Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2009

aku belajar bahwa membenci dan menolak sebagian dari diriku sendiri akan sama saja arti dan maknanya dengan mengutuk diriku sendiri, untuk tidak pernah berdamai dengan diriku sendiri……,

aku benar-benar belajar untuk dapat menerima diriku seutuhnya, apa adanya secara total dan tanpa syarat……….

itulah diriku pada kenyataan yang nyata…….aku terima diriku sebagaimana adanya dia

coba balikkan punggungmu..dan lihatlah jalan yang engkau tempuh selama ini

(petikan kecil dari makalah panjang cokronagoro, aku dikasih oleh mas haryanto 20/01/09..judul aku buat sendiri)

Iklan

Read Full Post »


oleh :
Hariqo wibawa satria – Riqo WS
(Dir. Eksekutif PSPN)

ABSTRAKSI
Anak itu..Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpimu (K.Gibran).

Ilmu tentang manusia yang diistilahkan para ahli dengan antropologi terbagi dua. Apabila kita memandang manusia dari segi jasmaniahnya, maka kita akan memasuki lapangan antropologi fisik. Tetapi jika kita memandang dari segi rohaniyahnya, kita memasuki medan antropologi kebudayaan atau dipendekkan dengan antropologi budaya.
Sebagi contoh, mengenai ruh. ”Apa yang kita pahami tentang ruh?”. Sekalipun ilmu pengetahuan telah melonjak tinggi ke ruang angkasa luar dan menghujam kapitala bumi, namun sedikit sekali pengetahuan kita tentang ruh, belum lagi mengenai jiwa. Sebab itulah pengetahuan manusia dibagi dalam tiga hal. Pengetahuan inderawi, pengetahuan ilmu, pengetahuan filsafat.
Oleh karena itu, untuk memahami fenomena Anak Gifted (anak berbakat khusus), pengetahuan inderawi saja tidak cukup untuk memahaminya. Untuk memahami gula saja indera senantiasa berbeda (misal : mata mengatakan gula itu putih, sedangkan lidah mengatakan gula itu manis, lalu mana yang benar, Apakah keduanya benar?, bukankah kebenaran itu hanya satu?).
Maka dibutuhkan pengetahuan ilmu untuk memahami ”Anak Gifted”. Pengetahuan ilmu lahir dari cara berfikir yang sistematis dan radikal, disertai riset dan eksperimen yang memadai. Hasil berfikir dengan metode-metode inilah yang membentuk pengetahuan ilmu. Selanjutnya pengetahuan tersebut dikaji lagi secara lebih dalam, untuk kemudian di sinergiskan dengan ilmu pendidikan, hukum, psikologi, budaya,dll, sehingga melahirkan pengetahuan filsafat. Pengetahuan filsafat inilah yang menjadi menjadi payung ilmiah sebuah tindakan.
Kebanyakan dari masyarakat kita, baru telinga mereka saja yang mendengar istilah ”Anak Gifted”. Tahapan ini disebut pengetahuan inderawi. Sehingga sering terdengar ungkapan ”kalo istilah itu saya pernah dengar, tapi ga tahu maksudnya apa?”. Disinilah peran Negara harus ditunjukan di tengah masih lemahnya budaya membaca di masyarakat apalagi searching informasi di internet. Sebab itu, dibutuhkan sebuah media belajar bersama agar masyarakat memahami tentang anak Gifted. Selanjutkan akan kami jelaskan secara terbatas mengenai beberapa hal tentang anak Gifted.

SEJARAH DAN PENGERTIAN ANAK GIFTED
(penulis merangkum data dibawah dari berbagai sumber, dan untuk lebih mendapatkan solusi yang lebuh terang, YABM bersama PSPN dan Dinas Pendidikan DIY telah melaksanakan Seminar bersama para pakar-pakar untuk merumuskan media belajar bersama bagi anak berbakat khusus (gifted) pada 10 januari 2008 di Auditorium Dinas Pendidikan DIY)

Anak gifted diartikan sebagai anak berbakat khusus. Istilah mengenai gifted atau berbakat ini memang sudah sering kita dengar, hanya saja klasifikasi atau kategori dari seorang anak yang dapat dikatakan sebagai anak gifted ini yang perlu kita cermati lebih mendalam.
Di tataran publik istilah gifted pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton pada tahun 1869. Gifted dalam pengertian yang diperkenalkan oleh Galton pada masa itu merujuk pada suatu bakat istimewa yang tidak lazim dimiliki oleh manusia biasa yang ditunjukkan oleh seorang individu dewasa. Titik tekan konsepsi keberbakatan istimewa menurut Galton ada pada berbagai bidang. Ia memberi contoh seperti ahli kimia Madame Curie sebagai gifted chemist (ahli kimia dengan bakat luar biasa atau istimewa).
Menurut Galton keberbakatan istimewa ini adalah sesuatu yang sifatnya diwariskan. Artinya keberbakatan istimewa adalah sesuatu potensi yang menurun (genetically herediter). Anak-anak yang menunjukkan suatu bentuk bakat yang istimewa ini kemudian lazim disebut sebagai gifted children.
Keberbakatan yang berdasarkan sekolah biasanya melihat kemampuan relative. Anak diidentifikasikan berdasarkan penampilannya membandingkan dengan teman sekelasnya. Anak dengan ranking 5-10% ditingkat atas memerlukan kurikulum yang lebih menantang dibandingkan dengan kurikulum regular. Definisi keberbakatan secara ini akan membingungkan orangtua, karena anak yang berbakat, ternyata disekolah lain dinyatakan tidak berbakat.
Hollingworth mendefinisikan keberbakatan sebagai potensi anak yang harus digali sehingga saat dewasa akan lebih berkembang. Linda Silverman menambahkan bahwa pada anak berbakat didapatkan perkembangan yang tidak sinkron. Jadi tidak hanya IQ dan kemampuan, tapi juga emosi dan hipersensitifitas.
Perkembangan yang tidak sinkron dimaksud adalah perkembangan intelektual, fisik dan emosi tidak berjalan dengan kecepatan yang sama. Kemampuan intelektual selalu berkembang lebih cepat. Dengan adanya perkembangan yang tidak sinkron ini diperlukan modifikasi dalam hal pengasuhan baik oleh orangtua, guru maupun konselor agar anak dapat berkembang optimal.

BATASAN TENTANG ISTILAH
KEBERBAKATAN ISTIMEWA (GIFTEDNESS)

Sampai saat ini tidak ada batasan tunggal yang merepresentasikan arti istilah gifted. Halmana karena memang tidaklah mudah untuk memberi batasan atas suatu fenomena yang kompleks seperti giftedness ini. Orang tua, guru, masyarakat, ahli, dan praktisi (khususnya di bidang psikologi dan pendidikan) pun juga memiliki beragam pemahaman atas apa yang dimaksud dengan keberbakatan istimewa (giftedness). Guna mempermudah pemahaman tentang makna istilah keberbakatan istimewa, berikut diuraikan secara singkat sejarah dan sudut pandang para ahli yang secara khusus melakukan studi dan penelitian tentang keberbakatan istimewa beserta ciri-cirinya

CIRI-CIRI ANAK Gifted

Anak-anak ini memiliki komitmen terhadap tugas yang sangat tinggi, mereka memiliki orientasi dan tanggung jawab yang jelas terhadap tugas yang diberikan. Cara lain yang dapat digunakan orang tua dalam mengidentifikasi anak gifted, yakni saat berusia antara 4 sampai 8 tahun. Selain itu juga terdapat beberapa karakteristik tertentu yang dapat diamati saat anak berada di rumah (Smutny, 1999):

1. Menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap banyak hal
2. Memiliki perbendaharaan kata yang banyak dan menggunakan kalimat lengkap saat berkomunikasi
3. Memiliki sense of humor dan berpikir dengan cerdas
4. Menyelesaikan masalah dengan cara yang unik atau tidak biasa
5. Memiliki ingatan yang bagus
6. Menunjukkan bakat yang menonjol dalam seni, musik atau drama
7. Menunjukkan imajinasi yang orisinil
8. Bekerja secara mandiri dan berinisiatif
9. Memiliki minat dalam membaca
10. Memiliki perhatian yang menetap atau keinginan yang menetap dalam tugas yang dikerjakan
11. Merupakan anak yang dapat belajar dengan cepat.

Sedangkan dari hasil-hasil penelitian yang dilakukannya, Renzulli dkk menarik kesimpulan bahwa yang menentukan keberbakatan seseorang pada hakikatnya adalah tiga kelompok ciri-ciri sebagai berikut :

1. Kemampuan di atas rata-rata
2. Kreativitas tinggi
3. Pengikatan diri atau tanggung jawab terhadap tugas (task commitment)

Keberbakatan itu sendiri sangatlah kompleks, bukan hanya ditentukan oleh Nilai IQ-nya saja, akan tetapi merupakan faktor multidimensi dan dinamis (van Tiel). Carpenter (2001) & Lyth (2003), Membagi anak berbakat atas: (I). Ringan (mild) IQ = 115-129; (II). Sedang (moderate) IQ = 130-144; (III). Tinggi (high) IQ = 145-159; (IV). Kekecualian (exceptional ) IQ = 160-179; (V). Amat sangat (Profound) IQ = 180 +.
IQ normal berkisar antara 85-115, dengan normal absolute 100. Makin besar jaraknya dari nilai normal, makin membutuhkan modifikasi sarana pendidikan Terdapat 3 kelompok anak berbakat:

1. Berbakat global: yaitu anak berbakat pada semua atau hampir semua area; biasanya matematika dan verbal;

2. Berbakat matematika: anak dengan kemampuan matematika yang tinggi. Anak ini akan baik dibidang spasial, sebab-sebab nonverbal, daya ingat;

3. Berbakat verbal: anak dengan kemampuan bahasa yang kuat. Anak ini mampu berbahasa yang lebih bila dibandingkan dengan anak seusianya. Penampilan verbalnya lebih baik.

Umumnya pada anak berbakat, prestasi belajarnya juga tinggi. Tapi dapat pula ditemukan anak berbakat yang prestasinyanya tidak optimal bahkan sering kali bermasalah. Prestasi yang kurang ini sering dianggap karena faktor motivasi dan psikologis. Anak sering dianggap malas dan tidak bersungguh sungguh, dan sering kali orangtua disalahkan karena tidak menerapkan disiplin. Banyak penelitian menyebutkan, diantara anak berbakat tidak berprestasi karena mengalami kesulitan yang terselubung (Silverman 2002).
Anak berbakat, walau dengan atau tanpa berada dikelas akselerasi, tetapi mempunyai potensi untuk berkembang. Mereka termotivasi secara internal. Dengan adanya minat /ketertarikan dan kesempatan, anak akan termotivasi. Jadi bila anak tertarik akan sesuatu dan terdapat kesempatan atau tantangan yang sesuai, maka dia akan dapat berprestasi (Brody 1997).
Terdapat juga beberapa bakat lainnya, yaitu :Bakat kognitif: sangat memperhatikan; penuh keingin tahuan; sangat tertarik; atensinya panjang, kemampuan untuk mengetahui alasan (reasoning) sangat baik; perkembangan tentang abstraksi, konseptual dan sintemasis baik; dengan mudah dan cepat dapat melihat adanya hubungan antara ide, objek dan fakta; proses berpikirnya cepat dan fleksibel. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah (problem solving) nya sangat baik; belajarnya cepat, dengan sedikit praktek dan pengulangan.
Bakat sosial dan emosional: tertarik dengan hal-hal philosofi dan sosial; sangat sensitive dan emosional; sangat memperhatikan kejujuran dan keadilan; perfeksionis; energic; rasa humornya berkembang baik; umumnya termotivasi dari dalam dirinya sendiri; hubungan baik dengan orangtua, guru dan orang dewasa lain.
Bakat bahasa: perbendaharaan katanya sangat banyak; dapat membaca pada usia sangat dini, membacanya cepat dan sangat luas; sering bertanya tentang “bagaimana kalau”. Bakat yang lain: senang mempelajari sesuatu yang baru; menyenangi aktifitas intelektual; malakukan permainan intelektual; lebih memilih buku bacaan untuk anak yang lebih besar; skeptis, kritis dan penuh evaluative, perkembangannya asinkron (Bainbridge).
Menurut Bainbridge, anak berbakat sudah dapat terlihat sejak masak kanak, dimana anak menunjukan ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pada usia dini tidak nyaman menghadapi hal yang sama (rutin) dengan waktu yang lama;
2. Sangat siaga (alert);
3. Tidurnya sedikit;
4. Tahapan tumbuh kembang untuk berjalan dan mengucapkan satu kata lebih cepat disbanding anak seusia;
5. Dapat ditemukan keterlambatan bicara, tapi kemudian bicara dengan kalimat penuh;
6. Mempunyai keinginan kuat untuk eksplorasi, investigasi, lingkungan;
7. Sangat aktif dan bertujuan;
8. Dapat membedakan antara fantasi dan realitas.

DIMANA PERMASALAHANNYA

Kondisi atau keadaan yang dialami oleh anak gifted ini merupakan suatu keadaan yang membanggakan dan diidamkan bagi para orang tua. Namun hanya sebagian kecil orang tua yang mampu memahi potensi tersebut. Dalam banyak kasus justru muncul kendala yang dihadapi oleh anak gifted, yakni berupa permasalahan:

1. Anak gifted biasanya memiliki problem dalam membina hubungan dengan teman. Karena kecerdasannya yang tinggi dan kemampuan berpikir yang bagus, sehingga tidak jarang teman sebayanya mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan mengimbangi pembicaraan dengan anak ini

2. Kurang dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya, karena mereka cenderung mandiri dan sulit untuk merasa nyaman dengan keadaan yang ada

3. Mereka memiliki standart yang tinggi terhadap suatu pekerjaan, sehingga terkadang tidak disukai teman-temannya.

Anak berbakat dapat pula mengalami gangguan belajar. Kelompok ini dibagi atas 3 subgroups yaitu:

1. Anak telah teridentifikasi sebagai berbakat tapi kesulitan disekolah. Anak ini pencapaiannya dibawah kemampuannya, kadang adanya kesulitan belajar tidak terdiagnosa, sampai sekolah memberikan tambahan stimulus, sehingga kesulitan dibidang akademik terlihat dia berada dibawah kemampuan seusianya;
2. Anak dengan kesulitan belajar yang berat, sehingga adanya kemampuan bakat tidak pernah dikenali. Baum 1985 menemukan 33% anak dengan kesulitan belajar mempunyai kemampuan intelektual yang superior. Anak2 ini tidak pernah mendapatkan program untuk anak berbakat;
3. Anak dengan kemampuan dan kesulitan belajar yang saling menutupi secara tumpang tindih. Anak ini berada dikelas regular, dan kemampuannya pada tingkat rata-rata (Brody 1997).

Dari permasalahan sosial yang telah dijelaskan, secara tidak langsung pasti akan berpengaruh terhadap perkembangan emosinya. Anak akan merasa ditolak oleh lingkungannya, sulit bergaul dan kemudian menarik diri, bahkan frustasi dengan keadaan yang mereka alami. Karena ada perbedaan yang cukup jauh antara keadaan di sekeliling dengan kemampuannya yang jauh lebih tinggi dibanding anak lain seusianya.Sementara itu memperjuangkan pendidikan anak-anak dengan kecerdasan istimewa (gifted children) bukanlah hal mudah. Hal ini karena:

1. Berbagai komponen baik masyarakat, orang tua, dan pihak sekolah masih tidak memahami apa yang disebut anak cerdas istimewa (gifted children).

2. Pendidikan anak cerdas istimewa (gifted children) saat ini yang dikenal di Indonesia hanyalah kelas akselerasi, padahal sementara itu pendidikan model ini secara ilmiah sudah tidak disarankan lagi, karena terbukti justru tidak memperhatikan faktor kreativitas berpikir serta perkembangan sosial emosional seorang anak cerdas istimewa.

3. Karakteristik personalitas dan pola tumbuh kembang alamiah seorang anak cerdas istimewa masih tidak dipahami secara luas, sehingga berbagai kesulitan perkembangan seorang anak gifted tidak pernah dikenal oleh pihak-pihak yang seharusnya menyantuninya, terutama pihak sekolah. Sehingga anak-anak cerdas istimewa justru tidak diterima oleh institusi pendidikan karena dianggap sebagai anak bermasalah. Sekalipun itu adalah kelas akselerasi.

4. Dengan begitu kelas akselerasi pada akhirnya sebagai kelas anak cerdas istimewa tanpa murid cerdas istimewa, umumnya berisi anak cerdas normal yang mempunyai gaya belajar yang cocok dengan program yang ditekankan, yaitu pemampatan materi. Sementara itu anak-anak cerdas istimewa adalah seorang anak yang sangat mandiri, didaktif, kreatif berpikir analisis, tidak dapat ditekan apalagi dilakukan drilling harus cepat-cepet selesai.

5. Tidak pernah disadari bahwa semakin tinggi kecerdasan seorang anak ia akan mempunyai cara berpikir (cognitive style) yang berbeda dengan anak-anak normal sehingga ia membutuhkan ruang gerak leluasa untuk mengembangkan apa yang menjadi minatnya. Ia membutuhkan pendidikan bersama teman-teman sebayanya dalam kelas-kelas sekolah normal, dengan perhatian ektra ke dua arah yaitu kecerdasannya yang istimewa dan juga berbagai kesulitan tumbuh kembangnya. Bentuk kelas seperti ini yang kemudian disebut sebagai kelas-kelas inklusi.

6. Semakin tinggi inteligensia seorang anak, minatnya menjadi semakin sempit pada bidang-bidang khusus.

Maka, Identifikasi lebih awal terhadap anak gifted sangat disarankan karena anak-anak ini memerlukan penanganan atau intervensi sedini mungkin, agar tidak menghambat perkembangannya terutama dalam aspek sosial dan emosi. Orangtua diharapkan mengkomunikasikan hal ini dengan guru sekolahnya, atau dapat berkonsultasi langsung dengan para pakar pendidikan atau Psikolog.
Karena secara global pengasuhan dan pendidikan anak-anak masa kini cenderung semakin rumit, menuntut guru semakin professional dan menuntut orang tua untuk semakin turut berperan serta. Bukan itu saja, adanya pemeriksaan tumbuh kembang yang semakin teliti, menjadikan munculnya banyak kelompok anak-anak dengan keunikannya masing-masing yang kemudian disebut sebagai anak berkebutuhan khusus, termasuk di dalamnya adalah anak berbakat (gifted children) yang mengalami masalah perkembangan atau disinkronitas perkembangan (yang kami beri istilah Gifted Disinkroni), misalnya mengalami
keterlambatan bicara, masalah sosial emosional, dan sebagainya.
Konsep gifted kini juga semakin berubah dari single konsep bahwa gifted adalah perkembangan kognitif semata, menjadi konsep multidimensional dan dinamis, karena menyangkut bukan hanya perkembangan kognitif saja tetapi juga karakteristik personalitasnya, tumbuh kembangnya, dan lingkungannya. Karena itu kini semakin diketahui bahwa ternyata anak-anak gifted ini memiliki berbagai masalah dalam kehidupannya, yang belum banyak kita kenal. Tak heran jika kini banyak anak-anak gifted balita mendapatkan kekeliruan diagnosa seperti autisme atau ADHD, maupun gangguan belajar (learning disabilities).
Situasi ini mendorong orang tua, guru, dan berbagai profesi lainnya (orthopedagog, psikolog, dokter) untuk lebih mempelajari berbagai bentuk ini serta strategi pendekatannya. Orang tua dituntut dalam rangka pengasuhannya di rumah dan membantu pendidikannya di sekolah,guru dituntut memberikan metoda pengajaran yang cocok, pihak profesi lainnya dituntut memberikan arahan bimbingan dan saran, serta pengambil keputusan dan pemegang kebijaksaan pendidikan di tingkat pemerintahan pun dituntut untuk senantiasa memperbaharui strategi pendidikan nasional

Read Full Post »