreativitas berpikir serta perkembangan sosial emosional seorang anak cerdas istimewa.

3. Karakteristik personalitas dan pola tumbuh kembang alamiah seorang anak cerdas istimewa masih tidak dipahami secara luas, sehingga berbagai kesulitan perkembangan seorang anak gifted tidak pernah dikenal oleh pihak-pihak yang seharusnya menyantuninya, terutama pihak sekolah. Sehingga anak-anak cerdas istimewa justru tidak diterima oleh institusi pendidikan karena dianggap sebagai anak bermasalah. Sekalipun itu adalah kelas akselerasi.

4. Dengan begitu kelas akselerasi pada akhirnya sebagai kelas anak cerdas istimewa tanpa murid cerdas istimewa, umumnya berisi anak cerdas normal yang mempunyai gaya belajar yang cocok dengan program yang ditekankan, yaitu pemampatan materi. Sementara itu anak-anak cerdas istimewa adalah seorang anak yang sangat mandiri, didaktif, kreatif berpikir analisis, tidak dapat ditekan apalagi dilakukan drilling harus cepat-cepet selesai.

5. Tidak pernah disadari bahwa semakin tinggi kecerdasan seorang anak ia akan mempunyai cara berpikir (cognitive style) yang berbeda dengan anak-anak normal sehingga ia membutuhkan ruang gerak leluasa untuk mengembangkan apa yang menjadi minatnya. Ia membutuhkan pendidikan bersama teman-teman sebayanya dalam kelas-kelas sekolah normal, dengan perhatian ektra ke dua arah yaitu kecerdasannya yang istimewa dan juga berbagai kesulitan tumbuh kembangnya. Bentuk kelas seperti ini yang kemudian disebut sebagai kelas-kelas inklusi.

6. Semakin tinggi inteligensia seorang anak, minatnya menjadi semakin sempit pada bidang-bidang khusus.

Maka, Identifikasi lebih awal terhadap anak gifted sangat disarankan karena anak-anak ini memerlukan penanganan atau intervensi sedini mungkin, agar tidak menghambat perkembangannya terutama dalam aspek sosial dan emosi. Orangtua diharapkan mengkomunikasikan hal ini dengan guru sekolahnya, atau dapat berkonsultasi langsung dengan para pakar pendidikan atau Psikolog.
Karena secara global pengasuhan dan pendidikan anak-anak masa kini cenderung semakin rumit, menuntut guru semakin professional dan menuntut orang tua untuk semakin turut berperan serta. Bukan itu saja, adanya pemeriksaan tumbuh kembang yang semakin teliti, menjadikan munculnya banyak kelompok anak-anak dengan keunikannya masing-masing yang kemudian disebut sebagai anak berkebutuhan khusus, termasuk di dalamnya adalah anak berbakat (gifted children) yang mengalami masalah perkembangan atau disinkronitas perkembangan (yang kami beri istilah Gifted Disinkroni), misalnya mengalami
keterlambatan bicara, masalah sosial emosional, dan sebagainya.
Konsep gifted kini juga semakin berubah dari single konsep bahwa gifted adalah perkembangan kognitif semata, menjadi konsep multidimensional dan dinamis, karena menyangkut bukan hanya perkembangan kognitif saja tetapi juga karakteristik personalitasnya, tumbuh kembangnya, dan lingkungannya. Karena itu kini semakin diketahui bahwa ternyata anak-anak gifted ini memiliki berbagai masalah dalam kehidupannya, yang belum banyak kita kenal. Tak heran jika kini banyak anak-anak gifted balita mendapatkan kekeliruan diagnosa seperti autisme atau ADHD, maupun gangguan belajar (learning disabilities).
Situasi ini mendorong orang tua, guru, dan berbagai profesi lainnya (orthopedagog, psikolog, dokter) untuk lebih mempelajari berbagai bentuk ini serta strategi pendekatannya. Orang tua dituntut dalam rangka pengasuhannya di rumah dan membantu pendidikannya di sekolah,guru dituntut memberikan metoda pengajaran yang cocok, pihak profesi lainnya dituntut memberikan arahan bimbingan dan saran, serta pengambil keputusan dan pemegang kebijaksaan pendidikan di tingkat pemerintahan pun dituntut untuk senantiasa memperbaharui strategi pendidikan nasional

PUISI CINTA INDONESIA

Puisi M.Yamin ‘ 1945

Abadilah Republik Indonesia
Untuk selama-lamanya,
Yang dilindungi tumpah-darah
Benua kepulauan yang indah,
Antara cakrawala langit yang murni Dengan bumi tanah yang sakti.

Di samping teman, di hadapan lawan Negara berdiri ditakdirkan Tuhan, Untuk keselamatan seluruh bangsa
Supaya berbahagia segenap ketika; Berbudi setia, tenaga Merdeka Dengan menjunjung kedaulatan Negara.

Di atas abu negara kedua
Kami membentuk negara ketiga, diiringkan lagu Indonesia Raya; Di bawah kibaran bendera bangsa,
Di sanalah rakyat hidup berlindung, Berjiwa merdeka, tempat bernaung.

Kami bersiap segenap ketika,
Dengan darah, jiwa dan raga,
Membela negara junjungan tinggi Penuh hiasan lukisan hati: Melur-cempaka dari daratan Awan angkasa putih kelihatan Buih gelombang dari lautan.

Hati yang mukmin selalu meminta Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Supaya Negara Republik Indonesia; Kuat dan kokoh selama-lamanya Melindungi rakyat, makmur selamat,

Hidup bersatu di laut-di darat.
Soekarno, Amanat Akhir Hayat :

Anakku,
simpan segala yang kau tahu.
Jangan ceritakan deritaku dan sakitku kepada rakyat, biarkan aku menjadi korban asal indonesia tetap bersatu.

Ini aku lakukan demi kesatuan, persatuan, keutuhan dan kejayaan bangsa. Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian,
bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya.

Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat

dan di atas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

– – –

SAJAK GARUDA

SELALU TERDENGAR OLEHKU SUARA, DARI PARUH GARUDA ITU :

kalau kau hisap darah rakyatku,
akan kutagih darah itu

kalau kau ambil tanah mereka,
akan kusengsarakan hari tuamu

kalau kau rebut hak mereka,
akan kubatalkan kebahagiaanmu

kalau kau rampok kenyang mereka,
akan kulaparkan anak cucumu

dan,
kalau kasih Tuhan kepada mereka kau halangi,
mayatmu tak ‘kan kuhormati

KALAU TELINGAKU KELIRU,
pastilah garuda HANYALAH GAMBAR DUNGU

(EMHA AINUN NADJIB – 1993
” DOA MOHON KUTUKAN ”
RISALAH GUSTI – 1995 )

Aku Mendengar Suara
Jerit Hewan Yang Terluka
Ada Orang Memanah Rembulan
Ada Anak Burung Terjatuh Dari Sarangnya
Orang-Orang Harus Dibangunkan
Kesaksian Harus Diberikan
Agar Kehidupan Bisa Terjaga
(Rendra, Yogyakarta 1974)

– – –
Zaman Edan
hidup di zaman edan
suasana jadi serba sulit
ikut edan tak tahan
tak ikut tak kebagian
malah dapat kesengsaraan

begitulah kehendak Allah
sebahagia – bahagia orang lupa lebih bahagia orang sadar dan waspada

(RONGGOWARSITO, fragmen bait ketujuh Serat Kalatida)

– – –

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini.
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(Chairil Anwar 1948, Siasat, Th III, No. 96 1949)

– – –

Setiap orang sederajat di hadapan hukum, menghargai hak-hak azasi, menghormati pikiran dan sikap sesama.

mengakui bahwa setiap
orang berhak memberikan saham pada kemajuan, prikemanusiaan nasionnya
dan kalau mungkin pada ummat manusia di semua penjuru dunia.

(Pramoedya Ananta Toer)

– – –

KITA ADALAH
PEMILIK SAH REPUBLIK INI

Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus.

(Taufik Ismail, 1966)

– – –

“MERDEKA ATAOE MATI !”
Bila kemerdekaan itu berwarna merah
putihnya terpahat peluh dan darah
mengintip tiap lorong sejarah
mengalir bagai gemericik air
hingga ke lubuk terpencil
ia bernama sanubari

“MERDEKA ATAOE MATI !” bila kemerdekaan itu terus merekah
rebahkan tanah – tanah merah
bertumbuhanlah
pepohonan kaku bernama
bangunan kokoh berkaca

“MERDEKA ATAOE MATI !” bila kemerdekaan berganti wajah
hingga tumbuh jenuh tumpahkan lelah itu
karena sanubari
tak lagi ikut memekik

pekikkanlah “MERDEKA !”
yang berwarna merah
tapi pekiknya
tak mandi peluh dan darah

AZWINA AZIZ MIRAZA

“SI KANCIL GEMAR MENGUTIL”
( INA MENTARI ANUGRAH PROMINDO – 1996 )
PANJI DI HADAPANKU

Kaukibarkan panji di hadapanku
hijau jernih diampu tongkat mutu-mutiara
di kananku berjalan, mengirin perlahan, ridha-mu
rata, dua sebaya, putih-putih, penuh
melimpah, kasih persih.

Gelap-gelap kami berempat menunggu-nunggu
mendengar-dengar suara sayang, panggilan-panjang, jauh
terjatuh, melayang-layang

Gelap-gelap kami berempat , meminta-minta
memohon-mohon, moga terbuka selimut
kabut. pembungkus halus nokta utama.

Jika nokta terbuka raya
Jika kabut tersingkap semua
cahaya ridha mengilau ke dalam
Nur rindu memancar keluar.
(Amir Hamzah)

PREAMBULE AD PSPN

ANGGARAN DASAR
PUSAT STUDI PEMUDA NUSANTARA (PSPN)

PEMBUKAAN

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah menjadikan 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, dan 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang kemudian kemerdekaan itu dikumandangkan juga atas nama bangsa Indonesia. Tahapan selanjutnya, bangsa-bangsa yang menamakan dirinya bangsa Indonesia tersebut mendirikan suatu Negara, yakni Negara Indonesia pada 18 Agustus 1945, ditandai dengan disahkannya Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila.
Menjadi semakin teranglah kemudian, bahwa Negara Indonesia yang dicita-citakan adalah Negara yang mampu menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab itu dibutuhkan kedaulatan rakyat sebagai dasar bernegara, kemudian kedaulatan rakyat itu harus berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan.
Negara seperti itulah yang dapat melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Negara yang dimaksud adalah Negara yang kuat yang pada akhirnya mampu menciptakan ketertiban dunia. Negara seperti inilah yang sewajarnya memimpin dunia, karena mendasarkan penyelesaian masalah diatas musyawarah dengan tujuan perdamaian abadi.
Atas dasar tersebut pemuda Indonesia, sebagai bagian yang paling dinamis dari masyarakat Indonesia dituntut untuk senantiasa memperjuangkan misi suci tersebut. Di butuhkan persatuan Indonesia untuk menciptakan dunia yang lebih baik, Dibutuhkan ilmu tentang Indonesia orang-orang Indonesia.
Dibutuhkan kebersamaan untuk sebuah gagasan besar, karena sesungguhnya usia manusia itu panjang, usia organisasi juga panjang, namun usia perjuangan untuk menegakkan kemandirian dan kedaulatan bangsa jauh lebih panjang lagi. Sebab itu beban perjuangan tidak dapat dilimpahkan kepada orang-orang, tetapi harus dilaksanakan dengan kekeluargaan, keikhlasan, gotong royong yang berlandaskan pada nilai-nilai kepatutan serta ilmu pengetahuan.
Selanjutnya atas berkat rakhmat Tuhan Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, dengan senantiasa menjadikan keikhlasan sebagai ruh perbuatan serta dalam rangka mencapai CITA-CITA NASIONAL DAN INTERNATIONAL bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pembukaan UUD 45.
Maka dengan segenap ketetapan hati kami menghimpun jiwa dalam Pusat Studi Pemuda Nusantara dengan Anggaran Dasar dengan prinsip-prinsip sebagai berikut : (1) AD/ART PSPN tidak bertentangan dengan UUD 1945 dan Pancasila, (2)AD/ART PSPN tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama dan kepercayaan luhur manapun, (3)AD/ ART PSPN tidak bertentangan dengan nilai-nilai universal umat manusia seperti keadilan, kejujuran, keindahan, cinta dan perdamaian.

peta-kuno3

PEMBUKAAN
( Preambule )


Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

UNDANG-UNDANG DASAR

BAB I
BENTUK DAN KEDAULATAN

Pasal 1

1. Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik.

2. Kedaulatan adalah di tangan rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.

BAB II

MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT
Pasal 2

1. Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat, ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan, menurut aturan yang ditetapkan dengan undang-undang.

2. Majelis Permusyawaratan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di ibu kota negara.

3. Segala putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat ditetapkan dengan suara yang terbanyak.

Pasal 3

Majelis Permusyawaratan Rakyat menetapkan Undang-Undang Dasar dan garis-garis besar daripada haluan negara.

BAB III
KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA

Pasal 4

1. Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar.

2. Dalam melakukan kewajibannya Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden.

Pasal 5

1. Presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

2. Presiden menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya.

Pasal 6

1. Presiden ialah orang Indonesia asli.

2. Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan suara yang terbanyak.

Pasal 7

Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali.

Pasal 8

Jika Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis waktunya.

Pasal 9

Sebelum memangku jabatannya, Presiden dan Wakil Presiden bersumpah menurut agama, atau berjanji dengan sungguh-sungguh di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat atau Dewan Perwakilan Rakyat sebagai berikut :

Sumpah Presiden (Wakil Presiden) :

“Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa”.

Janji Presiden (Wakil Presiden) :

“Saya berjanji dengan sungguh-sungguh akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa”.

Pasal 10

Presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

Pasal 11

Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain.

Pasal 12

Presiden menyatakan keadaan bahaya. Syarat-syarat dan akibatnya keadaan bahaya ditetapkan dengan undang-undang.

Pasal 13

1. Presiden mengangkat duta dan konsul.

2. Presiden menerima duta negara lain.

Pasal 14

Presiden memberi grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi.

Pasal 15

Presiden memberi gelaran, tanda jasa dan lain-lain tanda kehormatan.

BAB IV
DEWAN PERTIMBANGAN AGUNG
Pasal 16

1. Susunan Dewan Pertimbangan Agung ditetapkan dengan undang-undang.

2. Dewan ini berkewajiban memberi jawab atas pertanyaan Presiden dan berhak memajukan usul kepada pemerintah.

BAB V

KEMENTERIAN NEGARA

Pasal 17

1. Presiden dibantu oleh menteri-menteri negara.

2. Menteri-menteri itu diangkat dan diperhentikan oleh Presiden.

3. Menteri-menteri itu memimpin departemen pemerintah.

BAB VI
PEMERINTAH DAERAH

Pasal 18

Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang, dengan memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara, dan hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa.

]BAB VII
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT

Pasal 19

1. Susunan Dewan Perwakilan Rakyat ditetapkan dengan undang-undang.

2. Dewan Perwakilan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam setahun.

Pasal 20

1. Tiap-tiap undang-undang menghendaki persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.

2. Jika sesuatu rancangan undang-undang tidak mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat, maka rancangan tadi tidak boleh dimajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat masa itu.

Pasal 21

1. Anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat berhak memajukan rancangan undang-undang.

2. Jika rancangan itu, meskipun disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat, tidak disahkan oleh Presiden, maka rancangan tadi tidak boleh dimajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat masa itu.

Pasal 22

1. Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang.

2. Peraturan pemerintah itu harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut.

3. Jika tidak mendapat persetujuan, maka peraturan pemerintah itu harus dicabut.

BAB VIII
HAL KEUANGAN

Pasal 23

1. Anggaran pendapatan dan belanja ditetapkan tiap-tiap tahun dengan undang-undang. Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui anggaran yang diusulkan pemerintah, maka pemerintah menjalankan anggaran tahun yang lalu.

2. Segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan undang-undang.

3. Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undang-undang.

4. Hal keuangan negara selanjutnya diatur dengan undang-undang.

5. Untuk memeriksa tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan Pemeriksa Keuangan, yang peraturannya ditetapkan dengan undang-undang. Hasil pemeriksaan itu diberitahukan kepada Dewan Perwakilan rakyat.

BAB IX
KEKUASAAN KEHAKIMAN
Pasal 24

1. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut undang-undang.

2. Susunan dan kekuasaan badan-badan kehakiman itu diatur dengan undang-undang.

Pasal 25

Syarat-syarat untuk menjadi dan untuk diperhentikan sebagai hakim ditetapkan dengan undang-undang.

BAB X

WARGA NEGARA

Pasal 26

1. Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara.

2. Syarat-syarat yang mengenai kewarganegaraan ditetapkan dengan undang-undang.

Pasal 27

1. Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.

2. Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

Pasal 28

Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebaganya ditetapkan dengan undang-undang.

BAB XI
A G A M A

Pasal 29

1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

BAB XII
PERTAHANAN NEGARA
Pasal 30

1. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara.

2. Syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang.

BAB XIII
PENDIDIKAN

Pasal 31

1. Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.

2. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang.

Pasal 32

Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia.

BAB XIV
KESEJAHTERAAN SOSIAL

Pasal 33

1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Pasal 34

Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

BAB XV
BENDERA DAN BAHASA

Pasal 35

Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih.

Pasal 36

Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.

BAB XVI
PERUBAHAN UNDANG-UNDANG DASAR

Pasal 37

1. Untuk mengubah Undang-Undang Dasar sekurang-kurangnya 2/3 daripada jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat harus hadir.

2. Putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 daripada jumlah anggota yang hadir.

ATURAN PERALIHAN

Pasal I


Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengatur dan menyelenggarakan kepindahan pemerintahan kepada Pemerintah Indonesia.

Pasal II


Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang-Undang Dasar ini.

Pasal III

Untuk pertama kali Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Pasal IV


Sebelum Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Dewan Pertimbangan Agung dibentuk menurut Undang-Undang Dasar ini, segala kekuasaannya dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah komite nasional.

ATURAN TAMBAHAN

1. Dalam enam bulan sesudah akhirnya peperangan Asia Timur Raya, Presiden Indonesia mengatur dan menyelenggarakan segala hal yang ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar ini.

2. Dalam enam bulan sesudah Majelis Permusyawaratan Rakyat dibentuk, Majelis itu bersidang untuk menetapkan Undang-Undang Dasar.


Memutus Infuse Otoritarianisme di Indonesia[1]

(Ringkasan Buku Baskara T Wardaya)

Oleh : Hariqo Wibawa Satria – Rico WS *

 

 Jika diibaratkan seorang manusia, maka otoritarianisme sedang sakit, namun cairan vitamin terus dipompakan kebadannya melalui infuse, jika tidak diputus dia siap akan kembali sehat, Saat ini mulai menggeliat….

 

 

Seperti lazimnya penulisan sebuah karya ilmiah berisi tiga pokok yaitu : Pendahuluan, Isi dan  Kesimpulan. Maka buku ini sedikit berbeda. Dengan berani buku ini memaparkan berbagai hal yang mencengangkan tentang otoritarianisme di zaman Orde Baru hingga setelah reformasi, berbagai kesimpulan bisa kita dapatkan di bagian isi dan ujung setiap artikel yang tulis oleh para pakar di bidangnya, Pembaca dihidangkan berbagai fakta otentik tentang cara kerja orde baru yang otoriter, sehingga tidak ada  kesan provokatif dan kasar, karena semua fakta yang diungkap seputar watak otoritarianisme orde baru  sudah pernah dirasakan mayoritas penduduk negeri ini.

 Setidaknya ada dua pertanyaan yang akan dikupas tuntas oleh Dr. Baskara T. Wardaya dkk dalam buku ini, diantaranya: (1) Bagaimana Orde Baru berikut berbagai kelompok kepentingan yang telah dibentuknya mampu mereproduksi otoritarianisme hingga saat ini?, (2) Mengapa otoritarianisme tetap bisa bertahan hingga sekarang?, pembaca akan diajak menelusuri kembali jejak-jejak dari praktik-praktik dari mesin otoritarianisme orde baru, dari masa kini hingga ke awal berdirinya rejim tersebut.

Penelusuran tersebut dilakukan atas berbagai bidang yang selama ini telah dan masih menjadi ajang berlangsungnya otoritarianisme orde baru itu, seperti bidang pendidikan, pedesaan, agraria, peradilan dan  militer. Diharapkan dari hal ini pembaca mampu bersikap kritis terhadap perubahan semu, dan memandangnya sebagai proses dialektis antara masa sekarang dengan masa lalu dalam gerak menuju masa depan.

Berbagai kalangan khususnya civitas akademika Universitas Sanata Dharma berusaha menggali hal ini lebih dalam, maka digelarlah sebuah konferensi bertajuk “Konferensi Warisan Otoritarianisme, Mempertanyakan Transisi: Menelusuri Akar Otoritarisnisme di Indonesia” pada 17-19 November di kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Konferensi ini diadakan oleh Pusat Dokumentasi dan Etika Politik (PUSdep) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) dan ELSAM (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat), keduanya berpusat di Jakarta. Kegiatan ini juga dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-50 Universitas tersebut. Kelak dari Konferensi inilah lahir buku berjudul “Menelusuri Akar Otoritarianisme di Indonesia”.

Secara bahasa otoritarianisme dapat dimaknai sebagai paham yang menjelaskan bahwa hakikat manusia merupakan kolektivitas, sehingga tidak dibenarkan adanya hak-hak individu. Masyarakat tidak perlu susah payah berpikir, sebab sudah ada aturan dalam sistem yang telah dibuat oleh kekuasaan yang berasal dari luar masyarakat tersebut. Masyarakat hanya menjalankan apa yang telah dibuat oleh kekuasaan yang sakral.

Sumber kebenaran yang dianut paham ini adalah normatif ideologis. Ia berada di luar kekuasaan manusia sehingga kebenarannya bersifat mutlak, absolut, dan tidak dapat diverifikasi. Jika realitas tidak sesuai dengan nilai yang dirumuskan penguasa, maka realitas yang dianggap salah. Otoritarianisme tidak menganut prinsip binary, selalu ada cordinat dan sub-ordinat.

Di Masa orde baru hal ini bisa kita lihat dalam segala bidang, dan buku dengan cerdik mendialektiskan dengan masa sekarang. Misalnya otoritarianisme di bidang politik, Soeharto membatasi partai politik hanya tiga, sehingga 32 tahun ia mampu bertahta, dalam proses transisi di Indonesia pasca 1998 ternyata hanya menghasilkan kekuatan politik lama dengan “kemasan” yang baru, kita bisa melihat setelah dua kali pemilu,  kemiskinan, kualitas pendidikan, masih sama dengan rejim orde baru.

Di bidang hukum orde baru juga menelurkan paham otoritarianismenya. Pada masa pemerintahan pasca-Soeharto proses pembuatan undang-undang tetap didominasi oleh cara berfikir Orde Baru, seperti: (a)hanya mengubah sebagian kecil ketentuan dalam UU lama; (b) menguntungkan bagi akumulasi dan pelestarian kekuasaan, misalnya melalui undang-undang tentang pemilu; (c) menuruti pesanan international sebagaimana tampak dalam undang-undang yang ditujukan untuk mengintegrasikan perekonomian Indonesia kedalam sistem pasar global.

Oleh sebab itulah BAB II dalam buku ini menyimpulkan bahwa sebenarnya indonesia belum pernah mengalami masa transisi menuju perubahan dalam arti yang sesungguhnya, bahkan sejak masa kolonialisme. Transisi yang sejatinya harus mengarah pada perubahan yang lebih baik (otoritarianisme-demokrasi). justru yang terjadi malah transisi dari bentuk otoritarianisme yang satu menjadi otoritarianisme yang lain. Hal terkini bisa kita saksikan dari kesimpulan Rapimnas III Partai terbesar dinegeri ini yang mengatakan demokrasi adalah alat bukan tujuan, sehingga bisa dinomorduakan. Tentu bukan sebuah kebetulan kesimpulan ini muncul, melainkan karena Partai inilah yang menjadi owner politic di era Orde baru hingga saat ini. Sehingga watak otoritarianismenya kembali mucul.

Pada BAB III dalam buku ini pembaca akan mendapatkan analisis tajam tentang bagaimana pendidikan menjadi alat utama Orde Baru dalam melanggengkan kekuasaanya?. Mulai dari intimidasi guru-guru SLTA untuk memilih Golkar, hingga mekanisme kontrol yang menghambat perkembangan otak, disisi lain Orde Baru juga menciptakan sistem kepatuhan dan ketaatan. Kesadaran yang dimunculkan bukan lagi kesadaran diskursif melainkan kesadaran dibawah tekanan. Media menjadi salah satu institusi yang paling tertekan saat itu.

Sebab itu bisa dikatakan ideologi pendidikan Orde Baru adalah sterilisasi pendidikan dari politik. Hal ini bisa kita lihat dari ide-ide kebijakan pendidikan seperti “Wajib Belajar”. Link and Match” dijalankan seiring dengan muculnya pelajaran PSPB, Penataran P4, dan NKK/BKK. Pembangunan prasarana di bidang pendidikan khususnya Universitas juga diminimalisir. Pada tahun 1996-1997 saja misalnya, jumlah Universitas Negeri di Indonesia hanya 31 buah, sementara jumlah Universitas swasta mencapai 264 buah, angka ini menunjukan ketidakseriusan Orde Baru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pada bagian terakhir dari buku ini kita akan menyadari bahwa persoalan agraria yang muncul pasca reformasi mempunyai kaitan jelas dengan kebijakan Orde Baru di bidang agraria. Pencabutan hak rakyat atas tanah dengan berbagai alasan menjadi berita yang senantiasa ditutup-tutupi di era Orde Baru, Pasca reformasi masalah ini kian melebar karena suara-suara kritis kembali muncul menyusul Perpres 36/2005 tentang pengadaan tanah untuk kepentingan umum, dan penembakan petani di pasuruan oleh aparat Negara.

 Pembatasan hak atas kepemillikan tanah di wilayah perkotaan hingga hari ini juga belum jelas aturannya. Bagi yang kaya sangat mungkin sekali membangun lapangan Golf ditengah kota, sehingga selama 32 tahun ditambah 10 tahun era demokrasi nyaris tidak ada kemajuan berarti dalam masalah agrarian, tidak berlebihan jika Usep Setiawan mengakhiri tulisannya dalam buku ini dengan pernyataan “Tidak ada demokrasi tanpa reforma agraria”. Secara sistemik buku ini menjadi indra keenam kita terhadap sesuatu yang sebenarnya sedekat urat leher kita, namun tertutup kabut demokrasi. harapannya kita terlatih melihat “spirit otoritarianisme” dibalik sebuah kebijakan, untuk kemudian yang mengkritisinya dengan lebih cerdas. Selamat menjelajah.

 

Rico WS * Keturunan Nabi Adam

 


[1] Tulisan ini saya kirimkan ke Koran Media Indonesia, namun karena keterbatasan halaman Media Indonesia belum menyajikan semuanya. Trimakasih untuk Dewan Redaksi Media Indonesia.

KEBIJAKAN HARGA BBM BERTENTANGAN DENGAN KONSTITUSI DAN SARAT DENGAN PENYESATAN

[ Kwik Kian Gie]

 Mahkamah Konstitusi RI (MK) telah menguji Undang-Undang nomor 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, apakah isinya bertentangan dengan Undang-Undang Dasar kita.

 

Vonisnya ditetapkan dalam Rapat Permusyawaratan 9 (sembilan) Hakim Konstitusi pada hari Rabu, tanggal 15 Desember 2004, dan dituangkan dalam PUTUSAN Perkara Nomor 002/PUU-I/2003.
Putusan MK tersebut yang tentang kebijakan harga BBM berbunyi sebagai berikut : “Pasal 28 ayat (2) dan (3) yang berbunyi (2) Harga Bahan Bakar Minyak dan Harga Gas Bumi diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang sehat dan wajar; (3) Pelaksanaan kebijaksanaan harga sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak mengurangi tanggung jawab sosial Pemerintah terhadap golongan masyarakat tertentu”; Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4152) bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.”

Jadi menentukan harga BBM yang diserahkan pada mekanisme persaingan usaha dinyatakan bertentangan dengan Konstitusi kita, walaupun persaingan usahanya dikategorikan sehat dan wajar.

Setelah vonis tersebut, terbit sebuah ”pedoman” oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Departemen ESDM. Isinya mengatakan bahwa sebagai implikasi dari vonis MK “dilakukan
perubahan atas Pasal 72 Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Migas yang berkaitan dengan harga BBM dan Gas Bumi.

Harga jual BBM ditetapkan oleh Pemerintah dengan Peraturan Presiden.”

Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi pasal 72 ayat (1) berbunyi sebagai berikut.

 

 

 

(1)

Harga Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi kecuali Gas Bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil, diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang wajar, sehat dan transparan.

 Jadi sangat jelas bahwa Peraturan Pemerintah nomor 36 tahun 2004 tersebut tetap mengatakan bahwa harga BBM diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang wajar, sehat dan transparan”, walaupun oleh MK dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945. Yang dikecualikan Gas Bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil.

 Dalam berbagai penjelasannya, dalam menentukan harga BBM pemerintah memang mendasarkan diri pada persaingan usaha, bahkan persaingan usaha yang tidak sehat dan tidak fair.

Bagaimana penjelasannya? Kita ambil bensin jenis premium sebagai contoh. Ketika harga minyak mentah yang ditentukan berdasarkan mekanisme pasar atau mekanisme persaingan yang diselenggarakan oleh New York Mercantile Exchange (NYMEX) mencapai US$ 60 per barrel, harga bensin premium yang Rp. 2.700 per liter dinaikkan menjadi Rp. 4.500 per liter. Angka ini memang ekivalen dengan US$ 61,50 per barrelnya. Seperti kita ketahui, biaya lifting, refining dan transporting secara keseluruhan rata-ratanya US$ 10 per barrel. Kalau kita ambil US$ = Rp. 10.000, keseluruhan biaya ini adalah (10 : 159) x 10.000 = Rp. 628,9 atau dibulatkan menjadi Rp. 630 per liter. Jadi kalau harga bensin premium per liter dikonversi menjadi harga minyak mentah per barrel dalam US$, jadinya sebagai berikut : (4.500 – 630) x 159 : 10.000 = US$ 61,53. Ketika itu harga minyak di New York US$ 60 per barrel. Maka Wapres JK mengatakan bahwa mulai saat itu tidak ada istilah “subsdi” lagi untuk bensin premium, karena harga bensin premium sudah ekivalen dengan harga minyak mentah di New York

.

 

 

Ini adalah bukti bahwa harga bensin di Indonesia
ditentukan atas dasar mekanisme pasar atau mekanisme persaingan usaha yang berlangsung di NYMEX.

Artinya, ketika itu pemerintah tetap saja mendasarkan diri sepenuhnya pada mekanisme pasar atau mekanisme persaingan usaha, bahkan yang berlangsung di NYMEX.

BAGAIMANA SEKARANG?

Tindakan pemerintah menaikkan harga BBM yang berlaku mulai tanggal 24 Mei 2008 jam 00 jelas melanggar Konstitusi. Bagaimana penjelasannya?

Kompas tanggal 24 Mei 2008 memberitakan keterangan Menteri ESDM yang mengatakan bahwa “dengan tingkat harga baru itu, pemerintah masih mensubsidi harga premium sebesar Rp. 3.000 per liter karena ada perbedaan harga antara harga baru Rp. 6.000 per liter dan harga di pasar dunia sebesar Rp. 9.000 per liter.

Dari mana angka Rp. 9.000 per liter yang disebut harga dunia itu? Harga BBM Rp. 9.000 per liter dikurangi dengan biaya lifting, refining dan transporting sebesar Rp. 630 per liter, sehingga harga minyak mentahnya Rp. 9.000 – Rp. 630 = Rp. 8.370. Per barrelnya = Rp. 8.370 x 159 = Rp. 1.330.830. Kalau nilai rupiah kita ambil US$ 1 = Rp. 10.000, harga minyak mentah di pasar dunia sama dengan 1.330.830 : 10.000 = UD$ 133,08.

Sangat-sangat jelas isi pikirannya bahwa harga BBM untuk rakyatnya harus diserahkan sepenuhnya pada “mekanisme persaingan usaha” yang berlangsung di NYMEX, yang oleh MK dinyatakan bertentangan dengan Konstitusi.

Sekarang memang dinaikkan menjadi Rp. 6.000 per liter. Tetapi ini untuk sementara. Dalam pemberitaan yang sama di Kompas tanggal 24 Mei 2008 tersebut Menteri Keuangan menyatakan bahwa pada harga ini masih belum final. Sebenarnya secara implisit dikatakan bahwa akan diupayakan terus sampai harga persis sama dengan harga di pasar dunia, atau sepenuhnya diserahkan pada mekanisme persaingan usaha yang berlangsung di NYMEX.

Sebelumnya, yaitu seperti yang dimuat di Kompas tanggal 17 Mei 2008 Menko Boediono mengatakan “Pemerintah tidak ragu memberlakukan harga pasar dunia di dalam negeri karena langkah ini sudah dilakukan di banyak negara dan berhasil menekan subsidi BBM”. Apakah masih perlu penjelasan bahwa yang dimaksud Menko Boediono adalah harga BBM di Indonesia diserahkan sepenuhnya pada mekanisme persaingan usaha yang berlangsung di NYMEX? Dan apakah masih perlu penjelasan lagi bahwa Pemerintah jelas-jelas bertindak melawan vonis MK yang dengan sendirinya juga melawan Konstitusi?

PERSAINGAN YANG SEHAT DAN WAJAR?

Lebih gila lagi. Persaingan usaha yang dijadikan landasan mutlak bagi penentuan harga BBM di Indonesia sama sekali tidak sehat dan tidak wajar. Bagaimana penjelasannya?

 

 

 

1.

Volume minyak yang diperdagangkan di sana hanya 30% dari volume minyak di seluruh dunia. Sisanya yang 70% diperoleh perusahaan-perusahaan minyak raksasa atas dasar kontrak-kontrak langsung dengan negara-negara produsen minyak mentah. Di Indonesia melalui apa yang dinamakan Kontrak Bagi Hasil atau production sharing.

2.

Bagian terbesar minyak dunia diproduksi oleh negara-negara yang tergabung dalam sebuah kartel yang bernama OPEC. Kalau mekanisme persaingan dirusuhi oleh kartel, apa masih bisa disebut sehat dan wajar? Toh para menteri ekonomi kita secara membabi buta menerapkan dalil bahwa harga minyak yalah yang ditentukan di NYMEX itu, walaupun ditentang keras oleh MK.

3.

Harga yang terbentuk di NYMEX sangat dipengaruhi oleh perdagangan derivatif dan perdagangan oil future trading yang juga berlangsung di NYMEX. Sekarang ini para akhli mempertanyakan apakah betul bahwa permintaan minyak demikian drastis melonjaknya dan terus menerus seperti grafik harga minyak mentah di NYMEX? Banyak yang dengan argumentasi sangat kuat menuding spekulasi oleh hedge funds melalui future trading sebagai penyebabnya. Kok Indonesia terus ikut-ikutan lotre buntut ini secara membabi buta tanpa peduli apakah rakyatnya akan mati kelaparan atau tidak.

 


DUA KALKULASI HARGA POKOK BBM. MANA YANG BENAR DAN MANA YANG MENYESATKAN?

Berikut ini saya menyajikan dua buah kalkulasi. Tabel I atas dasar cash basis. Artinya harga pokok adalah uang yang dikeluarkan untuk memproduksi BBM. Tabel II kalkulasi atas dasar replacement value, yaitu yang disebut harga pokok minyak mentah adalah harga yang sedang berlaku di pasar dunia, ketika minyak mentah yang terkandung di dalam BBM dijual dengan penjualan BBM. Harga ini identik dengan harga yang beberapa kali per harinya ditentukan oleh NYMEX, dan sama sekali tidak dibayarkan oleh pemerintah Indonesia

, karena minyaknya tinggal menyedot saja dari perut buminya sendiri.

Kita lihat bahwa dalam Tabel I yang menganut faham harga pokok sama dengan uang yang dikeluarkan, pemerintah memperoleh laba atau kelebihan uang tunai sebesar Rp. 3.870 setiap liternya.

Dalam Tabel II, harga pokoknya harus sama dengan harga yang berlaku di NYMEX, yang dalam tabel tersebut diambil US$ 120 per barrel, walaupun Pemerintah tidak mengeluarkan uang ini, karena minyak mentahnya tinggal disedot saja dari perut buminya sendiri. Hasilnya rugi sebesar Rp. 3.677. Angka yang fiktif ini oleh pemerintah disajikan kepada rakyatnya seolah-olah identik dengan pengeluaran uang dari APBN. Maka dikatakan APBN-nya akan jebol, padahal uang tunai yang ada di APBN kelebihan Rp. 3.870 per liternya.

Untuk lebih memperjelas, lihat Tabel II. Harga pokok yang Rp. 7.547 itu kan

uang yang oleh Pertamina (milik rakyat) dibayarkan kepada pemerintah (milik rakyat). Kalau jumlah yang Rp. 7.547 ini ditambahkan pada yang dinamakan RUGI atau DEFISIT atau SUBSIDI, jadinya adalah surplus Rp. 3.870, persis sama dengan surplus yang ada di Tabel I.

Kiranya jelas bahwa caranya pemerintah menjelaskan kepada rakyatnya menyesatkan. Penyesatannya terletak di Tabel II, ketika dicantumkan bahwa minyak mentah itu seolah-olah dibeli betulan dari pasar internasional dengan harga US$ 120 per barrel, padahal minyak mentahnya tidak dibeli, melainkan disedot dari perut buminya sendiri.

APAKAH MINYAK MENTAH MILIK RAKYAT DIBERIKAN KEPADA RAKYATNYA DENGAN CUMA-CUMA DI TABEL I?

Sama sekali tidak. Rakyat disuruh membeli minyak mentahnya dengan harga Rp. 3.870. Harga ini dihitung dari harga bensin premium yang Rp. 4.500 dikurangi dengan biaya-biaya out of pocket expenses sebesar Rp. 630 per liternya. Seperti kita masih ingat, harga bensin premium di bulan April tahun 2005 Rp. 2.700 per liter yang dinaikkan menjadi Rp. 4.500 per liter untuk dijadikan ekivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 60 per barrelnya.

Jadi ketika itu, pemerintah sudah tidak terima atau tidak rela membebani rakyat yang pemilik minyak itu dengan harga (Rp. 2.700 – Rp. 630) = Rp. 2.070. Dengan mencuci otak rakyatnya sendiri seolah-olah minyak mentahnya harus dibeli tunai dengan harga US$ 60 per barrel, maka harga dinaikkan menjadi Rp. 4.500. Sekarang karena harga minyak mentah sudah lebih dari US$ 130 per barrel, pemerintah tidak rela dan tidak terima lagi. Ingin menaikkannya dengan 30% dahulu, tetapi sudah buka suara akan menaikkan lagi di bulan September – Oktober sampai sama dengan harga minyak dunia, seperti yang dinyatakan oleh Menko Boediono di Kompas tanggal 17 Mei 2008. Edan!!

SEKEDAR TEORI TENTANG HARGA POKOK DAN RUGI/LABA

Apakah ada teorinya yang mengatakan bahwa harga pokok barang dagangan yang baru dijual harus sama dengan harga beli dari barang dagangan yang bersangkutan pada saat barang dagangannya dijual, yang dinamakan replacement value?

Penjelasannya begini : ada dua orang pedagang paku (A dan B) yang modalnya masing-masing Rp. 100.000. Harga beli paku Rp. 10.000 per kg. Pakunya dijual habis dengan harga Rp. 15.000 per kg. atau hasil penjualan seluruhnya Rp. 150.000. Harga pokoknya berapa, dan karena itu labanya berapa?

A mengatakan harga pokoknya Rp. 100.000 dan labanya Rp. 50.000. Ketika ditanya mengapa begitu? Dia menjawab : “karena laba yang Rp. 50.000 bisa saya habiskan untuk konsumsi, dan modal uang saya tetap utuh sebesar Rp. 100.000

B mengatakan : “laba saya hanya Rp. 30.000, karena ketika saya mau membeli lagi mengisi stok paku sebanyak 10 kg. harganya sudah naik menjadi Rp. 12.000, sehingga untuk mempertahankan stok yang 10 kg. itu saya harus mengeluarkan uang Rp. 120.000. Maka yang bisa saya konsumsi habis tanpa mengurangi stok paku saya hanyalah Rp. 30.000, bukan Rp. 50.000.

A ingin mempertahankan modal uangnya sebesar Rp. 100.000. B ingin mempertahankan modal barangnya berupa 10 kg. paku dalam alam inflasi.

Pemerintah menganut faham si B. Apakah benar pemerintah harus berpikir dan berperilaku demikian kepada rakyatnya sendiri? Dan apakah benar kalau diterapkan pada minyak mentah yang tidak dapat diperbaraui (non renewable commodity).

Bagaimana menjelaskannya dan di mana terletak tipuan atau penyesatan pemerintah kepada bangsanya sendiri? Ikuti artikel berikutnya.